Operasi militer dan jejak kekerasan militer Indonesia di Papua

Papua- Penembakan -pembunuhan pendeta Yeremia-operasimiliter
Ilustrasi penembakan - Dok. Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Yogyakarta, Jubi – Jelang ulang tahun Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 1 Desember mendatang.Mabes Polri mengumumkan rencana menggelar patroli besar-besaran.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Awi Setiyono mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan TNI terkait hal itu. Dia tidak merinci berapa personel yang akan dikerahkan dalam patroli besar-besaran itu.

“Kami bersama TNI yang akan melaksanakan patroli besar terkait dengan mengantisipasi, mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Awi di Mabes Polri, Jakarta, Senin (23/11), sebagaimana dilansir CNN Indonesia.

Katanya, Polri juga bakal menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh agama, masyarakat, dan suku, dengan tujuan membuat situasi keamanan di tetap kondusif.

“Kami berharap tidak ada yang berusaha melaksanakan acara-acara memperingati 1 Desember, yaitu hari OPM ya,” ucapnya.

Dilansir dari Tirto.id, pemerintahan Jokowi memprioritaskan pembangunan infrastruktur dan SDM sebagai kerangka besar solusi konflik di Papua.

Salah satu upayanya, Jokowi menerapkan kebijakan BBM satu harga yang disebutnya sebagai bentuk “keadilan” bagi warga Papua.

Loading...
;

Infrastruktur lain yang juga tengah dibangun Jokowi adalah serat optik Palapa Ring. Namun begitu, pembangunan infrastruktur di Papua kerap menimbulkan konflik baru. Ketika pembangunan jembatan Trans Papua, penduduk setempat melawannya, menyebabkan 31 orang tewas.

Untuk meneruskan pembangunan itu, Jokowi menerapkan operasi militer. Selain mengganti pekerja dengan personel TNI, Jokowi membiarkan tentara mengejar pelaku penembakan. Dampaknya, puluhan ribu warga Nduga  tinggal di pengungsian akibat operasi gabungan TNI/Polri di Nduga.

Operasi militer Indonesia bukan barang baru di Papua. Presiden Sukarno, tercatat sebagai sosok yang memulainya, lewat operasi Trikora untuk merebut Papua dari Belanda pada 19 Desember 1961. Soeharto yang menggantikan Sukarno, melanjutkan pendekatan militeristik untuk merebut Papua, termasuk dengan menggunakan operasi khusus untuk memenangkan Pepera.

Amiruddin al Rahab, Peneliti di ELSAM, Jakarta dan Inisiator Pokja Papua lewat riset berjudul “Operasi-operasi militer di Papua; Pagar makan tanaman?” menyebutkan, orang Papua berinteraksi secara nyata dengan entitas negara Indonesia, melalui sebuah perjanjian internasional yang ditandatangani pada tanggal 12 Agustus 1962 di New York dan dilanjutkan dengan referendum (Penentuan Pendapat Rakyat/Pepera) pada 1969.

Papua berintegrasi dengan Indonesia dengan tulang punggungnya pemerintahan militer.

Kehadiran dan sepak terjang ABRI yang kerap melakukan kekerasan di Papua di kemudian melahirkan satu sikap yang khas Papua pula, yaitu Indonesia diasosiasikan dengan kekerasan, tulis Amiruddin yang kini menjabat komisioner Komnas HAM RI periode 2017-2022.

Untuk keluar dari kekerasan, orang-orang Papua mulai membangun identitas Papua sebagai reaksi untuk menentang kekerasan yang dilakukan oleh para anggota ABRI yang menjadi representasi Indonesia bertahun-tahun di Papua.makna yang terbangun di balik itu adalah menolak menjadi Indonesia berarti menolak menjadi korban kekerasan dari ABRI.

Sikap ABRI atas reaksi orang-orang Papua bukannya mencari jalan penyelesaian secara damai, melainkan mengintensifkan kekerasan.

Dengan latar sejarah dan posisi politik seperti itu, lanjut Amiruddin, militer di Papua merasa dan melihat dirinya sebagai satu-satunya institusi yang menjaga keutuhan Indonesia di Papua.

Pada gilirannya, militer di Papua selalu bertindak keras terhadap segala bentuk gerakan atau opini yang mempertanyakan atau memprotes keadaan yang dirasakan kurang adil oleh tokoh-tokoh Papua.

Militer Indonesia di Papua sangat mudah memvonis seluruh bentuk protes orang Papua sebagai gerakan separatis. Ketika cap separatis sudah dialamatkan oleh militer kepada seseorang di Papua, maka orang itu akan bisa menjadi korban dalam sekejap. Baik menjadi korban penculikan, penyiksaan, bahkan pembunuhan. Aksi kekerasan itu berlangsung bertahun-tahun, dengan ribuan korban jiwa. (*)

Editor: Syam Terrajana

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top