HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

“Nai, sekarang saya hanya makan ubi atau keladi”

Wakil Ketua Setara Insitute Bonar Tigor Naispospos (kanan) bersama Pater Dr. Neles Tebai saat memberi pendapat terkait masalah Papua - Jubi/tabloid-wani.com/Dedy Istanto
“Nai, sekarang saya hanya makan ubi atau keladi” 1 i Papua
Wakil Ketua Setara Insitute Bonar Tigor Naispospos (kanan) bersama Pater Dr. Neles Tebai saat memberi pendapat terkait masalah Papua – Jubi/tabloid-wani.com/Dedy Istanto

Oleh: Pares L. Wenda

Kurang lebih sebulan usai Pater Dr. Neles K.Tebay pulang dari pengobatan pascaoperasi dan pengobatannya selama enam bulan di RS Sint Carolus Boromeus Jakarta, suatu hari saya mampir di kantor Jaringan Damai Papua (JDP), pada pukul 12.00 siang, saya buka ruang rapat JDP.

Lalu saya mmebuka laptop dan mengetik sebuah artikel untuk dikirim ke media tentang pemilihan legislatif 2019. Saya sudah di sana hampir 30 menit.

“Nai, sekarang saya hanya makan ubi atau keladi” 2 i Papua

Seperti biasanya setelah pater dengan dosen lainnya usai mengajar duduk baca cerita dengan dosen yang lain di ruang dosen. Saat itu pater sebenarnya harus pulang istirahat. Namun beliau melihat motor saya. Artinya dia tahu bahwa saya ada di ruang rapat JDP.

Beliau pun mampir bacarita dengan saya dan meng-update situasi Papua. Dia juga baca cerita tentang jadwal perjalanan ke Jakarta dan luar negeri, pelayanan di internal gereja dan mengajar di STFT Fajar Timur, termasuk perkembangan kesehatannya, yang semakin membaik.

Saat sharing soal kesehatannya pather mengatakan, “Nai, sekarang saya hanya makan keladi atau ubi. Saya sudah tidak lagi makan nasi.”

Sebagai orang Balim, saya menganalisis maksud pernyataannya? Memang faktanya benar, bahwa beliau sudah tidak makan nasi. Apakah itu anjuran dokter? Ataukah faktor kesehatannya, dimana ada saran-saran para sahabatnya untuk berhenti makan nasi, jika makan nasi mungkin akan mengganggu kesehatannya?

Loading...
;

Tetapi usai baca cerita dengan beliau, saya tidak lagi menulis artikel. Kami berpamitan; beliau ke mesnya dan saya pulang ke rumah.

Sejak saat itu saya merenungkan arti “saya berhenti makan nasi?” Apakah ini pesan spiritual beliau kepada saya? Seperti Mahatma Gandhi tidak mau berpakaian ala barat, ia kembali mengenakan pakaian kas India, sebagai bentuk perlawanan kepada Inggris. Mungkin seperti itu yang dimaksudkannya?

Tetapi sebagai tokoh yang memperjuangkan perdamaian, ia konsen terhadap isu-isu perdamaian. Setiap hari dia memikirkan dan berbicara tentang perdamaian. Maka sikap seperti itu yang saya bayangkan tentang perjuangan Gandhi.

Rasanya tidak relevan dengan visi dan konsep beliau tentang damai. Tetapi itu hanya pemahaman saya. Kesalahan saya adalah tidak bertanya, apa maksudnya pater tidak lagi mau makan nasi?

Pesan ini penting bagi saya dalam konteks mendorong perdamaian inklusif di Tanah Papua. Analogi ubi dan keladi merupakan dua makanan khas Papua (Melanesia), sedangkan nasi adalah makanan orang Jawa dan orang Melayu pada umumnya. Seperti gandum adalah makan kas masyarakat Timur Tengah dan tentu saja kita kenal banyak jenis makanan lokal lainnya di dunia.

