Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Monyet ekor panjang di Gunung Mher Teluk Youtefa belum jadi hama

Monyet Ekor Panjang di Papua
Invasi strand di Pantai Hamadi, Kota Jayapura, Papua, April 1944. - Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Monyet ekor panjang di Gunung Mher di Teluk Youtefa, Kota Jayayapura, Papua, ada sejak jaman Perang Dunia II, dibawa para tentara sekutu pada 1944. Hewan ini hidup dan berkembang biak sejak lama, namun tidak menjadi hama bagi penduduk setempat.

“Kalau sampai sekarang belum ada pengaduan dari masyarakat soal gangguan dari populasi monyet ekor panjang di Gunung Mher ini. Kalau [menjadi] hama, misalnya memakan telur burung, sampai sekarang belum ada laporan,” kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam  (KSDA) Papua, Edward Sembiring, S. Hut., M. Si kepada Jubi di Kota Jayapura, Selasa (7/7/2020).

Dia menambahkan pihaknya pun belum melakukan pemantauan terhadap perkembangan dan populasi di wilayah tersebut.

Monyet ekor panjang di Gunung Mher Teluk Youtefa belum jadi hama 1 i Papua

Secara terpisah, tokoh masyarakat asal Injros, Frans Itaar mengatakan monyet ekor panjang pertama kali dibawa oleh tentara sekutu dalam Perang Dunia II, dan populasinya pun bertambah. Hanya saja Itaar tidak mengetahui sejauh mana kawasan monyet ekor panjang ini menjadi hama bagi petani, ataupun dampaknya terhadpa flora dan fauna di gunung Mher.

Jurnalis Jubi beberapa waktu mewawancarai salah seorang petani sayur di Jalan Baru, dekat lapangan Tembak menuju Pasar Youtefa. Petani itu mengaku kalau musim hujan biasanya monyet ekor panjang turun mencari makan. Beruntung monyet ekor panjang ini tidak suka memakan sayur, lebih suka singkong dan pisang.

“Mereka suka sekali makan pisang dan singkong,”kata Atoh,  seorang petani asal Tana Toraja. Ia menambahkan dirinyta tidak mengetahui dari mana asal usulnya monyet-monyet kecil berekor panjang ini di Gunung Mehr.

Baca juga: Banjir bandang Sentani, pengulangan dari abad silam

Loading...
;

Sejak kapan monyet ekor panjang ini tiba di Papua dan berbiak di Gunung Mehr? Jika menelisik kisah dan cerita warga kampung di Teluk Youtefa, kemunculan monyet ekor panjang di Gunung Mehr berbarengan dengan kedatangan para serdadu dari Sekutu Amerika Serikat di Papua pada masa Perang Dunia II.

Arnold Mampioper dalam bukunya berjudul “Jayapura Ketika Perang Pasifik” menyebutkan pada 19 April 1942 tentara Jepang masuk ke Teluk  Imbi, dan selanjutnya masuk ke Teluk Youtefa. Pada 1943 pasukan Jepang membangun pangkalan di Hollandia, guna mempersiapkan serangan ke Australia.

Selanjutnya pada 30 Maret -26 April 1944 tentara Sekutu melakukan invasive strand di Pantai Hamadi dengan pasukan infantri dan marinir serta kapal Armada ke-VII. Mereka ingin merebut Papua dari Jepang.

Di dekat Abe Pantai maupun di Teluk Youtefa terdapat markas tentara Jepang yang telah membangun jalan dari Abe ke Sentani. Jepang juga membangun lapangan terbang Sentani untuk pesawat tempur Kamikaze mereka.

Pertempuran di Teluk Youtefa banyak menyisakan banyak memori. Tugu invasie strand di Hamadi menjadi kisah heroik tentara Sekutu dalam pertempuran dari Pantai Hamadi menuju Teluk Youtefa, dan menghancurkan benteng pertahanan Jepang di Abe Pantai. Pemerintah Jepang juga membangun tugu peringatan bagi korban tentara Jepang dalam Perang Pasifik di Teluk Youtefa.

Bagian dari “warisan Perang Dunia II” itu adalah monyet ekor panjang, yang memiliki nama latin Macaca fascicularis. Mengutip Wikipedia.org, Macaca fascicularis adalah monyet asli Asia Tenggara namun sekarang tersebar di berbagai tempat di Asia. Dalam literatur-literatur lama, spesies ini acap disebut sebagai monyet ekor panjang (dari bahasa Inggrislong-tailed macaque), monyet pemakan kepiting (Ingg., crab-eating monkey), atau monyet saja.

Monyet ini sangat adaptif dan termasuk hewan liar yang mampu mengikuti perkembangan peradaban manusia. Selain menjadi hewan timangan atau pertunjukan, monyet ini juga digunakan dalam berbagai percobaan kedokteran. Di beberapa tempat, seperti halnya di SangehBali, monyet kra dianggap sebagai hewan yang dikeramatkan dan tidak boleh diganggu.

Monyet ekor panjang umum ditemukan di hutan-hutan pesisir (mangrovehutan pantai), dan hutan-hutan sepanjang sungai besar; di dekat perkampungan, kebun campuran, atau perkebunan; pada beberapa tempat hingga ketinggian 1.300 m dpl. Jenis ini sering membentuk kelompok hingga 20-30 ekor banyaknya; dengan 2-4 jantan dewasa dan selebihnya betina dan anak-anak. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top