HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Opini publik disetir bot, warga harus cerdas memilah info medsos

Foto ilustrasi robot/bot. - pixabay.com
Opini publik disetir bot, warga harus cerdas memilah info medsos 1 i Papua
Foto ilustrasi robot/bot. – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jumat – Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, Giri Suprapdiono menyatakan opini publik sehari-hari sering disetir robot atau bot. Penggunaan robot atau bot itu dilakukan untuk membolak-balik persepsi publik terhadap sebuah isu atau topik, sehingga opini publik bisa digiring sesuai kemauan pengguna robot atau bot.

Menurut Giri, penggiringan opini publik itu juga terjadi dalam polemik pemberantasan korupsi di Indonesia.  “Sekarang perang media sosial itu pakai metodologi. Perang bertujuan membuat bimbang sikap publik kepada pemberantasan korupsi. Untuk menggiring opini pembenaran atau justifikasi, digunakan bot-bot,” ujar Giri saat dihubungi Kantor Berita Antara, Jumat (13/12/2019).

Opini publik disetir bot, warga harus cerdas memilah info medsos 2 i Papua

Giri menyatakan masyarakat harus lebih cerdas menyikapi maraknya penggunaan robot atau bot untuk memanipulasi opini publik. Sebab, demikian menurut Giri, kemampuan klarifikasi di media arus utama belum bisa mengimbangi penggiringan opini oleh robot dan bot tadi.

Menurut Giri, media cetak dan media daring tidak bisa membalikkan opini robot itu karena media tersebut dalam analisis jaringan medsos berada pada posisi arbitrase (di tengah), tidak bisa mengimbangi derasnya opini tersebut. Dalam perang digital ini, kata Giri, masyarakat harus lebih cerdas dari bot tersebut.

Giri menyebut robot dan bot bisa digunakan untuk terus menerus memproduksi komentar palsu yang menjelek-jelekkan KPK. Komentar palsu itu dibuat sedemikian rupa, sehingga terkesan sebagai komentar orang lain, padahal hanya dibuat oleh robot.

Akibatnya, orang yang sebelumnya netral menyikapi sebuah isu bisa termanipulasi. Orang yang netral dalam sebuah isu, termasuk dalam kontroversi pelemahan KPK misalnya, akan menganggap komentar yang jumlahnya lebih banyak memiliki tingkat kebenaran lebih tinggi dibanding komentar yang jumlah sedikit. Ketika adalah lebih banyak komentar jelek tentang KPK, orang yang netral bisa terjebak untuk ikut mempersepsi KPK jelek.

Loading...
;

“Kalau dibaca sekarang media arus utama pada komentarnya, misalnya ada 500 komentar yang berbicara jelek soal KPK, ada satu saja yang dukung KPK. Seakan-akan yang benar yang banyak tadi,”Jadi, masyarakat harus lebih cerdas. Kalau namanya aku tertentu, belum tentu akun itu manusia. Jangan-jangan bot itu,” ujar Giri.

Giri sendiri menilai para pendungung telah menggunakan robot dan bot untuk menggiring opini framing negatif kepada KPK dalam rangka pembenaran (justifikasi) revisi UU KPK dan macam-macam kepentingan lainnya. Misalnya, isu taliban dan radikalisme di KPK, itu dipakai ciri-ciri yang terlihat secara fisik untuk menggiring alam bawah sadar masyarakat.

“Misalnya, jenggotan dibilang taliban, padahal bisa saja dia anggota klub motor. Atau, orang abis salat, tiba-tiba disuruh menjemput Novel Baswedan di depan kantor, lalu dijepret, masih memakai kopiah. Nah, itu dikira taliban.” ujar Giri.

Penggiringan opini juga dilakukan dengan framing. Misalnya, ada kasus KPK menangkap Ketua Umum PPP Romahurmuziy, lalu KPK menangkap mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, keduanya anggota Nahdlatul Ulama (NU). Karena mereka berdua kader NU, dibentuklah framing jika KPK memusuhi NU, padahal tidak demikian.

“Saya pernah ditanya, emang KPK menargetkan orang NU? Enggaklah. KPK cinta banget NU, Muhammadiyah, dan ormas lainnya. Banyak kerja sama kami lakukan. KPK itu imparsial, independen. Tidak berpihak, kecuali kebenaran dan keadilan,” ujar Giri.

Lebih sulit lagi, menurut Giri, ketika framing dilakukan dengan dukungan visual. Karena masyarakat biasanya lebih sensitif dengan masalah visual, tidak pada sesuatu yang esensial. Untuk mengatasi itu, selain memakai rasional, Giri menyarankan agar masyarakat diminta untuk memperbanyak bertanya dan proaktif dalam forum-forum diskusi.

“Forum-forum diskusi seperti itu penting. Karena metode perang pemikiran dan syaraf dalam mengendalikan otak manusia sekarang makin canggih,” kata Giri.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa