Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Merayakan Hari ANZAC dengan mengenang kehadiran Amerika di Tonga

Tentara Tonga pada era perang dunia kedua: Joseph Vailima, Manoel Santos, Aleki Leger. - RNZI/ John Santos
Merayakan Hari ANZAC dengan mengenang kehadiran Amerika di Tonga 1 i Papua
Tentara Tonga pada era perang dunia kedua: Joseph Vailima, Manoel Santos, Aleki Leger. – RNZI/ John Santos

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Menyusul perayaan Hari ANZAC pada Sabtu (25/4/2020), Kaniva News mengenang kembali invasi Amerika di Tonga.

Penjajahan Jepang di Pasifik tidak pernah sampai di Tonga, tetapi kerajaan ini masih harus menghadapi invasi dari negara lainnya.

Merayakan Hari ANZAC dengan mengenang kehadiran Amerika di Tonga 2 i Papua

Pada Mei 1942, setelah tiga tahun berperang, 7.800 prajurit AD dan 862 dari AL, merapat di pelabuhan di Nuku’alofa.

Sebelum Amerika sampai, Ratu Sālote Tupou III telah dengan menyatakan dukungan tegasnya atas upaya Inggris melawan Nazi Jerman, meskipun ia sendiri juga mengecam apa yang dia anggap sebagai campur tangan Inggris dalam urusan Kerajaan Tonga.

Seperti yang dilaporkan Kaniva News awal tahun ini, Tonga mengumpulkan dana cukup untuk membeli tiga pesawat tempur pemburu pengintai Spitfire untuk Angkatan Udara (RAF).

Ratu Salote lalu menjatahkan sepetak tanah untuk digunakan sebagai lapangan terbang dan mendirikan Angkatan Bersenjata Tonga, pasukan tentara Tonga yang nantinya akan berperang melawan Jepang dalam peperangan di Kepulauan Solomon.

Loading...
;

Militer Amerika lalu memutuskan untuk mendirikan pangkalannya di Tonga, sebagai bagian dari rangkaian pertahanan sekutu di Pasifik agar dapat menjaga jalur pengadaan stok pasokan ke Australia dan Selandia Baru tetap terbuka.

Menurut pakar sejarah Amerika, Charles Weeks, yang sempat mengajar di Institut ‘Atenisi sebagai karyawan sukarela Peace Corps, pasukan militer AS berencana untuk mendirikan pangkalan angaktan darat dan laut yang akan cukup kuat untuk menghadapi invasi Jepang di Tonga.

Tetapi seperti yang diungkapkan Weeks, baik militer Amerika, Inggris, maupun Selandia Baru, tidak ada yang menerangkan atau membahas rencana itu dengan Yang Mulia Ratu Sālote.

Panglima Amerika, Jenderal Lockwood, sangat santun, setidaknya pada tahap-tahap awal, terhadap orang-orang lokal. Semua pasukan AS diperingatkan untuk hanya membeli buah di pasar milik pemerintah, jangan memetik buah atau sayuran sebatangan karena semuanya adalah milik pribadi, jangan menangkap atau melukai kalong (kelelawar) karena hewan itu tidak berbahaya dan dianggap suci oleh penduduk asli Tonga. Mereka juga diminta untuk sopan kepada penduduk asli Tonga, menghormati dan menjauhi diri daerah pekuburan, jika berekreasi pada Minggu untuk pergi sejauh mungkin dari gereja-gereja, orang-orang Tonga tidak bisa diundang untuk ke luar pada Minggu, lapangan golf juga tutup pada Minggu, serta jalan dan berkendara di sebelah kiri jalan.

Meski Ratu Sālote menerima keberadaan Amerika di kerajaannya dan memastikan bunga-bunga segar diletakkan di kuburan para prajurit AS yang tewas dalam Pertempuran Coral Sea, ia menjaga jarak dari pasukan itu dan umumnya hanya berkomunikasi dengan Panglima Lockwood atau melalui pejabat konsular Inggris.

Ratu Sālote menginstruksikan warganya, terutama perempuan yang masih muda, untuk pindah ke daerah pedalaman atau ke pulau-pulau terluar Kerajaan Tonga, jauh dari pengaruh orang-orang Amerika.

