Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

‘Nyawa anak-anak kita yang dipertaruhkan’: perlawanan masyarakat ada Guam terhadap militer AS

Pantai Ritidian di Guam, dekat lokasi lapangan tembak militer AS yang baru. - The Guardian/ USFWS Photo/ Alamy Stock Photo

Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh Sarah Souli

“Sulit untuk berkata dengan pasti kapan seseorang… mulai menyadari permainan sedang berlangsung,” kata Julian Aguon, sebelum berhenti, dan berhenti sejenak. “Untuk saya, hal itu menjadi lebih jelas pada tahun 2005, ketika AS meresmikan kesepakatan bilateral dengan Jepang untuk memindahkan ribuan marinirnya dari Okinawa ke Guam. Perjanjian itu diumumkan begitu saja. Itulah bagaimana hal-hal seperti ini terjadi… Saat itulah saya memutuskan untuk belajar hukum: hukum digunakan untuk mendiamkan orang-orang saya.”

‘Nyawa anak-anak kita yang dipertaruhkan’: perlawanan masyarakat ada Guam terhadap militer AS 1 i Papua

Sekarang bekerja seorang pengacara dan dosen hukum, Aguon mendirikan Blue Ocean Law, satu-satunya firma hukum HAM yang berfokus pada Pasifik. Sebagai seorang asli Chamorro – penduduk pribumi Kepulauan Mariana di Pasifik Barat – Aguon mengikuti adat istiadat leluhur pulau itu yang menghargai alamnya.

Lawannya, selama satu dekade ini, adalah Kementerian Pertahanan (DoD) Amerika Serikat. Pada 2010, Aguon adalah bagian dari sebuah kelompok yang mengajukan tuntutan di bawah UU Kebijakan Lingkungan Nasional, memprotes rencana DoD bernilai AS$ 8 miliar untuk memindahkan 5.000 tentaranya dari Okinawa di Jepang ke Guam pada 2025. Dengan memaksa Angkatan Laut AS untuk melakukan analisis dampak lingkungan hidup tambahan, Blue Ocean Law berhasil menunda pembangunan itu selama beberapa tahun.

Namun, sebuah perusahaan konstruksi yang berbasis di Guam telah memenangkan kontrak senilai $ 78 Juta untuk membangun kompleks lapangan tembak yang baru, fasilitas ini akan dibangun di atas kawasan cagar alam dan beberapa situs pemakaman yang nilai sejarah dan budayanya tinggi. Pembangunannya telah dimulai awal tahun ini.

Dalam kisah David dan Goliath Pasifik ini, Goliath, tampaknya, memimpin.

Loading...
;

Hanya penonton dalam permainan geopolitik

“Hal yang sangat merisaukan tentang situasi kita ini adalah bahwa kita sangat jauh dari DC, dimana keputusan ini diambil,” kata Aguon.

Dengan luas 212 mil persegi dan 160.000 penduduk – hanya 37% diantara populasi Guam adalah penduduk pribumi Chamorro – Guam adalah titik paling barat Amerika Serikat.

“Dimana perayaan Hari Kemerdekaan dimulai,” adalah semboyan tidak resminya.

Guam adalah Wilayah Non-Pemerintahan Sendiri: warga negara Guam juga merupakan warga negara AS, tetapi tanpa hak pilih dalam pemilu nasional, dan mereka tidak memiliki perwakilan di pemerintahan AS.

Dijajah selama 500 tahun, Guam direbut oleh AS dari Spanyol pada 1898, sebelum diduduki oleh Jepang selama perang dunia kedua, hingga AS merebutnya kembali.

DoD AS sekarang memiliki 30% tanah di pulau itu, beberapa di antaranya adalah tanah leluhur yang dirampas setelah perang itu.

Tetapi ada hubungan simbiosis yang rumit antara Guam dengan militer AS: pembelanjaan oleh militer adalah industri utama Guam, dan orang-orang Guam yang mendaftar sebagai militer lebih tinggi per kapita dibandingkan dengan negara bagian AS manapun.

“Guam memiliki sejarah panjang berhadapan dengan konsekuensi kehadiran militer AS,” tutur Aguon.

Baru-baru ini, hal ini telah menempatkan Guam di tengah-tengah ketegangan geopolitik antara Amerika dengan Tiongkok dan Korea Utara.

Pada 2017, ketika Donald Trump mengancam Korea Utara, rezim Kim menanggapinya dengan mengatakan negara itu sedang mempertimbangkan melakukan serangan misil ke Guam.

“Sangat menakutkan untuk menyadari bahwa kita bisa menjadi korban serangan misil ini, dan itu semua adalah permainan,” kata Aguon. “Kita tahu kita bukan pemain dalam permainan itu, kita hanya penonton, tapi ini hidup kita, nyawa anak-anak kita yang dipertaruhkan.”

Dengan pesatnya pengaruh Tiongkok di Pasifik, Guam telah dipandang sebagai lokasi yang semakin penting dari real estat Amerika di lautan terbesar di dunia. Guam tidak akan terlepas dari pendudukan militer AS dalam waktu dekat ini. Pangkalan militer AS di Okinawa sudah lama tidak disukai di Jepang: kebencian ini disebabkan, khususnya, akibat serangkaian tindak kejahatan yang dilakukan oleh personel militer AS termasuk, pemerkosaan, penganiayaan, dan kecelakaan tabrak lari.

Mungkin yang lebih penting, sebagai wilayah kolonial, di Guam persoalan hubungan masyarakatnya akan berbeda dengan apa yang terjadi di pangkalan Jepang. Pulau ini “bukan Okinawa,” kata Mayor Jenderal Dennis Larsen dalam sebuah laporan tentang pangkalan AU Andersen yang ada di Guam, melainkan tempat di mana tentara AS “dapat melakukan apa yang ingin mereka lakukan… tanpa takut akan diusir.”

Militer AS bersikeras kepindahan pangkalannya ke Guam telah dilakukan dengan konsultasi dan kolaborasi dari mereka yang tinggal di pulau itu.

“Saya pribadi ingin melakukan diskusi yang transparan dan berbasiskan fakta dengan pemimpin-pemimpin Guam, sehingga mereka dapat membuat keputusan yang tepat,” kata Laksamana Muda John Menoni tahun lalu.

Pohon terakhir di Guam

Pada 6 Agustus, Blue Ocean Law, bersama dengan Unrepresented Nations and Peoples Organisation mengajukan proposal pertama Guam ke Pelapor Khusus PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat, dengan alasan HAM masyarakat adat Chamorro di Guam telah dilanggar di bawah penjajahan AS dan militerisasi. Rincian dokumen itu berisikan dampak lingkungan hidup yang signifikan dari kebijakan-kebijakan AS di Guam, yang menurutnya, dilanjutkan dengan dimulainya pembangunan lapangan tembak yang baru.

Militer AS menguasai daerah yang dikenal sebagai Ritidian, salah satu situs yang paling penting secara budaya dan ekologis di pulau itu.

Ritidian telah berada di bawah kendali AS sejak 1963, ketika suku pribumi Chamorro dipindahkan dari lahan itu. Daerah itu adalah kampung halaman bagi setidaknya empat desa leluhur dan situs pemakaman mereka, dan area dimana dukun penyembuh, bagian integral dari masyarakat Chamorro, mencari tanaman untuk obat-obatan.

Lapangan tembak di Ritidian berada di tengah hutan karst yang belum disentuh, habitat bagi beberapa spesies unik, termasuk satu spesies kupu-kupu yang terancam punah. Ini juga rumah bagi tanaman endemik langka, beberapa di antaranya hanya ditemukan di Guam. Tanaman Serianthes nelsonii terakhir di pulau itu, yang dikenal oleh lokal sebagai håyun lågu, berada di tengah-tengah lapangan tembak. Militer AS telah mengusulkan memagarkan zona seluas 100 kaki di sekitar pohon itu, sebuah usulan yang ditolak oleh aktivis. Militer akan menebang sedikitnya 1.000 hektare hutan, 8% dari total hutan Guam yang tersisa.

Lautan di sekitar Ritidian adalah habitat bagi penyu dan paus, yang kemampuan akustik dapat diganggu oleh pengeboran dan aktivitas sonar. Nelayan-nelayan lokal juga akan dilarang memasuki daerah perairan tradisional mereka.

Dalam praktiknya, kebijakan mitigasi kerusakan lingkungan DoD hanya tidak sepenuhnya ditaati. Ketika DoD memindahkan lapangan tembak dari Pagat ke area lain di Ritidian, contohnya, lapangan tembak tersebut akhirnya melewati batas pagar yang awalnya ditetapkan sebagai bagian dari kesepakatan mitigasi sebelumnya.

“Sejarah DoD di Guam telah menumbuhkan rasa ketidakpercayaan terhadap mereka,” ungkap Ann Marie Gawel, seorang konservasionis dari Guam dan kandidat PhD di Iowa State University. “Dan rasa ketidakpercayaan itu juga meluas terhadap banyak badan federal lainnya – mulai dari tidak menepati janji, hingga melakukan apa yang mereka inginkan secara semena-mena tanpa masukan dari penduduk setempat.”

Dampak militer terhadap lingkungan hidup di Guam terjadi di mana-mana. Pada 1940-an, mereka dengan tidak sengaja memperkenalkan satu spesies ular pohon, spesies invasif yang memangsa populasi burung lokal. Saat ini, dari 12 spesies burung yang hidup sebelumnya, hanya tinggal dua yang tersisa di pulau itu. Spesies burung yang binasa adalah penyebar biji yang merupakan bagian penting dari ekosistem, dan kepunahannya telah menghasilkan “hutan kosong yang terlihat baik-baik saja bagi orang luar, tetapi penurunnya yang perlahan dapat diamati,” Haldre Rogers, seorang profesor ekologi dan biologi di Iowa State University, berkata.

Saat ini, DoD menerapkan solusi unik untuk masalah yang mereka bawa. Upaya militer mengendalikan populasi ular invasif melalui metode yang sangat efektif, dengan meninggalkan tikus-tikus mati yang diisi dengan Tylenol di hutan, di mana mereka lalu dimakan oleh ular. Namun menurut Rogers, upaya itu juga dilihat sebagai cara untuk menyebarkan racun.

Ada preseden juga untuk kekhawatiran mengenai racun tersebut. Militer AS menguburkan bahan-bahan kimia berbahaya di dalam tanah, termasuk Agent Orange, di hampir 90 lokasi di sekitar pulau itu. Dan karena lokasi lapangan tembak baru dibangun di dekat akuifer di utara Guam, sumber utama air minum di pulau itu, ada kekhawatiran bahwa timah dari peluru atau polutan lainnya mencemari sumber air itu.

Blue Ocean Law melihat tuntutannya sebagai ekspresi dari kesadaran publik yang terus berkembang, penggabungan dari gerakan lokal yang bermunculan yang mengakui dampak dari militer disana, dan mencoba untuk menghentikannya. (The Guardian)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top