Nasi dan ubi adalah dua jenis makan khas dari dua budaya yang berbeda. Artinya satu masalah yang dipahami berbeda oleh dua suku bangsa Melanesia (Papua) dan Melayu (Indonesia). Dua suku bangsa ini harus duduk bersama membahas BATNA (Best Alternative to A Negotiated Agreement).

Dalam konteks ini, Pater Neles Kebadabi Tebay telah membuka jalan. Kabadabi dalam arti sesungguhnya dalam bahasa Mee adalah pembuka jalan. Beliau telah membuka jalan suci perdamaian Papua.

Kepergiannya pun dalam suatu proses perjuangan. Rasanya tidak adil, Tuhan secepat ini memanggilnya.

Apa yang saya renungkan tentang “nai, saya telah berhenti makan nasi” ini menjadi suatu inspirasi penting bagi saya secara pribadi. Pesan spiritual ini menjadi bagian dari ingatan kolektif saya untuk mendorong betapa pentingnya setiap orang yang ingin Papua damai, bersama mendorong perdamain Papua, untuk sebuah dialog inklusif tentang masalah Papua.

Setiap Anda yang memaknai perkataan pater “nai saya telah berhenti makan nasi” ini, tentu akan dimaknai berbeda-beda. Tetapi itulah yang saya renungkan pasca kepergian pater untuk selamanya.

Selain tentang pernyataan di atas, dalam suatu kesempatan juga pater pernah mengatakan “tidak penting seberapa lama kita hidup di dunia ini, karena semua orang pasti mati jika memang waktunya tiba, tetapi yang salah itu adalah ketika seseorang dipaksa mati oleh tangan orang tidak bertanggung jawab, karena yang berhak ambil nyawa manusia itu hanya Tuhan.”

Bagi Pater Neles hal yang terpenting dalam hidup adalah apa yang telah kita perbuat untuk masyarakat dan bangsa kita, agar mereka hidup damai, hidup tanpa distigma—tanpa dicap separatis atau makar, tetapi hidup ini harus dihidupi sebagai hidup yang menghidupi sesama.

Karena itu kita harus pasang badan mendorong proses dialog Jakarta-Papua sebagai sebuah mimpi yang kelak menjadi kenyataan, dimana anak bangsa Papua dan anak bangsa Indonesia duduk bernegosiasi dengan satu tujuan “Papua harus menjadi tanah damai”.

Memang membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit, apalagi pandangan tentang Papua yang berbeda antara Jakarta dan Papua.

Pater Neles Tebay seperti Dr. Martin Luther King, mempunyai mimpi; mimpi tentang sebuah bangsa yang hidup berdampingan tanpa saling menstigma satu sama lain.

Atas dedikasinya tentang isu perdamaian Papua, saya punya mimpi suatu hari nanti ada legacy, entah kapan saya akan melihat terbangunnya sebuah Museum Perdamaian atas nama Dr. Neles Kebadabi Tebay dan Dr. Muridan S. Widjojo. Suatu hari nanti entah kapan di suatu kabupaten tertulis nama sebuah jalan “jalan perdamaian Papua, Jalan Dr. Neles Kebadabi Tebay, Jl. Dr. Muridan S. Widjojo; suatu hari nanti entah kapan, sebuah parlemen menetapkan hari lahir Dr. Neles Kebadabi Tebay sebagai Hari jadi Perdamaian Papua.

Semoga nama Dr. Neles Tebay dan Dr. Muridan S. Widjojo tetap abadi dan akan menjadi simbol, ikon dan spirit perdamaian Papua.

Nai aiii, aaaa, wisss, kaonak oo noweluk kogokli oo, nowe a, amanai, koyau, amakane, yebmum, telebe, waymyambe, yasuba, nare, wiwao, lauknya, wawawawa nowe”. (*)

Penulis adalah Ketua Departemen Komunikasi dan anggota Pemuda Gereja Baptis sedunia

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top