HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Merehabilitasi “anak-anak aibon” di Merauke (1)

Anak-anak yang kecanduan “lem aibon” – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Anak-anak yang kecanduan mengisap aroma lem kulit atau dikenal dengan ‘lem aibon’ menjadi problem serius di Tanah Papua. Di Kabupaten Merauke misalnya, diperkirakan sedikitnya ada 90 anak yang kecanduan. Pihak yang peduli dan pemerintah kabupaten berusaha menangani mereka.

Jubi menurunkan liputan khusus mengenai upaya merehabilitasi anak-anak tersebut agar tidak semakin kecanduan. Sebab ‘kecanduan aibon’ tidak hanya bisa berdampak kepada kesehatan, tetapi juga masa depan mereka.

Bagian awal tulisan akan dimuat edisi Senin ini dan sambungannya edisi berikutnya, Rabu. Selamat menikmati.

Jubi berkunjung ke rumah kontrakan Polikarpus Boli di Merauke. Dia adalah pendamping puluhan anak-anak usia Sekolah Dasar yang menyalahgunakan aroma lem kulit berwarna kuning yang dikenal sebagai “lem aibon” untuk dihirup.

Di rumah kontrakan tersebut terlihat lima anak duduk di ruang tamu. Dari pandangan sesaat mereka seperti tidak terurus dengan baik. Selain kurang mandi, juga pakaian yang mereka kenakan terlihat kumal.

Ada yang berambut gondrong tak terurus. Juga kondisi fisik mereka yang kurus. Setelah ditanyakan satu persatu dengan polos mereka mengaku sering mengisap “lem aibon”. “Lem aibon” diberikan sebagai nama untuk semua merek lem kulit mengacu kepada nama salah satu

Loading...
;

“Castol”.

Tidak ada di antara mereka yang mau menyebutkan berapa lama telah kecanduan kedua merek lem tersebut, meski Jubi telah berkali-kali menanyakan.

Dari lima anak hanya tiga orang yang mau melayani pertanyaan, seorang berusia 12 tahun dan dua lainnya 10 tahun. Sedangkan dua anak lainnya memilih diam.

Kelima anak ternyata pernah menjadi murid di salah satu SD negeri di Merauke, namun mereka telah berhenti tanpa mau menyebutkan penyebabnya.

Mereka mengatakan lebih memilih mencari kaleng-kaleng bekas dan besi tua untuk dijual kepada penadah. Uang hasil penjualan di antaranya digunakan untuk membeli lem di kios atau toko terdekat.“Biasanya kami bertiga atau berempat kumpul uang baru beli karena harganya mahal, lalu dibagi dengan mengisi ke kemasana botol Vit yang dipotong pendek,” kata anak yang berusia 12 tahun.

Harga lem Castol Rp13 ribu, sedangkan lem Fox kecil Rp10 ribu hingga yang besar Rp50 ribu. Lem yang telah dimasukan ke botol Vit disembunyikan ke balik baju, lalu dihirup sembunyi-sembunyi.

“Kadang kami duduk berkelompok dan isap, tetapi kadang juga sendiri-sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, sehari mereka bisa membeli lem sampai dua kali. Karena dihirup berulang kali menyebabkan lem cepat habis.

“Kalau beli pagi dan dihirup, siangnya sudah habis, kami kumpul uang lagi dan beli untuk dihirup hingga malam sebelum pulang ke rumah,” katanya.

Anak lainnya yang berusia 10 tahun juga mengatakan hal yang sama.

“Kami punya orangtua ada di sini (Merauke-red), mereka tidak tahu kalau kami sering menghirup lem aibon, hanya mendengar dari orang lain, begitu kami pulang ke rumah langsung dipukul dengan batang kayu,” katanya.

Mereka mengaku dengan menghirup lem mereka sering pusing. Bahkan kalau lemnya habis, ulu hati mereka terasa sakit sekali. Namun hanya sesaat, setelah itu mereka kembali membeli dan menghirupnya.

Mereka juga mengaku tidak tahu kapan akan berhenti menghirup lem aibon. Alasannya sudah lama sebagai pengguna sehingga menjadi ketagihan.

“Tidak tahu sampai kapan kami bisa berhenti Om, karena kalau jalan bersama teman-teman lain dan memegang uang, pasti larinya ke kios atau toko membeli lem,” kata anak 12 tahun kepada Jubi.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Merauke, Yohanes Samkakai – Jubi/Frans L Kobun

Polikarpus Boli sudah lebih lima tahun mendampingi anak-anak ketagihan lem aibon di Merauke. Kegiatan pendampingan merupakan program dari SMP/SMA Satu Atap Terintegrasi Wasur yang digagas Sergius Womsiwor.

Menurut Boli, pada 2019 terdata 90 anak di Merauke yang ketagihan menghirup lem aibon. Data tersebut berdasarkan laporan dari masyarakat ke sekolahnya.

“Sedangkan 2020 ini belum dilakukan pendataan, belum diketahui apakah ada penurunan atau penambahan,” ujarnya.

Boli menduga jumlah anak pengguna lem aibon jauh lebih banyak dari yang terdata, bahkan kemungkinan ratusan.

“Kami kesulitan mendata sekaligus mengetahui angka pasti berapa banyak pengguna lem aibon, data 90 orang itu didapatkan setelah saya menanyakan kepada mereka, juga melihat langsung di beberapa titik yang menjadi tempat mereka berkumpul untuk menghirup,” ujarnya.

Menurut Boli, butuh waktu lama untuk memutus mata rantai kebiasaan buruk anak-anak tersebut.

“Saya selalu menyampaikan saat kegiatan belajar-mengajar di sekolah yang dilakukan setiap sore,” ujarnya.

Selain memberikan penyadaran di sekolah, Boli juga mendatangi rumah anak-anak tersebut di sekitar Pintu Air, Kelurahan Maro untuk mensosialisasikan kepada orang tua mereka bahaya kebiasaan anak-anak mereka.

“Intinya saya menyampaikan dampak dari penggunaan lem akan merusak kesehatan, karena kedua merek lem itu tidak untuk dihirup manusia,” katanya.

Maraknya anak-anak di Merauke menghirup lem aibon membuat sejumlah warga yang peduli mendirikan Forum Peduli Penyalahgunaan Lem (FP2L) Merauke.

Wakil Ketua FP2L Merauke, Ana Mahuze, kepada Jubi mengatakan berdasarkan data yang dimiliki forumnya terdapat kurang-lebih 47 anak pengguna lem aibon di Merauke. (Bersambung edisi depan)

Editor: Syofiardi

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top