HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Negara Kepulauan Pasifik paham ketegasan kunci hadapi Covid-19

Papua
Ilustrasi. -Dok
Negara Kepulauan Pasifik paham ketegasan kunci hadapi Covid-19 1 i Papua
Ketika Covid-19 mulai mewabah, banyak negara Kepulauan Pasifik memberlakukan larangan keluar masuk transportasi udara dan lautan. – Asian Development Bank Blog/ Nils Grimm

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Emma Veve

Negara-negara Kepulauan Pasifik yang terpencil telah menjadi yang terdepan di dunia, dalam upayanya menghentikan penyebaran Covid-19. Ketika wabah itu mulai diliput di media-media besar internasional, negara-negara Pasifik mulai menutup gerbang masuk mereka. Melihat ke belakang, sejak Eropa menjadi pusat penyebaran Covid-19 yang baru, keputusan ini terlihat seperti langkah yang sangat bijaksana. Sejauh ini, Pasifik tampaknya telah terhindar dari dampak terburuk wabah itu.

Negara Kepulauan Pasifik paham ketegasan kunci hadapi Covid-19 2 i Papua

Negara-negara Kepulauan Pasifik, dipimpin oleh negara yang paling kecil dan paling sejahtera, bertindak dengan sigap untuk membatasi pengunjung dari negara-negara yang dimasukkan dalam daftar terdampak.

Federasi Mikronesia (FSM), Kepulauan Marshall, dan Tonga, semuanya telah menyatakan keadaan darurat. Mereka menandatangani formulir deklarasi kesehatan pada saat kunjungan di negara-negara Pasifik sekarang sudah normal. Banyak negara lainnya, misalnya, Kiribati, Samoa, Kepulauan Solomon, dan Vanuatu, sekarang mewajibkan pengunjung dari, atau yang melewati, negara-negara di mana Covid-19 telah dilaporkan, untuk melakukan karantina selama 14 hari di negara ketiga.

Beberapa bangsa mengambil melangkah yang lebih berani dan memberlakukan larangan penuh atas pengunjung dari daftar negara-negara yang telah terkena Covid-19, bahkan ada juga yang memperketat kebijakan ini untuk membatasi pengunjung dari semua negara. Samoa, selain mengharuskan periode karantina selama dua minggu di negara ketiga, juga memaksakan pemeriksaan kesehatan sebelum lepas landas dan setelah mendarat, termasuk untuk warga negaranya sendiri. Pada pertengahan Maret, Fiji lalu mencontoh keputusan Samoa untuk melarang masuknya kapal-kapal pesiar — industri bernilai $50 juta.

Sebagian besar negara-negara Pasifik juga tegas dalam mengarahkan pejabat-pejabat pemerintah, untuk menghentikan atau membatasi perjalanan di dalam kawasan Pasifik atau di luar itu. Untuk daerah yang sering menyelenggarakan dan menghadiri pertemuan, lokakarya, dan konferensi internasional dan regional, ini adalah langkah signifikan yang diambil khusus untuk mengurangi kemungkinan para pejabat ini membawa infeksi Covid-19, ke komunitas di pulau-pulau.

Loading...
;

Ada banyak juga orang Kepulauan Pasifik dari luar kawasan ini, yang meningkatkan risiko penyebaran Covid-19 saat mereka pulang kembali. Personel aparat keamanan, atlet, tenaga kerja kesehatan, guru, dan buruh berketerampilan rendah yang bekerja di luar negeri, dimana pendapatan mereka jauh tinggi daripada yang bisa mereka dapatkan di kampung halaman mereka. Banyak juga orang Kepulauan Pasifik yang menempuh studi di berbagai universitas luar negeri berkat beasiswa dari mitra-mitra pembangunan. Negara-negara Pasifik memantau dengan saksama upaya pemulangan warga negaranya dan secara aktif menghalau masyarakat dari bepergian kemana-mana.

Di Kepulauan Pasifik, upaya pencegahan telah menjadi strategi utama dalam menghadapi Covid-19.

Mengapa ada urgensi di negara-negara kecil ini untuk mencegah COVID-19 dari menyerang masyarakatnya? Ada beberapa faktor.

