Follow our news chanel

Previous
Next

Negara-negara Pasifik dapat dijadikan model dalam kampanye imunisasi nasional

Bendera berwarna merah dipasang di depan rumah-rumah warga Samoa pada 2019 untuk menunjukkan bahwa mereka belum menerima imunisasi campak. - ABC/ TV1 Samoa

Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh Tasha Wibawa dan Tahlea Aualiitia

Sebelum Covid-19 meruak menjadi darurat kesehatan global, Samoa sudah berperang melawan epideminya sendiri.

Satu tahun yang lalu, campak, penyakit mematikan dan mewabah namun dapat dicegah, menewaskan lebih dari 83 orang di Samoa dalam kurung waktu beberapa bulan.

Menurut WHO, 87% kematian yang dilaporkan saat itu terjadi pada anak-anak di bawah lima tahun, tetapi kampanye imunisasi nasional yang efektif berhasil mengendalikan penyebaran penyakit tersebut.

Sejauh ini, tidak ada kasus Covid-19 yang dilaporkan negara kepulauan tersebut, sementara beberapa negara lainnya di Pasifik juga berhasil menghindari wabah penyakit yang melanda bagian dunia lainnya.

Keterpencilan Samoa, dengan populasinya yang kecil dan larangan perbatasan yang ketat, telah berkontribusi pada keberhasilannya.

Loading...
;

Epidemi yang menyerang mereka sebelumnya mungkin mempersiapkan Samoa, bersama dengan beberapa negara Pasifik lainnya, untuk pandemi ini.

Selain upaya Samoa untuk mengendalikan krisis campak di negaranya, program imunisasi rotavirus nasional Fiji telah disebut-sebut sebagai sebuah model yang sukses dalam mengurangi kematian anak di Pasifik, dan bahkan diadopsi oleh negara tetangga lainnya di Pasifik seperti Kiribati.

Jadi ketika tiba waktunya bagi Australia dan negara-negara lainnya untuk memperkenalkan vaksin Covid-19 secara nasional, beberapa pakar kesehatan masyarakat mengatakan ada sejumlah pelajaran yang dapat dipelajari dari negara-negara Pasifik.

Imunisasi di Samoa diwajibkan secara hukum

Tahun lalu, pemerintah Samoa mengumumkan kampanye wajib imunisasi massal setelah wabah campak mengungkapkan bahwa hanya sekitar dua pertiga penduduknya yang sudah menyelesaikan program imunisasi.

Pemerintah pusat lalu mewajibkan imunisasi, mendesak orang-orang untuk tinggal di rumah, membatasi perjalanan yang tidak penting, dan menutup usaha-usaha serta pelayanan pemerintah.

Keluarga-keluarga yang belum divaksinasi diminta untuk menempelkan bendera berwarna merah di luar rumah mereka sebagai bagian dari kampanye itu. Sementara itu, lebih dari 150 tim mengelilingi Samoa, dari pintu ke pintu, untuk menyuntikkan vaksin campak, gondok dan rubella (MMR) ke rumah-rumah yang memasang kain tersebut.

Ketika tahun ajaran dimulai, pelajar yang belum menerima vaksinasi tidak diizinkan untuk masuk.

Pada Desember 2019, Samoa telah mengakhiri keadaan darurat kesehatan masyarakat, enam minggu setelah infeksi campak turun ke angka yang dapat dikendalikan.

Alice Hall, kepala bagian vaksin Covid-19 untuk UNICEF Australia, yang bekerja erat dengan negara-negara Pasifik, mengatakan ada aspek yang sama dalam setiap peluncuran program vaksinasi.

Ini mencakup pengembangan kebijakan, rantai pasokan yang efektif, serta pemantauan dan pengumpulan data.

Melawan misinformasi, anti-vaksin, & skeptisisme terhadap pemerintah

Rendahnya tingkat imunisasi vaksin MMR di Samoa disebabkan oleh tragedi yang terjadi di tahun sebelumnya, dimana dua anak bayi meninggal setelah menerima suntikan MMR yang tidak sengaja dicampur dengan anestesi kedaluwarsa.

Kedua perawat terdaftar yang terlibat dalam pemberian dosis fatal tersebut masing-masing dijatuhi hukuman lima tahun penjara, dan untuk sementara, pemerintah Samoa menangguhkan program vaksinasi negara itu setelah kematian tersebut.

Meskipun akhirnya pulih, banyak orang tua yang tidak lagi kepercayaan pada proses imunisasi dan kapabilitas sistem kesehatan nasional Samoa.

Pendeta Nuuausala Siaosi dari Gereja Protestan Apia (APC) mengatakan bahwa selama epidemi campak dan peluncuran program imunisasi massal, satu bagian yang juga penting adalah untuk pihak berwenang dan pemimpin-pemimpin masyarakat untuk mendapatkan kembali kepercayaan bangsa Samoa terhadap vaksin MMR.

“Kita yang melakukan komunikasi langsung dengan masyarakat, dan masyarakat juga percaya kepada kita,” ujarnya. “Pasca kematian dua bayi di Savai’i, banyak yang tidak siap mempercayai Pemerintah karena takut.”

“Kita berbicara dengan orang-orang, tidak hanya dari atas atas mimbar, tetapi dengan orang tua secara langsung, tentang pentingnya imunisasi, dan menggunakan riwayat imunisasi kita sendiri yang aman sehingga orang-orang dapat kembali percaya dan membawa anak-anak mereka untuk divaksinasi.”

Ada juga tantangan yang disebabkan oleh kelompok anti-vaksin lokal dan asing, menyebarkan pesan-pesan mereka melalui media sosial, dan terapis alternatif yang mencoba untuk menggunakan ‘air penyembuh’ untuk sebagai alternatif dari imunisasi.

”Jadi kita juga harus memberi tahu orang-orang bahwa pesan itu tidak benar dan agar mereka lebih percaya pada imunisasi yang sudah lama digunakan.”

Inovasi untuk melawan isu keterpencilan

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengumumkan bahwa lebih dari 84 juta dosis dari dua vaksin virus Corona diharapkan dapat diluncurkan di Australia paling cepat tahun depan.

Ia juga berjanji akan mendistribusikan vaksin ke ‘negara-negara tetangga Pasifik kita’, jika uji coba vaksinnya terbukti berhasil, dan jika Australia dapat memproduksi pasokan vaksin di dalam negeri.

Kepulauan Pasifik juga menghadapi banyak tantangan unik, terutama dalam hal lokasi dan komunikasinya. Transportasi antar pulau juga sangat sulit.

Hall berkata UNICEF telah membantu membangun program radio dengan tujuan khusus untuk pelayanan kesehatan di Pasifik, dimana bahkan tenaga kesehatan di tempat yang paling terpencil pun dapat mengumpulkan dan berbagi informasi terkini.

Di Vanuatu, dimana ada sekitar 80 pulau-pulau yang tersebar di Pasifik, pesawat nirawak digunakan untuk menerbangkan obat-obat yang sangat dibutuhkan ke daerah-daerah terpencil.

Sebelumnya, satu dari lima anak tidak bisa menerima semua vaksin yang dijadwalkan – namun sejak tahun lalu, proses yang dulunya melibatkan berjalan kaki dua hari untuk mendapatkan obat, berubah menjadi pengiriman melalui pesawat nirawak atau drone selama 20 menit.

Program-program yang berhasil dapat digunakan sebagai model

Profesor Fiona Russell, seorang pakar kesehatan Asia-Pasifik, telah terlibat dalam peluncuran sejumlah program vaksin yang sukses di seluruh Pasifik, termasuk HIV, influenza tipe B, dan vaksin rotavirus.

Pada 2012-2013, Fiji mengumumkan program imunisasi nasional untuk memberi vaksin PCV dan rotavirus bagi bayi. Kampanye ini menargetkan pneumonia dan diare, dua penyakit penyebab kematian anak yang paling umum di negara itu.

Pada 2016, keberhasilan kampanye tersebut dipuji sebagai acuan untuk diikuti negara-negara Pasifik lainnya setelah program ini berhasil menurunkan prevalensi penyakit diare yang disebabkan oleh rotavirus hingga 70 %, dan mengurangi jumlah kunjungan rumah sakit akibat pneumonia sebesar 50%.

Lembaga penelitian Murdoch Children’s Research Institute juga menemukan bahwa imunisasi terhadap rotavirus membawa dampak positif yang signifikan di Kiribati, meskipun tingkat malnutrisinya tinggi.

“Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun adalah Kepulauan Pasifik itu sangat luar biasa dalam memobilisasi banyak orang,” kata Profesor Russel kepada ABC.

Russel juga berkata komunikasi yang sesuai dengan budaya lokal tidak hanya membantu orang-orang Kepulauan Pasifik dalam memahami pentingnya vaksin, tetapi juga bagaimana vaksin itu dikembangkan dan diuji dengan aman, serta efek sampingnya. Hal ini memungkinkan orang-orang di negara-negara Kepulauan Pasifik untuk menerima vaksin dalam waktu singkat. (ABC News)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top