HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Nunias Selegani luncurkan buku “Luka Yang Tertular”

Penulis Nunias Selegani saat meluncurkan buku “Luka Yang Tertular” di Jayapura, Kamis (20/2/2020). – Jubi/Hengky Yeimo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Penulis Nunias Selegani meluncurkan buku kelimanya, “Luka Yang Tertular”, di Jayapura, Kamis (20/2/2020). Buku yang terinspirasi sejumlah kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia Papua itu berisi kumpulan narasi yang memotivasi pembaca untuk peduli terhadap nasib para korban kekerasan di Papua.

Peluncuran buku “Luka Yang Tertular” berlangsung di Asrama Intan Jaya di Kota Jayapura. Dalam peluncuran buku itu, Nunias Selegani menuturkan buku kelimanya itu merupakan fiksi yang lahir dari kegelisahannya melihat konflik dan kekerasan di Papua yang tak pernah berhenti.

“[Ada kasus] Paniai berdarah terjadi tahun 8 Desember 2014, kemudian konflik di Nduga sejak 2 Desember 2018. [Kini konflik bersenjata] terjadi di Intan Jaya pada Januari 2020. Saya melihat konflik itu tertularkan dari satu daerah ke daerah lainnya,” ujarnya dalam peluncuran buku tersebut.

Selegani menyayangkan banyak generasi muda di Papua yang tidak peduli dengan berbagai kekerasan yang terus terjadi di Papua. “Saya menuliskan dengan kata yang indah dan menyentuh setiap pembaca, untuk membangkitkan kepedulian terhadap masyarakat yang dibantai,” katanya.

Selegani merasa aneh melihat orang Papua yang mengatahui konflik terjadi, namun apatis terhadap situasi itu. Banyak manusia Papua telah mendengar dan mengetahui kejadian di Paniai, Nduga, dan Intan Jaya. Akan tetapi, hanya sedikit orang yang peduli dan memiliki hati untuk merasakan ketakutan dan penderitaan masyarkat asli Papua.

“Saya berharap buku itu bisa membuka mata hati kami agar bisa bersolider, dan menyuarakan hal itu. [Mari kita] mengerjakan apa yang bisa kita kerjakan, demi kemanusiaan di ketiga daerah itu,” katanya.

Loading...
;

Selegani menyatakan hasil penjualan bukunya akan ia sumbangkan kepada masyarakat Nduga dan Intan Jaya yang hingga kini masih mengungsi. “Kami akan membelikan obat-obatan, bahan makanan, semampu kami untuk menyerahkannya langsung kepada masyarakat,” katanya.

Baca juga  Gempa magnitudo 3,9 guncang Kabupaten Jayapura

Pendiri sekaligus Direktur Papua Language Institute, Samuel Tabuni dalam peluncuran buku itu mengajak generasi muda Papua untuk menulis beragam aspek kehidupan orang asli Papua, seperti kebudayaan, sastra, politik, ekonomi, hak asasi manusia, pendidikan, dan aspek lainnya. “Jangan berharap bangsa lain atau orang lain menulis tentang Papua. Dan jangan salahkan orang lain apabila mereka menulis tentang kita, lalu ada kesalahan. Penting sekali bagi generasi muda Papua untuk menuliskan tentang diri kita sendiri,” katanya.

Tabuni mengatakan, generasi muda Papua harus berani berpikir kritis di tengah persoalan Papua yang semakin rumit. “Generasi muda Papua [harus] banyak membaca buku, menulis, mengedukasi orang melalui tulisannya,” kata Tabuni.

Tabuni menyebut potret pelanggaran hak asasi manusia yang ditulis Nunias Selegani akan menjadi catatan penting pada 20 tahun mendatang, dan bisa menjadi referensi bagi dunia kampus atau lembaga swadaya masyarakat.

“Saya mengajak kepada mahasiswa yang suka berdemo di kampus untuk belajar menulis lagi. Agar apa yang dipikirkan itu bisa disalurkan dalam dunia tulis-menulis,” katanya.

Siska Abugau yang berasal dari Intan Jaya mengatakan buku “Luka Yang Tertular” yang ditulis Nunias Selegani muncul di tengah situasi yang terhimpit, dan ia mengapresiasi Selegani. “Kita membuat buku itu juga obat bagi mereka yang haus akan kedilan di Tanah Papua.  Oleh sebab itu, generasi muda diharapkan menulis semua peristiwa yang ada,” katanya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa