Orang-orang Pasifika berbagi budaya melalui TikTok

Pengguna TikTok, Mikaele Oloa, berkata orang-orang ingin tahu tentang budaya dan cara hidup Samoa. - Pacific Beat/ ABC/ Mikaele Oloa

Papua No.1 News Portal | Jubi

Sydney, Jubi – Lebih dari 58.000 pengguna platform TikTok telah menonton Mikaele Oloa mengiris daun pisang untuk membuat ula laufa’i, kalung tradisional Samoa.

Pria berusia 29 tahun itu juga merekam dirinya melakukan Tarian Pisau Api yang disebut siva afi.

Oloa, yang tinggal di Hawai’i, mengatakan bahwa postingan-nya yang paling populer di TikTok adalah yang mengajari orang-orang tentang budaya Samoa. Hanya dalam empat bulan, Oloa telah mendapatkan hampir 7 juta ‘like’ dan lebih dari 630.000 pengikut.

Kontennya menampilkan sejumlah video tutorial satu menitan tentang cara menganyam gelang, membuat santan, dan menyalakan api menggunakan bahan-bahan di alam.

Oloa adalah satu dari banyak orang-orang Kepulauan Pasifik yang menggunakan platform media sosial itu untuk merayakan dan membagikan budaya mereka. Kanal TikTok-nya telah menarik penggemar dari seluruh dunia, dengan pengikut dari Arab Saudi, Eropa, dan India.

Menurutnya, orang-orang ingin tahu tentang cara hidup Samoa. “Ini sebenarnya cara hidup orang-orang di Samoa. Bagi saya, saat kita masih kecil, kita berolahraga di bawah sengatan cahaya matahari, bertani, memulai api, membuat santan. Kehidupan di Samoa itu tidak mudah. Tapi kita harus melakukannya untuk memenuhi kebutuhan kita.”

Loading...
;

Meskipun platform ini semakin populer di seluruh dunia, keamanan TikTok telah dikritik.

Parlemen Australia akan melakukan penyelidikan parlemen atas campur tangan asing setelah tuduhan bahwa TikTok telah membagikan data pengguna dengan pemerintah Tiongkok.

‘Dokter TikTok’ dari Vanuatu

Annette Garae adalah seorang dokter anak dari Vanuatu yang baru-baru ini mulai mengunduh video TikTok untuk menghibur dirinya.

“Menurut saya TikTok itu juga mendidik, kita bisa mempelajari hal-hal melalui TikTok, dan belajar cara menggunakan kamera,” katanya. “Dan, tentu saja, saya suka menari.”

Namun ketika Siklon Harold kategori lima melanda Vanuatu pada awal tahun ini, Dr. Garae menemukan kegunaan lain dari TikTok. “Perawat-perawat sangat sibuk setelah Harold, dan kemudian mempersiapkan rumah sakit untuk Covid-19 juga,” kata Dr. Garae.

Jadi saat merayakan Hari Perawat sedunia, ia memutuskan untuk mengajak mereka belajar dan merekam video menari di TikTok.

“Semua orang tertawa, dan merasa terhibur. Sangat puas melihat para perawat tersenyum dan sedikit terhibur, terlepas dari semua stres dan tantangan setiap hari dengan pekerjaan,” ungkapnya.

Popularitas baru Dr. Garae di TikTok juga telah mendukung pekerjaannya dalam hal mempromosikan kesehatan. Ia telah menggunakan platform tersebut untuk mengajarkan orang tua di Vanuatu cara membahas topik kesehatan yang sulit dengan anak-anak mereka, seperti imunisasi dan suntikan.

Beberapa pasien mudanya bahkan memanggilnya ‘Dokter TikTok’.

Dr. Garae menambahkan bahwa TikTok juga memungkinkan dia dan pengguna asal Kepulauan Pasifik lainnya untuk kembali pada budaya mereka dengan cara yang baru.

Namun terlepas dari kegemarannya menggunakan TikTok, Dr. Garae juga mengungkapkan keprihatinannya mengenai bagaimana platform tersebut mengumpulkan dan menyimpan data pengguna.

Dia menegaskan banyak hal yang harus dilakukan untuk mendidik anak-anak muda dari Kepulauan Pasifik tentang risiko dari membagikan informasi pribadi secara daring. (Radio Australia/Pacific Beat)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top