Follow our news chanel

Previous
Next

Mudik lebaran bermandikan lumpur di Distrik Tahota

Lukman Kaitam (52), warga muslim Papua asal kabupaten Teluk Bintuni saat kenakan sandal jepit di tangan karena harus berjalan kaki lima kilo meter di Kampung Mameh Distrik Tahota yang penuh lumpur dan licin saat hujan. (Jubi/Hans Arnold Kapisa).
Mudik lebaran bermandikan lumpur di Distrik Tahota 1 i Papua
Lukman Kaitam (52), warga Papua asal kabupaten Teluk Bintuni saat kenakan sandal jepit di tangan karena harus berjalan kaki lima kilo meter di Kampung Mameh Distrik Tahota yang penuh lumpur dan licin saat hujan. (Jubi/Hans Arnold Kapisa).

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Kondisi ruas jalan berlumpur di kampung Mameh Distrik Tahota, kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat bukan saja menjadi momok bagi supir angkutan antar kabupaten tersebut, tapi meninggalkan kesan buruk bagi warga  Papua di kabupaten Teluk Bintuni saat akan mudik lebaran 2019.

Lukman Kaitam (52) warga kabupaten Teluk Bintuni mengatakan harus melalui perjuangan untuk bisa sampai ke kabupaten Manokwari atau sebaliknya dari Manokwari ke Bintuni.

Selain harus mengeluarkan ongkos Rp500 ribu per orang untuk sekali perjalanan menggunakan mobil dua gardan,  dia juga siap menanggung risiko jika cuaca hujan untuk berjalan kaki di dalam lumpur sepanjang lima kilo meter untuk mencari tumpangan lain agar dapat sampai ke tujuan.

“Ini kenyataan  yang kita hadapi, kalau tidak jalan kaki lima kilo meter, kami bisa bermalam sampai empat hari, hanya untuk tunggu kondisi cuaca panas  dan mobil yang kami tumpangi bisa tembus,” ujar Kaitam.

Dia menuturkan, selama bulan Puasa hingga masuk lebaran Idul Fitri, warga Muslim Papua di Bintuni, terpaksa harus mandi lumpur agar bisa tembus ke Manokwari  saat hendak belanja kebutuhan jelang hari raya Idul Fitri atau hendak bersilaturahmi dengan sanak saudara di sana.

“Ini kali kedua saya jalan kaki lima kilo meter. Saya terpaksa pakai sandal di tangan dan berjalan hati-hati, supaya kalau jatuh, saya bisa tahan pakai  tangan,” ujar Kaitam sambil kenakan sandal jepitnya di tangan.

Loading...
;

Agnes, warga lainnya yang ditemui saat berjuang melawan lumpur dan jalan lincin di kampung Mameh, mengatakan bahwa dia memilih untuk jalan karena tidak membawa bekal untuk persiapan bermalam.

“Saya dari Bintuni pukul 11.00 WP, tapi dalam perjalanan sudah hujan, dan mobil yang kami ikut tidak bisa lanjutkan perjalanan. Saya diminta tunggu sampai cuaca panas, tapi karena tidak bawa persiapan bekal, jadi saya harus jalan semoga di ujung jalan lumpur ini ada mobil yang bisa saya ikut lanjutkan perjalanan ke manokwari,” ujarnya saat ditemui Jubi pukul 15.30 WP, Sabtu akhir pekan lalu.

Kasatker PJN (Pelaksanaan Jalan Nasional)  Wilayah IV Bintuni, Benyamin Pesurnai yang ditemui di lokasi, mengaku jika pekerjaan jalan tersebut untuk tahun anggaran 2018 sudah selesai meski baru akan diaspal tahun ini (2019).

“Rencananya akan diaspal, tapi menunggu pemeliharaan tuntas di Juni 2019 ini, agar pekerjaan pengaspalan tidak tumpang tindih,” ujarnya.

Menurut Benyamin, ruas jalan di Mameh saat ini sudah bisa dilewati. Pasalnya. Ada tiga eksavator yang siaga di lokasi jalan rusak.

Alat berat dimaksud, milik PT. Job Mulia Bersama. Dengan bantuan alat berat, diharapkan tidak ada kendaraan yang terjebak lumpur selama arus mudik lebaran 2019.

“Kita upayakan bisa dilalui, jangan sampai ada yang tidak bisa lewat. Ini juga untuk kelancaran mudik lebaran 2019,” tuturnya.

Pantauan Jubi di lokasi, alat berat baru mulai bergegas ke lokasi untuk membantu kendaraan yang tertanam lumpur setelah Kasatker mengetahui keberadaan sejumlah awak media yang sedang melakukan aktivitas peliputan di jalan berlumpur di Kampung Mameh Distrik Tahota pada Sabtu akhir pekan lalu. (*)

Editor : Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top