Follow our news chanel

Operasi katarak gratis di Sarmi

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KATARAK adalah penyakit mata yang ditandai dengan mengeruhnya lensa mata sehingga membuat penglihatan kabur. Katarak menjadi penyebab utama kebutaan.

Di Kabupaten Sarmi sebagian penderita katarak disebutkan karena faktor usia. Sebagian lainnya karena debu dan benda lain yang merusak mata, sehingga perih berkepanjangan dan lama-kelamaan mengalami kebutaan.

Karena penderita karatak di Sarmi cukup banyak, Rumah Sakit Dian Harapan Jayapura bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI),  Komite Internasional Geneve (ICRC), Pemkab Sarmi, dan Akademi Kesehatan RS Marten Indey menggelar pengobatan massal gratis di Puskesmas Sarmi Kota selama empat hari, Senin-Kamis, 22-25 Oktober 2018.

Dari pantauan Jubi pada Senin, pasien terus bertambah dan nomor antrean semakin besar angkanya sehingga mencapai 299 pada hari pertama tersebut. Pada hari kedua juga datang sejumlah pasien.

Seorang pasien, Susana Tabuar, perempuan 46 tahun, mengatakan mengalami sakit mata sudah lama karena terkena kapur pinang. Ia mengaku sangat sulit mendapatkan pengobatan.

“Mama pu mata ini sudah sakit sejak tiga tahun lebih, Mama pu mata ini kena kapur pinang, pas orang makan mereka buang kapur itu, mereka buang baru debunya yang kena mata,” kata ibu sebelas anak tersebut.

Loading...
;

Semula ia mengira sakit pada matanya akibat kapur tersebut akan segera hilang jika menggunakan obat-obatan tradisional. Namun obat-obatan tradisional yang ia pakai bukan menghilangkan, melainkan membuat kondisi matanya bertahan seperti itu.

“Mana sudah pakai daun teh bendera, terus pakai yang alami-alami tapi hasilnya juga belum baik, Mama kalau baca tulisan besar itu bisa tapi kalau sudah baca Alkitab itu yang sangat sulit sekali sampe mata sakit,” ujarnya.

Perempuan asal Kampung Betaf, Distrik Sawer ini berharap dengan operasi matanya bisa mengalami perubahan agar penglihatannya kembali normal.

Ia juga senang operasi katarak tersebut gratis karena ia juga memiliki keterbatasan biaya untuk berobat ke Jayapura.

“Saya mau saya bisa lihat baik lagi, kalau Mama sudah bisa lihat baik berarti Mama sudah bisa baca Alkitab lagi to, karena Mama ini paling susah kalau baca Alkitab dan melihat tulisan dengan ukuran yang paling kecil-kecil itu,” kata Tabuar.

Pasien lainnya, Agustina Yeroseray, perempuan 37 tahun. Ibu tiga anak tersebut mengalami sakit mata cukup lama.

“Saya sakit mata sudah empat tahun, tapi Mama mau berobat di mana,” ujarnya.

Yeroseray memang berkeinginan untuk memeriksa matanya, karena mata merupakan indra pengelihatan satu-satunya pada tubuh manusia.

“Mau berobat itu pasti butuh uang yang banyak, Mama ne kasihan mau berobat tapi harus pikir anak yang sekolah dan uang makan, tidak mungkin mama cari uang untuk mama saja pu sakit,” katanya.

Berbagai resep pernah ditawarkan teman-temannya, namun resep tradisional tersebut hanya untuk membersihkan, bukan menyembuhkan secara langsung. Obat yang ia beli di apotek pun demikian.

“Mama dengar ada pemeriksaan mata gratis, jadi mama datang, ini kan kesempatan Mama bisa tahu Mama punya penyakit mata itu kenapa,” katanya.

Ia mengatakan kehadiran Rumah Sakit Dian Harapan memberikan layanan pengobatan katarak sangat membantu.

“Dengan kedatangan mereka ini tentu sangat membantu kami, contohnya Mama ini, Mama ini uang tidak cukup, untuk berobat saja susah apalagi kalau untuk transportasi dari Sarmi ke Jayapura pulang-pergi itu susah sekali,” katanya.

Kepala Puskesmas Sarmi Kota, Kabupaten Sarmi, Yohan Z. Sosomar, mengatakan operasi katarak tersebut merupakan yang pertama dilakukan sejak ia menjabat sebagai kepala Puskesmas Sarmi Kota pada 2016.

“Kegiatan berlangsung selama empat hari dan bisa menerima pengunjung sampai 10 ribu,” katanya.

Ia menyambut baik kegiatan tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada Rumah Sakit Dian Harapan (RSDH) yang datang melakukan operasi katarak dan pembagian kacamata gratis.

“Karena di Sarmi fasilitas kesehatan untuk penyakit katarak kurang, karena itu saya bangga dengan kedatangan teman-teman dari RSDH,” ujarnya.

Menurut Sosomar, selama ini ada pasien yang datang ke Puskesmas Sarmi Kota mengeluhkan sakit mata, namun karena tidak ada fasilitas untuk menangani akhirnya pasien dirujuk ke Jayapura.

“Pasien yang menderita katarak itu kami kirim ke Jayapura, karena satu dengan lainnya, keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM), jadi untuk pertama kali ini sangat luar biasa karena bisa menjangkau mereka yang ekonomi lemah dan tidak mampu,” katanya.

Ia berharap Pemkab Sarmi memperhatikan kekurangan tersebut sehingga pasien katarak bisa ditangani di Puskesmas Sarmi Kota atau RSUD Sarmi dan tidak perlu dirujuk ke Jayapura.

“Kita ini Kabupaten dan kalau sampai saat ini tidak ada alat untuk pemeriksaan mata di Sarmi itu sangat sedih, sehingga pemerintah harus siapkan itu karena umur kabupaten ini sudah 15 tahun,” katanya.

Dokter asal Sarmi tersebut berharap fungsi RSUD Sarmi harus ditingkatkan untuk melayani masyarakat Sarmi.

“Saat ini Puskesmas Sarmi Kota yang mengkader semua pelayanan di RSUD Sarmi dan Puskesmas Sarmi Kota merupakan puskesmas rujukan,” katanya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top