Follow our news chanel

Previous
Next

MP Samoa desak pemerintah longgarkan pembatasan

Anggota Parlemen dari Lotofaga, Fiame Naomi Mata’afa. - Samoa Observer/ Vaitogi A. Matafeo

Papua No.1 News Portal | Jubi

Apia, Jubi – Mantan Wakil Perdana Menteri Samoa, Fiame Naomi Mata’afa angkat bicara menentang dampak ekonomi dari pembatasan kedaruratan yang diberlakukan pemerintah dan menuduh Kabinet negara itu bertindak bagaikan ‘teolog’ dan bukan untuk kepentingan nasional.

Ketika diwawancarai Samoa Observer, Anggota Parlemen (MP) dari Lotofaga itu menerangkan bahwa menurutnya, ketika berdiskusi, Kabinet Samoa lebih terdengar seperti ‘teolog’, bukan Anggota Parlemen, dan itu membuatnya tidak nyaman.

“Saya juga orang Kristen tetapi saya pasti merasa tidak nyaman ketika kepercayaan saya dibawa-bawa sebagai faktor politik,” katanya. “Kalian pasti tidak akan merasa seperti kalian sedang duduk di meja Kabinet, tetapi di meja para teolog. Saya harus jujur bahwa saya sangat tidak nyaman di Parlemen karena MP-MP selalu mengutip dari Alkitab.”

Salah satu diskusi di lantai Kabinet, ungkapnya, membahas tentang ucapan syukur kepada Tuhan.

“Ini seolah-olah kita melakukan hal itu karena Tuhan telah menyelamatkan Samoa dari Covid-19, jadi kita harus menunjukkan ucapan syukur kita dan menguduskan hari Sabat,” katanya. “Tanggapan saya adalah, apakah ini pertama kalinya Tuhan menyelamatkan Samoa? Apakah kita tidak tahu bahwa Tuhan menjaga Samoa sebelum Covid-19?”

Mengacu pada anggota Demokrat Kongres Amerika, Alexandria Ocasio-Cortez, yang awal tahun ini mengecam kaum konservatif yang menggunakan agama mereka untuk membenarkan sikap bigot dan diskriminasi mereka, Fiame menegaskan dia tidak nyaman dengan cara agama digunakan dalam politik Samoa.

Loading...
;

Samoa telah memberlakukan keadaan darurat sejak akhir Maret, dan meskipun tidak ada kasus positif Covid-19 yang dilaporkan hingga saat ini, negara itu masih mempertahankan pembatasan yang cukup ketat, termasuk pada retail, horeka (hotel, restoran, kafe) dan perdagangan.

Termasuk dalam pembatasan tersebut adalah sejumlah peraturan yang membatasi aktivitas pada hari Minggu, termasuk melarang semua usaha, supermarket dan toko, bar, restoran, dan hotel dari beroperasi dengan membatasi jam operasinya.

Tidak ada lagi feri yang melayani pada hari Minggu, dan berenang di pantai atau di sungai sekarang ilegal, beberapa orang yang tertangkap basah telah dikenakan denda karena melanggar peraturan ini.

Fiame menegaskan bahwa dia mencoba menggunakan posisinya di Kabinet untuk menyuarakan keprihatinan orang-orang, terutama pemilik usaha yang sangat terpengaruh oleh pembatasan ini.

“Kita bisa terus menutup perbatasan tapi membuka negara ini sebanyak mungkin sehingga orang-orang bisa mulai kembali bekerja untuk mata pencaharian mereka,” katanya.

Fiame mengungkapkan kekhawatirannya bahwa pemerintah Samoa belum jujur mengenai situasi perekonomian Samoa, dan malah menyampaikan pesan bahwa negara itu baik-baik saja.

Sebelumnya Kamar Dagang dan Industri Samoa juga mendesak pemerintah untuk memberikan kejelasan dan komunikasi yang lebih baik mengenai perintah keadaan darurat dengan mengatakan usaha-usaha di negara itu harus berupaya keras untuk menanggapi peraturan yang cepat berubah. (Samoa Observer)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top