Pertama, besarnya jumlah populasi yang rentan terhadap suatu wabah baru, jumlah penyakit tidak menular di populasi Pasifik adalah salah satu yang tertinggi di dunia, dan pengalaman telah menunjukkan bahwa orang-orang yang sudah memiliki masalah kesehatan adalah yang paling rentan terhadap Covid-19.

Kedua, sistem pelayanan kesehatan masyarakat di negara-negara Pasifik, meskipun telah berpuluh-puluh tahun menjadi sasaran investasi dan pengembangan kapasitas, masih lemah. Kapasitas sistem pelayanan kesehatan untuk melakukan pengawasan dan pengendalian penyakit infeksi, diagnostik (laboratorium rujukan terdekat ada di Australia, Selandia Baru, atau Amerika Serikat), dan perawatan — termasuk memiliki peralatan dan tenaga kesehatan yang diperlukan untuk pencegahan dan pengendalian infeksi, triase, dan manajemen pelayanan klinis yang optimal, dan perawatan suportif — tidak ada di banyak negara Pasifik.

Ketiga, kawasan Pasifik baru saja mengalami wabah campak yang mematikan pada akhir 2019 — Samoa di garis depan dengan 83 kasus kematian akibat campak, dan lebih dari 5.600 kasus, kebanyakan di antaranya adalah anak-anak kecil. Dengan tragedi ini terngiang jelas di benak orang-orang Pasifik, ancaman yang dibawa oleh Covid-19 ditanggapi dengan sangat serius oleh semuanya.

Dan keempat, kemungkinan hancurnya ekonomi yang disebabkan oleh Covid-19 dipahami dengan baik di wilayah Pasifik yang sangat bergantung pada manusianya sebagai sumber daya yang paling besar dan berharga.

Sikap proaktif oleh negara-negara kepulauan Pasifik ini juga menyebabkan kerugian, dalam bidang keuangan dan ekonomi yang signifikan. Ada pengeluaran langsung untuk menerapkan sistem pelaporan dan pelacakan kesehatan bagi pengunjung dan warga negara yang pulang; mengerahkan petugas-petugas kesehatan di pelabuhan udara dan laut; dan membeli masker sekali pakai, sarung tangan, dan cairan pembersih tangan.

Hotel dan restoran kosong, tenaga kerja yang diperlukan lebih sedikit; acara-acara besar dan keuntungan yang seharusnya dihasilkan telah menguap; berkurangnya jumlah pengunjung berarti semakin sedikit permintaan pasar atas produk, barang, dan layanan lokal; larangan perjalanan juga berdampak pada jadwal transportasi udara dan laut yang mempersulit proses ekspor dan impor; dan dengan semakin sedikit pekerja yang pergi ke luar negeri, pengiriman uang ke dalam negeri juga diperkirakan akan jatuh. Dan kembali ke titik awal, dampaknya bagi pemerintah adalah minimnya pendapatan dari pajak untuk dibelanjakan atas pelayanan kesehatan masyarakat.

Ada berbagai skenario yang memprediksi Covid-19 sebagai disrupsi yang bisa berlangsung selama tiga atau enam bulan, tetapi bagi orang-orang, usaha-usaha, dan pemerintah Kepulauan Pasifik, ini adalah masalah hidup dan mati, yang benar-benar melegitimasikan biaya pengeluaran dari tindakan-tindakan pencegahan yang dilakukan. (Asian Development Bank Blog)

Emma Veve adalah Direktur Divisi Sektor Sosial & Pengelolaan Sektor Publik, Departemen Pasifik, Bank Pembangunan Asia.

Editor: Kristianto Galuwo

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pengumuman Lagu
"Tanah Papua"

Sehubungan dengan akan dilakukannya pendaftaran lagu “Tanah Papua” yang diciptakan oleh Bapak Yance Rumbino pada Direktorat kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, untuk itu disampaikan kepada seluruh pihak masyarakat yang mengklaim sebagai pencipta lagu “Tanah Papua”, diberi kesempatan untuk mengajukan klaim atau sanggahan lagu tersebut.

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa