HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Dr Benny Giyai: Orang Papua harus memutus mata rantai ketergantungan pada pemerintah

papua Dr Benny Giyai
Ketua Sinode Gereja KINGMI di Tanah Papua Pdt. Dr. Benny Giyai - Jubi/Agus Pabika.

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Jayapura, Jubi – Orang Papua harus mengutamakan kemandirian berpikir untuk memutuskan mata rantai ketergantungan kepada pemerintah dan ekonomi dari para pendatang.

Demikian disampaikan tokoh Papua yang juga antropolog, Dr. Benny Giyai kepada Jubi, Senin (1/5/2020). Salah satu cara, kata Giyai, adalah dengan belajar dan mengembalikan spirit berkebun.

Dr Benny Giyai: Orang Papua harus memutus mata rantai ketergantungan pada pemerintah 1 i Papua

“Saya kira mulai sekarang masyarakat Papua harus kembangkan kemandirian pangan,” kata antropolog yang meraih gelar doktor Antropologi Sosial di Vrije Universiteit, Amsterdam tersebut.

Menurut Giay, orang Papua sebenarnya tidak asing lagi dengan pertanian modern.

Bahkan Prof. Dr. Heinzpeter Znoj, antropolog dari Universitas Bern, Swiss memperkirakan orang Papua di pegunungan, mulai dari wilayah Meepago sampai Papua New Guinea, sudah mengenal pertanian modern sejak 8.000 hingga 9.000 tahun lalu.

Itu jauh lebih awal dari orang Jawa mengenal pertanian modern yang diperkirakan baru 5.000 tahun yang lalu.

“Sehingga orang Papua hari ini kembali ke kebun itu langkah yang tepat, tidak boleh menggantungkan nasib ke pemerintah,” katanya.

Loading...
;

Menurut Giyai yang juga ketua Sinode Papua, Prof. Dr. Heinzpeter Znoj mengakui bahwa orang Papua sudah berkebun dengan mengenal sistem pengairan dan sistem pertanian, meski peralatan kerja sangat tradisional.

“Sekarang orang Papua harus belajar dan mengembalikan spirit berkebun tersebut,” ujarnya.

Giyai mengatakan, pada 1950-an dan 1990-an masyarakat Mee mengangkat tema harus kebun. Kebun itu tema penting yang diperjuangkan oleh gerakan perubahan di Meeuwo Bobi pada 1960-an.

“Selain membudidayakan tanaman lokal, mereka juga mempromosikan bibit tanaman kol, wortel, dan kentang yang dipromosikan oleh Belanda, mereka promosikan pasar lokal, kemudian komunitas yang bersih,” ujarnya.

Berdasarkan penjelasan Profesor Znoj, kata Giyai, orang harus menjaga ketahanan pangan lokal. Karena itu orang Mee dan pegunungan harus kembali kepada ketahanan pangan dalam tema kebun tersebut.

“Dalam budaya orang Mee dikenal ‘Ekonomi Owada Benny Makewa Pigai’, yang mereka kembangkan sekarang, di masa pandemi ini semangat masyarakat Papua harus kembali berkebun, itu langkah yang tepat dan bukan kebetulan,” katanya.

Karena itu, lanjut Giyai, tema kebudayaan untuk kedaulatan pangan tersebut harus digelorakan kembali.

Disrtasi doktor Giyai juga mengkaji gerakan Zakeius Pakage dan Gerakan Touye di Meepago. Di sana dibahas bagaimana oranga Mee harus kembali berkebun. Di suku-suku lain, tambahnya, juga ada kebudayaan serupa.

“Karena itu saya harapkan bangsa Papua harus mulai dari kebun, sebab kami berakar dari kebun, selama ini hanya pendekatan ke negara yang salah sehingga membuat OAP (Orang Asli Papua) seakan-akan tidak berdaya dengan (memberikan bantuan) raskin (beras untuk orang miskin) dan sebagainya,” ujarnya.

Menurut Giyai, persoalannya adalah negara Indonesia menyamaratakan pendidikan di Jawa dengan di daerah lain dan di Papua. Sehingga orang Papua sendiri berpikir dianggap tidak punya apa-apa.

“Pertolongan dari pemerintah itu saja, ini bentuk diskriminasi rasis yang diterapkan, pendidikan di bangsa ini mengubah cara pandang orang Papua,” ujarnya.

Ketua Dewan Adat Papua Dominggus Surabut mengapresiasi para generasi muda di sejumlah wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Keerom, Lanny Jaya, Nabire, dan Paniai, serta hampir di Papua dan Papua Barat yang kembali berkebun.

Kesadaran kolektif untuk kembali berkebun itu muncul di tengah pandemi Covid-19 yang membuat Pemerintah Provinsi Papua menutup akses seluruh angkutan penumpang dari luar Papua.

Surabut menilai kesadaran generasi muda Papua untuk kembali berkebun akan membangun kepedulian kepada pangan lokal dan kedaulatan pangan di Papua.

“Saya mengapresiasi pemuda-pemudi yang kembali berkebun, situasi sulit pandemi Covid-19 meneguhkan mereka untuk kembali berkebun demi mempertahankan kedaulatan pangan lokal di Papua,” katanya.

Menurut Surabut, situasi krisis seperti pandemi Covid-19 membuat banyak generasi muda memikirkan kembali pentingnya pangan lokal.

Sebuah kesadaran kolektif terbentuk, bahwa dalam situasi kritis kemampuan bertahan hidup akan ditentukan siapa yang memiliki bahan pangan.

“Mari kita jaga dusun kita dan tanah kita dengan berkebun, yang di rawa silahkan jaga dusun sagu, yang di pesisir jaga laut dan pohon sagu, jangan biarkan dusun kita kosong, sebab orang asing akan beranggapan tanah kita tak berpenghuni,” katanya.

Menurut Surabut pangan lokal juga bermanfaat bagi tubuh dan mempunyai gizi yang tinggi ketimbang beras. Berkebun juga penting untuk menyelamatkan berbagai jenis komoditas pangan lokal yang Tuhan berikan kepada Orang Papua. (*)

Editor: Syofiardi

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa