Follow our news chanel

Orang Marind Buti dan perburuan ikan kakap China

Nelayan asal Bulukumba di depan kapal motor ikan, mencari ikan kakap china sampai ke PNG-Jubi/dominggus mampioper
Orang Marind Buti dan perburuan ikan kakap China 1 i Papua
Nelayan asal Bulukumba di depan kapal motor ikan, mencari ikan kakap china sampai ke PNG-Jubi/Dominggus Mampioper

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi- Puluhan kapal motor milik nelayan asal Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan berjejer rapi di bibir pantai Lampu Satu, Kabupaten Merauke. Ada pula ratusan kapal motor yang melepaskan jangkar di laut berpasir, sambil menunggu waktu yang tepat untuk kembali melaut.

Tak ada satupun nelayan asal Marind Buti yang melaut. Padahal dulunya mereka yang menguasai laut di Lampu Satu Merauke. Missionaris Katolik menginjili dan mengajari tentang Bunda Maria serta Putranya Yesus Kristus di Kampung Marind Imbuti (Buti). Kontak pertama orang Marind dengan Pastor Van Der Heijden SJ pada 1892.

Barulah pada 14 Agustus 1905 Pastor Henry Nolen MSC dan kawan-kawan mulai mendirikan gereja kecil di Kampung Wendu di pesisir pantai lalu berpindah ke Kampung Buti di pantai Lampu Satu. Gereja Katolik Santa Theresia, jalan Arafura Buti Kelurahan Samkai adalah Gereja Katolik pertama di Kampung Buti, bagi orang orang Marind Buti.

“Orang Buti dari sananya memang nelayan yang melaut,”kata Herry Ndiken pengusaha dan intelektual asal Marind di Kabupaten Merauke, kepada Jubi, Selasa (17/12/2019) seraya menambahkan sudah menjadi kewajiban Dinas Perikanan Kabupaten Merauke membina dan mengembangkan kemampuan mereka dalam mencari ikan.

Hal senada juga dikatakan Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Marind Imbuti (Buti) Xaverius Bavo Gebze kepada Jubi dan Tirto.id, Rabu (18/12/2019) tentang kondisi terkini masyarakat Marind Imbuti di Kota Merauke.

“Orang Marind era 1970 an masih kelihatan mereka masih berjualan kelapa, ikan dan udang, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi karena perubahan dalam pembangunan, “kata Gebze. Rabu (18/12/2019) di kediamannya. Dia menambahkan orang Buti sudah tidak bisa lagi menjaring ikan dan udang karena areal pencaharian mereka sudah terdapat banyak kapal-kapal nelayan berlabuh.

Loading...
;

“Memang ada pembinaan terhadap nelayan orang Buti sampai ke Surabaya maupun ke Sorong sampai sekarang sudah tidak ada tindak lanjutnya,”kata Gebze seraya menambahkan kini orang Buti menjual pasir dan juga melepaskan tanah adatnya sendiri.

Tak ada pilihan lagi, kata Gebze mungkin hanya minuman keras (Miras) dalam kehidupan orang-orang Marind Buti. “Ketika masyarakatnya berhadapan dengan Miras saya hanya bisa serahkan kepada pihak polisi saja untuk menyelesaikan,”katanya.

Orang Marind Buti dan perburuan ikan kakap China 2 i Papua
Gereja Katolik pertama di Kabupaten Merauke-Jubi/dam

Dia menambahkan, mau melarang orang-orang Buti untuk menjual pasir juga serba salah. karena mereka punya kebutuhan dan guna memenuhi kehidupan mereka. “Kalau mereka mau menjual tanah mereka, saya juga tak bisa menahan karena itu milik mereka,”katanya.

Solusinya kata Gebze, kalau mau membangun jangan mengambil pasir dari lahan-lahan milik warga karena akan berdampak buruk. “Lobang-lobang empang bekas galian akan semakin banyak,”katanya.

Nelayan Bulukumba

Berbeda dengan nelayan orang Marind Buti, nelayan-nelayan asal Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan mencari gelembung ikan kakap China karena laku di pasaran.

Salah seorang nelayan asal Bulukumba kepada Jubi di pantai Pasir Lampu Satu Merauke mengaku kapal kapal motor kayu yang berjejer sedang diperbaiki dengan memakai lembaran kayu besi (Merbau).”Kita perbaiki karena saat melaut mencari ikan kakap China bisa sampai ke laut Papua New Guinea,”katanya kepada Jubi, Selasa (17/12/2019)seraya menambahkan harga gelembung ikan kakap China per ons mencapai sembilan juta rupiah.

Jubi mengutip https://kkp.go.id menyebutkan nelayan-nelayan di Papua bagian selatan di Kabupaten Merauke dihebohkan dengan perburuan gelembung ikan yang memiliki nilai jual yang fantastis di pasaran.

Informasi dari para nelayan perburuan ini dimulai sejak periode awal era tahun 2000-an dan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya permintaan serta lonjakan harga di pasaran. Bahkan banyak kapal yang dulunya pencari hiu mengalihkan target buruannya ke gelembung ikan.

Ikan-ikan yang biasanya diburu untuk diambil gelembung renangnya biasa disebut masyarakat lokal sebagai ikan Duri/Ote, ikan Kakap Putih, ikan Kuro, ikan Kakap Cina/Angkui dan ikan Gulama, tetapi yang paling diburu adalah ikan Kakap Cina dan ikan Gulama karena memiliki harga gelembung renang yang jauh lebih mahal dibandingkan 3 jenis ikan lainnya. Ikan-ikan tersebut biasanya banyak ditemukan di area muara sungai atau perairan yang dekat dengan pantai. Bentuk gelembung ikan yang sudah kering sekilas mirip dengan kerupuk dan apabila dilihat oleh orang awam akan dianggap biasa saja.

Negara yang banyak mengkonsumsi gelembung ikan dan merupakan tujuan ekspor terbesar adalah China. Gelembung ikan ini biasanya diolah menjadi bahan makanan seperti sup, selain itu informasi yang didapat dari para pengumpul, gelembung ikan ini juga digunakan sebagai bahan untuk membuat benang operasi. Jumlah pengiriman gelembung ikan yang sudah dikeringkan dari Kabupaten Merauke terbilang cukup besar.

Mengutip data dari SKIPM Merauke atau Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan kelas II Merauke menunjukan pada 2018 saja, sejak Januari hingga Juni jumlah pengiriman gelembung ikan dari Merauke mencapai 82.000 kilogram.

Untuk menentukan harga jual dari gelembung ikan kecuali untuk gelembung ikan Duri/Ote, para pengumpul biasanya mengelompokkan terlebih dahulu berat per satuan setiap gelembung ikan. Kemudian memberikan harga setiap kelompok berat per kilogramnya, tentu saja semakin berat suatu gelembung ikan harganya semakin mahal.

Daftar Harga gelembung ikan yang sudah dikeringkan, yang diperoleh dari informasi para pengumpul di Kabupaten Merauke, untuk ikan Duri/Ote seharga Rp.150.000/kg, ikan Kuro mulai dari kategori dengan berat dibawah 10 gram seharga Rp.500.000/kg hingga yang kategori berat 100 gram ke atas seharga Rp.2.200.000.

Ikan kakap putih mulai dari kategori dengan berat di bawah 10 gram seharga Rp.650.000/kg hingga yang kategori berat lebih dari 100 gram seharga Rp.4.300.000/kg, ikan kakap Cina/Angkui yang berjenis kelamin betina mulai dari kategori dengan berat dibawah 30 gram seharga Rp.1.000.000/kg hingga yang kategori berat lebih dari 200 gram seharga Rp.18.000.000/kg.

Sedangkan ikan Kakap Cina/Angkui berjenis kelamin jantan mulai dari kategori dengan berat 50 gram seharga Rp.11.000.000/kg hingga yang kategori berat lebih dari 200 gram seharga Rp.28.000.000/kg. Ikan Gulama memiliki nilai jual paling tinggi memiliki harga dimulai dari kategori dengan berat 10 gram seharga Rp.20.000.000/kg hingga yang kategori berat lebih dari 40 gram seharga Rp.50.000.000/kg. Harga-harga tersebut menurut data SKIPM Merauke SKIPM Merauke merupakan perkiraan dari pengumpul dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi di pasaran.

Harganya yang tinggi membuat perburuan terhadap gelembung ikan semakin gencar dilakukan. Terlebih dengan adanya moratorium kapal asing menjadi berkah tersendiri bagi para nelayan di Kabupaten Merauke.

Sebelum adanya moratorium, lautan Merauke tidak ada lagi kapal-kapal trawl asing yang mendominasii perairan Arafura, Merauke. Bahkan permintaan pembuatan kapal ikan pun semakin meningkat. Pantauan Jubi di Pantai Lampu Satu Merauke, banyak deretan pembuatan kapal-kapal ikan mulai dari yang berukuran kecil hingga besar.(*)

Editor: Syam Terrajana

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top