HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Negara-negara Pasifik tawarkan bantuan untuk kebakaran hutan Australia

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mendarat di Tuvalu untuk menghadiri Forum Kepulauan Pasifik (PIF) 2019. – ABC News/ Twitter/ Pacific Islands Forum

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Port Vila, Jubi – Negara-negara Pasifik telah menjanjikan bantuan dan menawarkan dukungan kepada Australia yang mengalami kebakaran hutan mematikan dan terus menyebar di seluruh negeri itu.

Beberapa pemimpin Pasifik menggunakan media sosial untuk berbelasungkawa, dan menawarkan bantuan dana darurat, perwira tentara serta pemadam kebakaran, sehubungan dengan krisis kebakaran hutan yang sedang terjadi.

Dalam sebuah postingan di Facebook, Pejabat Plt. Perdana Menteri Vanuatu, Jotham Napat, mengatakan pemerintahnya akan memberikan bantuan sebesar 20 juta Vatu (hampir $250.000), untuk membantu korban kebakaran hutan di Australia.

“Sebagai tetangga dan teman Pasifik, kita telah menyaksikan Australia dihancurkan oleh kebakaran hutan yang menyedihkan ini,” tulisnya. “Kita menawarkan bantuan apa pun yang bisa kita berikan pada saat yang dibutuhkan ini, seperti yang selalu dilakukan Australia bagi kita.”

Australia memberikan bantuan $50 juta kepada Vanuatu setelah Siklon Pam menyerang negara kepulauan Pasifik itu pada 2015, menewaskan 11 dan merugikan 195.000 orang.

Beberapa pekerja musiman Vanuatu juga terkena dampak langsung dari kebakaran hutan dan saat ini dalam kondisi tidak pasti di Wagga Wagga, bimbang akan masa depan mereka di Australia. Satu kelompok dengan 48 pekerja yang ditempatkan di lahan usaha tani di Batlow, di selatan New South Wales, dipindahkan Selasa lalu (31/12/2020). Lahan tempat mereka bekerja selamat dari kebakaran akhir pekan kemarin, tetapi juru bicara kelompok, James Walau, berkata masih belum aman untuk kembali.

Loading...
;

Sementara itu, Papua Nugini telah menawarkan 1.000 personel, termasuk perwira tentara dan petugas pemadam kebakaran, yang “siap untuk dikerahkan” atas petunjuk Scott Morrison.

“Australia adalah teman terdekat PNG dan selalu menjadi yang pertama bagi PNG dalam masa-masa sulit kita, dan kita menawarkan simpati dan tangan kami kepada Australia di tengah-tengah tragedi yang disebabkan oleh kebakaran ini,” tulis Perdana Menteri James Marape di Facebook.

PNG juga membentuk Sekretariat Fire Appeal untuk membantu Australia, Marape akan mengawasi langsung upaya penggalangan dana.

Perusahaan-perusahaan swasta juga menyumbang, seperti Weta Coffee di Fiji berkata mereka akan menyumbangkan semua pemasukan dari penjualan kopinya pada Senin, 6 Januari, untuk upaya pemadam kebakaran Australia.

Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama, yang merupakan aktivis iklim yang vokal, juga menyampaikan dukungannya melalui media sosial.

“Setiap kali Fiji diporak-porandakan oleh bencana nasional, Australia telah menunjukkan bahwa mereka adalah ’vuvale’ – keluarga kita – dengan secara cepat memberikan bantuan,” katanya, menambahkan negara itu tidak akan pernah melupakan bantuan Australia setelah serangan Siklon Winston pada 2016.

Morrison dalam konferensi pers kemarin mengakui dukungan seluruh dunia terhadap kebakaran hutan, mengucapkan “terima kasih banyak atas dukungannya”.

Analis Pasifik, Tess Newton Cain, dari Griffith Asia Institute, berkata meskipun banyak orang Australia mungkin lebih terbiasa memberikan bantuan kepada Pasifik, bukan menerimanya, tawaran itu “tidak mengejutkan”.

“Tidak mengejutkan melihat orang-orang dan negara-negara Kepulauan Pasifik ingin melakukan sesuatu untuk dan menawarkan dukungan mereka pada saat seperti ini,” katanya kepada program Pacific Beat.

“Saya rasa itu benar-benar bukti sesuatu yang jauh lebih lama dan mendalam, yaitu nilai yang diberikan pada hubungan Kepulauan Pasifik dengan Australia,” katanya, menegaskan bahwa banyak orang di Pasifik menginginkan hubungan itu menjadi “setara” dan melihat kesempatan ini untuk “membalas budi”.

Australia baru-baru ini mengecewakan tetangga-tetangganya di Pasifik selang pertemuan Forum Pulau Pasifik, dimana Morrison dikritik karena mendahulukan batu bara daripada negara-negara Pasifik dan ancaman eksistensial yang mereka hadapi karena naiknya permukaan air laut dan perubahan iklim. (ABC News)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top