Follow our news chanel

Pendapatan pedagang beras di Merauke merosot

pedagang beras merauke papua
Aristan, pedagang beras di Merauke – Jubi/Frans L Kobun.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Merauke, Jubi – Belasan pedagang beras di pasar dekat terminal mobil jurusan Tanah Merah, Boven Digoel, Merauke duduk di los mereka menunggu pembeli pada Kamis, 2 Juli 2020.

Suasana tampak sepi meski pukul 10.00 WP. Sebelum pandemi virus korona juga menghantui Merauke biasanya waktu seperti itu sangat ramai pembeli. Tapi kini sungguh berbeda.

Seorang pedagang beras duduk di belakang jejeran karung berisi beras. Label harga terpajang di depan los agar memudahkan pembeli untuk memilih.

“Begini keadaan kami setiap hari di tengah pandemi Covid-19, hanya bisa duduk menunggu pembeli, mau bagaimana lagi, kita pasrah dengan kondisi yang terjadi,” kata Aristan, 30 tahun, salah seorang pedagang beras di kepada Jubi.

Dengan sepinya pembeli, kata Aristan, praktis pendapatan mengalami penurunan sangat drastis. Sehingga pengambilan beras dari tempat penggilingan yang biasa dilakukan seminggu sekali, tiga bulan terakhir hanya sekali sebulan.

Hal serupa disampaikan Mirna, 40 tahun, pedagang beras lainnya. Dampak wabah korona sangat terasa kepada usahanya. Sebelum korona, sebulan ia bisa mendapatkan Rp15 juta, namun tiga bulan terakhir hanya Rp2 juta hingga Rp3 juta.

Loading...
;

Meski sekarang pendapatan minim, ia terus berjualan beras karena sudah cukup lama melakoni sebagai sumber pendapatan keluarga.

Sedangkan Aristan bercerita sudah lima tahun menjadi pedagang beras. Awalnya ia berjualan di samping pagar tembok SMPN 2 Merauke. Karena di pinggir jalan, Pemerintah Kabupaten Merauke memindahkan ke lokasi sekarang.

Meski tidak terlalu ramai, selalu ada pembeli. Namun wabah korona membuat kondisi berbeda sejak Maret. Terminal sepi karena sopir-sopir yang biasa membawa penumpang ke Boven Digoel tidak lagi memarkir mobil mereka karena tidak ada penumpang.

“Padahal ketika terminal beroperasi pasti penumpang akan datang membeli beras dua sampai tiga karung sekaligus untuk dibawa ke Boven Digoel,” katanya.

Sebelum korona, kata Aristan, dalam sehari pembeli membeli sampai sepuluh karung isi 10 kg-15 kg. Namun kini hanya dua sampai tiga karung saja. Akibatnya pendapatan mengalami penurunan sangat drastis.

“Boleh dikata sekarang hidup dan bertahan dari modal karena minimnya pembeli, kami tak tahu sampai kapan bertahan dengan kondisi seperti ini,” ujarnya.

Ia biasa membeli beras dari sejumlah tempat penggilingan seperti Semangga, Tanah Miring, hingga Kurik. Dulu seminggu sekali memesan hingga dua ton, sekarang sudah tidak bisa lagi.

“Hitung-hitungan sebulan sekali baru memesan, utusan dari tempat penggilingan datang membawa beras baru transaksi pembayaran dilakukan, itu sudah  berlaku lama,” katanya.

Beras yang ia jual ada beberapa jenis, seperti ciliwung, pandan wangi, rojo lele, dan beras merah. Harganya pun bervariasi, paling mahal pandan wangi Rp10.000/kg dari tempat penggilingan dan dijual kembali Rp 13.000/kg. Sedangkan paling murah Rp8.000/kg.

Dia mengaku modal awal yang digunakan berbisnis beras Rp20 juta. Saat merintis pertama, usaha berjalan baik dan pendapatan juga lumayan bagus, karena pembeli banyak.

Aristan juga harus membeli karung untuk ukuran beras 10 kg, 15 kg, hingga 20 kg. Sekali beli mencapai 200 lembar. Selain itu menyiapkan mesin jahit untuk menjahit kembali bagian atas karung jika ada pembeli.

Dia juga sering membeli beras jatah Aparatur Sipil Negara (ASN), terutama guru yang sering datang menjual.

“Tiap bulan pasti ada yang datang menjual, beras tersebut jatah dari Bulog yang diterima ASN,” ujarnya.

Biasanya ASN datang sendiri menjual secara perorangan. Beras jatah dijual Rp7.000/kg. Ia akan menjual kembali dengan harga Rp8.000/kg.

“Kadang mereka menjual sampai 50 kilogram, saya tidak tahu jatah beras berapa bulan itu, intinya kalau mereka datang menawarkan tetap dibeli,” katanya.

Meski sekarang pendapatannya minim, namun ia mengaku tetap menggeluti pekerjaannya, karena menjadi sumber pendapatan keluarga untuk biaya hidup dan biaya sekolah anak.

“Anak saya dua orang, satu masih SD dan satu lagi SMP, mereka membutuhkan perhatian, karena itu meski sedikit dari pendapatan beras harus disisihkan dengan cara ditabung,” ujarnya.

Kepala Badan Urusan Logistik (Kabulog) Merauke Djabiruddin mengatakan pembelian beras dari petani melalui mitra dilakukan rutin setiap hari.

“Beras yang diantarkan mitra ke Bulog setiap hari berkisar 100 hingga 200 ton,” katanya.

Ia mengaku tak mencampuri harga beras di tingkat petani, karena itu urusan mitra.

“Kita hanya membayar beras ketika sudah masuk di gudang dengan harga Rp8.300 per kg,” katanya.

Setiap pembelian beras harus memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan, mulai dari kadar air, patahan, dan lain-lain. Pernah beras mitra dipulangkan untuk diperbaiki karena patahan hingga 30 persen.

Padahal, menurutnya, sesuai persyaratan patahan hanya 20 persen.

“Memang kami harus menjaga kualitas beras di mana sebelum masuk ke dalam gudang Bulog Merauke harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu,” ujarnya. (*)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top