Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

Rapat Forkopimda Kabupaten Jayapura, Papua
Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Jayapura di Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, Papua. - Jubi/Engel Wally

Mulai Rabu, warga Kabupaten Jayapura hanya bisa beraktivitas sampai jam 18.00

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Jayapura menggelar rapat untuk membahas lonjakan kasus baru positif COVID-19, Senin (12/7/2021). Rapat yang dipimpin Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro memutuskan akan membatasi waktu warga beraktivitas sampai jam 18.00 WP. Pembatasan itu diberlakukan mulai 14 Juli hingga 14 Agustus 2021.

Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro menyatakan selama tiga hari mendatang pihaknya akan menyosialisasikan larangan bagi warga untuk beraktivitas di atas jam 18.00 WP. Menurutnya, pembatasan waktu warga beraktivitas itu penting untuk mengendalikan pandemi COVID-19 di Kabupaten Jayapura, Papua.

“Kami harus pastikan daerah ini aman dan nyaman bagi semua masyarakat. Vaksinasi harus terus dilakukan. Pembatasan waktu beraktivitas bagi masyarakat diawali dengan sosilisasi kepada masyarakat bahwa waktu beraktivitas akan diterapkan hingga pukul 18.00 atau jam 6 sore, ” kata Giri, Senin.

Baca juga: Paniai PPKM, penerbangan reguler ke Enarotali akan ditutup sementara

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Khairul Lie mengatakan jumlah kasus konfirmasi positif COVID-19 harian pada Minggu (11/7/2021) mencapai 48 kasus. ” Minggu ke 27 [jumlah komulatif positif COVID-19 mencapai 1.638 kasus. Padahal, pada pekan ke-15 hingga pekan ke-17, petugas kesehatan masih bisa bersantai-santai, [karena] biasanya angka positif perhari hanya 10 kasus. Baru kali ini mencapai 48 kasus perhari,” kata Khairul pada Senin.

Khairul menyatakan bertambahnya jumlah kasus baru COVID-19 di Kabupaten Jayapura terjadi karena banyaknya pergerakan orang dan rendahnya kepatuhan orang terhadap protokol kesehatan COVID-19.Selain itu, masih ada banyak kegiatan yang mengumpulkan massa.

“Selain [terjadi di] tiga distrik perkotaan [yang terkategori] di zona merah, [pertambangan kasus baru] juga meningkat di distrik zona kuning. Itu semua karena ada pergerakan manusia dari satu wilayah ke wilayah yang lain, ” ujar Khairul, Senin.

Loading...
;

Baca juga: Pemprov Papua Barat resmi tetapkan PPKM Darurat di Sorong dan Manokwari

Khairul yakin pembatasan waktu warga beraktivitas akan efektif untuk menurunkan tingkat penularan COVID-19. “Kami pernah melakukan pembatasan waktu beraktivitas hingga pukul 14.00 WP. Hal itu cukup efektif, karena tidak banyak orang yang berpindah tempat aktivitas, ” jelasnya.

Khairul menyatakan masyarakat harus mematuhi prokotol kesehatan dan mengurangi aktivitas perjalanan. Hal itu demi mewaspadai kemungkinan gelombang ketiga pandemi COVID-19 yang bisa menyebabkan jumlah pasien bertambah terlalju banyak hingga melumpuhkan pelayanan kesehatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.

“Perkiraan para ahli  epidemiologi, gelombang ketiga itu Juli hingga Agustus, itu sangat mengkhawatirkan, [baik] di Indonesia pada umumnya, [maupun] di Kabupaten Jayapura khususnya. [Dikhawatirkan] pelayanan rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya akan kolaps apa bila tidak dilakukan pencegahan secara masif,” kata Khairul. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Scroll to Top