Laporan resmi dari orang-orang Amerika di Tonga menggambarkan Ratu Sālote sebagai “perempuan hebat yang telah mendirikan pemerintahan di Tonga yang diakui hampir semua orang sebagai bijaksana dan produktif.”

Perwira angkatan laut Amerika diperintahkan oleh atasan mereka untuk selalu mengenakan seragam resmi saat menghadiri acara-acara resmi. Ini berbeda jauh dengan perilaku sejumlah tentara Selandia Baru yang menolak untuk memberikan hormat kepada tentara Tonga.

Orang-orang Amerika itu juga banyak menhabiskan uang. Selandia Baru, dengan menggunakan tenaga kerja Tonga, telah menyelesaikan 80% pembangunan Bandara Fua’amotu dengan biaya sekitar AS$ 56.000. Ketika Amerika tiba, mereka menghabiskan AS$ 498.000 untuk menyelesaikan 20% yang belum selesai.

Pengeluaran orang-orang Amerika yang cenderung menghambur-hamburkan uang memengaruhi perekonomian Tonga. Saat membeli kelapa dan pisang, orang-orang Amerika bersedia membayar harga yang mahal, menyebabkan Tonga tidak bisa mengekspor dua komoditas itu. Pada saat yang bersamaan, tentara-tentara Amerika juga menggunakan uangnya dengan bebas sehingga barang-barang konsumen mulai habis dengan cepat di toko-toko.

Harga suvenir, termasuk tikar dan rok tenun, dijual 400% di atas harga normal. Saking banyaknya pemasukan yang bisa didapatkan dari berdagang dengan orang Amerika sampai ada orang-orang Tonga yang berhenti menggarap tanah mereka dan mulai membuat pernak-pernik suvenir.

Pada akhir 1942, pasukan AS telah mencapai di wilayah yang pada saat itu adalah Protektorat Inggris Kepulauan Solomon dan pasukan Australia telah memenangkan perang pertama di daratan melawan Jepang di Papua Nugini, di Kokoda Track dan di Milne Bay.

Kegunaan pangkalan Amerika di Tonga berkurang, dan pasukannya mulai dikerahkan ke daerah-daerah lainnya di Pasifik. Lokasi yang awalnya dilihat sebagai pangkalan strategis berubah menjadi fasilitas tersisih, dimana tentara yang tinggal mulai terkena penyakit yang disebut militer AS sebagai ‘bush fever’.

Pada Januari 1943, dua laki-laki Tonga dibunuh, agaknya karena keterlibatan mereka dalam usaha penjarahan tentara AS dari artileri pesiri Coast Artillery ke-77.

Sebagian besar pasukan Amerika itu buta huruf dan ada segregasi bagi anggota militer berkulit hitam. Ketika kedisiplinan mulai berikut, berbagai persoalan mulai timbul, termasuk pekerja sesks, penyakit kelamin, kekerasan seksual, dan pencurian.

Tentara AS mulai berbagi atap yang sama dengan perempuan-perempuan Tonga, ini membuat keluarga perempuan-perempuan itu cemas dan mereka dianggap memalukan desa mereka. Yang lain membagi-bagikan barang-barang dari depot militer dan mengkhawatirkan masyarakat Tonga yang konservatif.

Kehadiran Amerika di Tonga memperkenalkan kerajaan yang terisolasi itu pada banyak ide-ide dan tingkah laku yang baru, banyak diantaranya sangat berbeda dengan tradisi masyarakat kepulauan.

Walaupun Tonga pasti tenang karena tidak diserang oleh Jepang, mereka mungkin juga mengembuskan napas lega ketika pasukan Amerika akhirnya pergi.

Peringatan Hari ANZAC 2020 berbeda

Peringatan Hari Anzac di Nuku’alofa tahun ini lebih tertutup. Akibat keadaan darurat dan karantina wilayah, tidak akan ada perayaan publik.

Komisi Tinggi Selandia Baru di Tonga telah mengajak semua orang untuk mengheningkan cipta selama satu menit dari rumah- rumah, tepi jalan, kebun, atau tempat kerja mereka, pada pukul 7 pagi, Sabtu. (Kaniva Tonga)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top