Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Merayakan referendum Bougainville: Kisah sekelompok pengamat di Siwai

Membawa kotak suara . – Lowy Institute/ The Interpreter/ Kylie McKenna

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Kylie McKenna, Augusta Ariku, Emelda Ariku, Lieberth Sam, & Anthony Siniku

Bertumpuk di belakang truk bak terbuka yang penuh sesak – kendaraan yang dengan tepat dijuluki “Budak Jalan Tol” atau “Highway Slave”, meskipun secara resmi disebut sebagai Kendaraan Bermotor Umum – kami menempuh perjalanan selama sembilan jam melintasi jalan tidak rata, tidak diaspal, dan menyeberangi sungai tanpa jembatan ke Distrik Siwai untuk melakukan tugas sebagai pengamat dalam referendum Bougainville. Ini merupakan perjalanan yang menggambarkan tantangan logistik yang berat, dalam melaksanakan suatu pemungutan suara di wilayah pulau ini, sementara penduduk setempat mengambil keputusan atas masa depan hubungan politik mereka dengan Papua Nugini.

Distrik Siwai berada di wilayah Bougainville Selatan, dan sebagai kelompok pengamat, kami mewakili perguruan tinggi Divine Word University (DWU) di PNG – empat mahasiswa DWU asal Bougainville, semuanya berasal dari Siwai, dan satu anggota staf DWU dari Australia. Salah satu dari empat mahasiswa ini akan memberikan suara untuk pertama kalinya.

Referendum Bougainville adalah tonggak prestasi penting yang terkandung dalam penyelesaian masalah politik, Perjanjian Perdamaian Bougainville, yang berupaya merekonsiliasi konflik kekerasan yang terjadi dari 1988 sampai 1997. Para pemilih diminta untuk memutuskan antara otonomi yang lebih besar ‘Kotak 1’ atau merdeka ‘Kotak 2’. Pemungutan suara untuk referendum dibuka di pusat-pusat kota, yaitu Buka, Arawa, dan Buin pada 23 November, dan kemudian di sebagian besar daerah pedesaan sejak 25 November.

Bunga menghiasi TPS. – Lowy Institute/ The Interpreter/ Kylie McKenna

Sebelum referendum dimulai, ada suasana girang di Siwai – tetapi juga ketidakpastian. Kelompok kami pun bertanya-tanya bagaimana minggu tersebut akan berlalu. Kami memiliki kekhawatiran khusus terkait faksi-faksi Bougainville dan kemungkinan adanya upaya intimidasi atas pemilih, khususnya di Distrik Siwai, yang merupakan tanah kelahiran dari Noah Musingku yang menyebut dirinya Raja David Peii, pemimpin dari Papaala dan Meekeki. Selain kekhawatiran ini, kami tidak merasa bahwa pemungutan suara akan berubah menjadi keras.

Namun, saat itu kami juga tidak berharap bahwa suasana referendum di Siwai nantinya akan penuh sukaria. Sebagian besar tempat pemungutan suara telah dihias oleh masing-masing komunitas tuan rumah dengan dekorasi bunga yang berwarna-warni, beberapa dengan gerbang untuk dilewati oleh pemilih saat mereka berbaris untuk memilih. Ketika kami bertanya kepada salah satu kepala desa mengapa mereka menghiasi TPS dengan begitu banyak bunga, dia menjawab, “Kami ingin menunjukkan kepada pengamat bahwa kami memperlakukan referendum seperti milik kami sendiri.”

Loading...
;

Menggambarkan proses perdamaian Bougainville sebagai hasil capaian bersama, banyak tempat pemungutan suara juga memajang bendera PNG dan Bougainville dan memulai pemungutan suara dengan menyanyikan dua lagu kebangsaan.

Memulai referendum dengan sing sing kaur. – Lowy Institute/ The Interpreter/ Kylie McKenna

Semua tempat pemungutan suara yang kami kunjungi memulai pemilihan referendum dengan meniup sing sing kaur – instrumen musik dari pipa bambu – untuk prosesi penyambutan petugas pemungutan suara dan kotak suara. Ini biasanya diikuti dengan doa, ceramah singkat dari kepala desa, dan perkenalan dengan petugas pemungutan suara. Selama pemungutan suara, hiburan pun ada, dalam bentuk kelompok musik bambu, drum, dan kelompok-kelompok perempuan yang bernyanyi dan menari. Lagu-lagu khusus referendum juga telah ditulis dan dibawakan oleh kelompok paduan suara, dengan lirik seperti, “Di tempat pemungutan suara berkibar bendera berwarna-warni yang menunjukkan identitas Bougainville dan kekuatannya – ketika kami berbaris untuk memilih nasib masa depan Bougainville.”

Di setiap TPS, kami diberitahu bahwa pemilih sangat bersemangat untuk memberikan suara mereka sehingga mereka datang lebih awal sebelum petugas pemungutan suara datang (waktu pemungutan suara adalah dari pukul 8 pagi sampai 6 sore). Ini tidak biasanya terjadi dalam pemilihan umum di Bougainville. Seorang mantan pejuang yang memilih di salah satu stan menjelaskan, “kehadiran pemilih biasanya 30–40% untuk pemilihan Nasional dan ABG (Pemerintah Bougainville), tetapi untuk kali ini 100% pemilih hadir. Semua orang sudah memilih pagi ini.” Akhir dari pemilihan referendum ini ditandai dengan sebuah pesta dan para pemilih makan, bernyanyi, dan menari bersama-sama.

Sebagai pengamat, kami disambut dengan penuh keramahan dan kehormatan oleh semua petugas pemungutan suara dan pemilih. Orang-orang setempat, khususnya, senang melihat empat orang muda dari Bougainville terlibat secara formal dalam proses referendum di distrik kampung halaman mereka, Siwai. Yang lain berkomentar bahwa mereka bersyukur melihat ada pengamat internasional di luar TPS di pusat-pusat kota. Di beberapa stan, kami diberikan keranjang dan mata uang kerang tradisional sebagai tanda penyambutan untuk tinggal dengan damai bersama-sama masyarakat. Anggota masyarakat juga menawarkan untuk mengantar kami dari satu TPS ke TPS lainnya ketika kami tidak memiliki kendaraan.

Adalah suatu kepuasan untuk bisa menyaksikan referendum di Siwai yang lebih dari sekadar damai – itu adalah perayaan yang sejati atas suatu peristiwa bersejarah. (The Interpreter oleh Lowy Institute)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top