Negara-negara Pasifik desak sektor perkapalan global ambil tanggung jawab kurangi emisi GRK

Tiga negara di Kepulauan Pasifik telah meminta Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk meningkatkan targetnya dalam mengurangi emisi GRK dalam sektor perkapalan global. - Alamy/Bhaswaran Bhattacharya

Papua No.1 News Portal | Jubi

 

Oleh Casten Ned Nemra

Banyak komunitas di seluruh dunia yang saat ini sedang dihadapkan dengan dampak berbahaya dari perubahan iklim dan, ketika pemimpin-pemimpin dunia bersiap-siap untuk bertemu di Glasgow dalam rangkat KTT COP26, mereka akan membahas tindakan apa yang perlu diambil.

Tetapi ada satu sektor penghasil emisi gas rumah kaca utama di dunia sudah lama luput dari perhatian global.

Kami di kawasan Pasifik, yang telah menanggung beban dari dampak perubahan iklim selama bertahun-tahun, dan sekarang harus berjuang keras untuk mempertahankan keberadaan kami, mendesak agar tindakan global yang tegas terhadap salah satu industri penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) global utama – transportasi maritim atau perkapalan.

Sektor perkapalan juga harus mematuhi Perjanjian Paris dan mengambil komitmen sekarang untuk mencapai nol emisi GRK pada tahun 2050, sebelum semuanya terlambat.

Perkapalan itu umumnya tidak menerima perhatian yang seharusnya diterima dalam hal pengurangan emisi GRK secara global. Hal ini masih terjadi padahal kenyataannya adalah bahwa sekitar 80% perdagangan global itu diangkut melintasi lautan dengan kapal kargo – kapal-kapal yang saat ini menggunakan bahan bakar fosil seperti minyak berat.

Loading...
;

Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/ IMO), badan PBB yang bertanggung jawab dalam mengatur transportasi laut, memperkirakan bahwa sektor perkapalan telah menyebabkan sekitar 3% dari emisi GRK global. Tetapi mengingat laju pertumbuhan saat ini, serta kurangnya upaya yang bermakna dalam mengurangi emisi GRK atau dekarbonisasi dari sektor ini, para peneliti telah memperingatkan bahwa sektor perkapalan dapat menghasilkan hingga 10% semua emisi global pada 2050.

Pekan lalu tiga negara bagian Kepulauan Pasifik – Republik Kepulauan Marshall, Kiribati, dan Kepulauan Solomon – secara resmi meminta IMO untuk dengan drastis menaikkan targetnya dalam hal dekarbonisasi sektor perkapalan. Resolusi bersama kami ini akan memaksa badan tersebut untuk mengurangi emisi GRK dari perkapalan global hingga mencapai nol, paling lambat pada tahun 2050.

Target ini, yang merupakan rekomendasi langsung dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/ IPCC) dan Sekretariat PBB, jauh melampaui target IMO saat ini, dimana mereka hanya ingin mengurangi setengah emisi GRK perkapalan pada pertengahan abad ini.

Bahkan target yang baru ini, untuk pertama kalinya, akan menyelaraskan sektor perkapalan agar dapat mencapai target dari Perjanjian Paris, kesepakatan yang telah diadopsi oleh pemerintah-pemerintah dan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia. Ini juga akan mengirimkan pesan tegas yang sudah lama tertunda kepada perusahaan perkapalan di seluruh dunia, bahwa, akhirnya, mereka harus berkontribusi dalam mencegah bencana iklim global.

Ini bukan pertama kalinya Kepulauan Marshall mendesak agar ada target perubahan iklim yang lebih ambisius dari pihak IMO. Pada Maret 2021, dengan dukungan dari Kepulauan Solomon, kami mengusulkan agar ada retribusi yang dibebankan untuk emisi karbon, dimana semua perusahaan perkapalan internasional akan diwajibkan untuk membayar $100 per ton untuk semua emisi GRK sejak tahun 2025, dan jumlah retribusi ini akan meningkat setelah itu.

Hal ini akan memberikan motivasi bisnis yang kuat untuk beralih dari bahan bakar berbasis fosil menuju ke bahan bakar yang tidak menghasilkan emisi karbon, serta menggalang dana untuk membantu mengatasi kendala-kendala yang mungkin muncul akibat transisi ini, seperti memastikan ada teknologi dan bahan bakar yang baru tersedia tepat waktu dan memastikan ada transisi yang adil untuk negara berkembang dan negara yang rentan terhadap perubahan iklim.

Komitmen IMO dalam mencapai emisi GRK nol dari perkapalan pada tahun 2050 itu sangat penting dalam memimpin upaya dekarbonisasi industri sumber emisi yang besar ini, dan untuk menjaga masa depan generasi kita berikutnya.

Proposal kami agar ada retribusi emisi karbon akan dibahas di tingkat IMO selang diskusi kelompok kerja berikutnya mengenai topik ini pada bulan Oktober, dan kemudian pada pertemuan Marine Environment Protection Committee IMO yang ke-77 pada bulan November. Dalam pertemuan komisi ini, para delegasi juga akan membahas resolusi yang baru diajukan tentang sektor perkapalan yang bebas emisi GRK, hal yang sangat penting untuk wilayah kita.

Ironinya, negara-negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim – yang kontribusinya sangat kecil terhadap pemanasan global – adalah yang paling terancam akibat konsekuensinya. Kami dan semua negara-negara tetangga kami di Pasifik, seperti Fiji, Kiribati, Tonga, atau Kepulauan Solomon, sudah menyaksikan langsung dampak dari perubahan iklim paling parah di planet ini.

Dampak ini termasuk berkurangnya wilayah daratan di daerah pesisir karena naiknya permukaan air laut, serangan siklon tropis dengan intensitas yang kian meningkat, periode kekeringan yang lebih lama, dan hilangnya keanekaragaman hayati dan terumbu karang yang signifikan. Diperkirakan bahwa selama lima tahun terakhir siklon tropis dan badai topan saja sudah menyebabkan kerugian ekonomi yang besar di wilayah kita, mulai dari 31% hingga 63% dari PDB – belum lagi trauma dan kerugian yang dialami komunitas lokal kita.

Dan saat ini, kita sedang bergerak lebih jauh menuju masa depan di mana akan ada banyak pulau dan budaya kita yang dapat punah sama sekali. Menurut laporan IPCC baru-baru ini, kegagalan dalam memenuhi target suhu 1,5°C akan menyebabkan hilangnya seluruh negara – khususnya di kawasan Pasifik – karena kenaikan permukaan air laut. Mengambil tindakan tegas sekarang telah menjadi hal eksistensial yang mendesak bagi kawasan kita.

Kami menyerukan kepada mitra-mitra kami di seluruh dunia untuk bangkit dan bergabung dalam solidaritas dengan kawasan Pasifik dan mendukung dua proposal kami.

Banyak negara telah mengambil komitmen untuk mencapai nol emisi GRK pada 2050 dan mendesak agar ada lebih banyak target lagi melalui kerangka kerja perubahan iklim PBB, UNFCCC. Kini saatnya negara-negara ini juga melibatkan IMO dan sektor perkapalan dengan ambisi tersebut. Ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah bencana bagi negara-negara Pasifik dan untuk seluruh planet ini. (The Guardian)

Casten Ned Nemra adalah Menteri Luar Negeri Republik Kepulauan Marshall.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top