Follow our news chanel

Previous
Next

Otoritas di Fiji dituding blokir investigasi atas polisi dan sipil penjara

Fiji Pasifik Papua
Kepala Layanan Pemasyarakatan Fiji (FCS), Panglima Francis Kean. - Fiji Corrections Service

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Kelvin Anthony* dan Ben Doherty**

Pelapor pelanggaran atau whistleblower badan pengawas Hak Asasi Manusia Fiji menyatakan sejumlah pengaduan masyarakat terkait polisi dan sipir penjara di Fiji-termasuk laporan terjadinya penganiayaan berat terhadap seorang tahanan muda-telah diblokir agar itu tidak diselidiki oleh pihak berwenang. Para whistleblower menyatakan keprihatinan mereka bahwa badan tersebut tidak bebas dari pengaruh pemerintah.

Staf yang masih bekerja maupun mantan staf Komisi Nasional HAM dan Anti-Diskriminasi Fiji (FHRADC) mengungkapkan bahwa petugas penyelidik FHRADC sering kali ditolak saat mereka ingin berkomunikasi dengan para korban dugaan kekerasan oleh otoritas Fiji. Sejumlah dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh polisi atau petugas lapas diabaikan atau tidak diselidiki dengan benar.

“Selama bekerja dengan FHRADC, saya telah mengirim lebih dari 70 surat ke berbagai lembaga negara, dan sekitar 55 surat itu  dikirimkan ke layanan pemasyarakatan dan polisi,” ungkap seorang pelapor kepada The Guardian. “Dari polisi, kita jarang sekali menerima tanggapan apa-apa. Dari layanan pemasyarakatan, tanggapan yang kita terima selalu  dalam bentuk penolakan.”

Baca juga: Sekelompok Anggota Parlemen Fiji dipanggil komisi antikorupsi

Pelapor kedua, juga bagian dari FHRADC, menduga ada upaya oleh para pejabat senior untuk menghalangi penyelidikan mereka.“Berbagai pengaduan yang diterima sampai ke meja direktur, tapi tidak dilanjutkan.”

Direktur FHRADC, Ashwin Raj, telah membantah tuduhan itu. Ia menegaskan kepada Guardian bahwa semua pengaduan telah diselidiki “dengan independen dan objektif.” Raj menambahkan bahwa FHRADC terus bekerja  untuk “mengubah budaya (pelanggaran) HAM di Fiji”, termasuk diantaranya dengan meningkatkan akses pada keadilan untuk semua tahanan dan mereka yang mengeluh adanya penyalahgunaan wewenang oleh kepolisian Fiji.

Loading...
;

Ratusan pengaduan soal kekerasan dan pelanggaran 

Data-data dari FHRADC yang diterbitkan untuk publik menunjukkan bahwa tuduhan-tuduhan tindak kekerasan oleh polisi dan petugas lapas adalah dua sumber keluhan terbesar yang diajukan kepada  badan itu. Statistik dari tiga laporan tahunan terakhir mengonfirmasikan tingginya pengaduan pelanggaran HAM yang meluas dari kepolisian dan layanan pemasyarakatan.

Pada 2016, dari 131 pengaduan yang dianggap “dalam lingkup yurisdiksi” FHRADC, 49 pengaduan terkait dengan dugaan pelanggaran HAM oleh polisi dan layanan pemasyarakatan. Setengahnya adalah tuduhan kekerasan, termasuk serangan yang saking parahnya sampai seseorang harus dirawat di rumah sakit. Setengahnya lagi adalah pelanggaran lainnya, termasuk penahanan ilegal, menghalangi proses penyidikan, dan memaksa orang-orang untuk menandatangani pernyataan.

Baca juga: Pemerintah Fiji dan gereja berselisih akibat intervensi atas debat publik

Pada 2017, terdapat 213 pengaduan, dan 63 diantaranya pengaduan terkait tindakan kekerasan dan pelanggaran profesional oleh polisi dan petugas lapas. Kasus yang diadukan itu termasuk dugaan penyerangan terhadap anak di]bawah umur yang menyandang disabilitas, penggeledahan telanjang atas anak-anak, dan dugaan pencurian.

Pada 2018, dari 154 laporan yang diterima FHRADC, 54 diantaranya pengaduan terhadap polisi dan petugas lapas. Salah satunya adalah pengaduan kasus seorang pria yang meninggal setelah diduga diserang polisi di luar sebuah klub malam.

Semua laporan tidak memberikan informasi detail mengenai hasil penyelidikan komisi itu. Sementara, laporan FHRADC tahun 2019 belum diterbitkan.

Seorang mantan karyawan komisi FHRADC-The Guardian sepakat untuk merahasiakan identitasnya-berkata dia menyaksikan ada laporan yang diterima oleh FHRADC yang lalu disembunyikan. Pasca itu, muncul teguran bahwa temuan itu yang merugikan lembaga negara seperti polisi atau sipir penjara, dan dapat membahayakan direkturnya.

“Seharusnya mereka tidak merasakan saat ada pelanggaran HAM terjadi. Kita seharusnya melayani masyarakat.”

Ia menyatakan FHRADC menerima “ratusan laporan“, tetapi mereka kekurangan tenaga penyidik. Hanya ada satu petugas penyidik menangani semua kasus, yang “sebagian besar diadukan terhadap fasilitas-fasilitas penahanan.”

Dia menyampaikan kepada The Guardian bahwa dia prihatin komisi itu mungkin telah menyembunyikan pengaduan-pengaduan yang mengkritik situasi di Fiji, “terutama terkait hal-hal yang terjadi di dalam fasilitas-fasilitas penahanan”.

Baca juga: Wabah DBD dan leptospirosis di Fiji

Pelapor kedua membenarkan pernyataan mengenai keterbatasan sumber daya manusia dalam FHRADC. “Hanya ada dua orang yang diharapkan untuk melayani populasi yang hampir mencapai satu juta orang di negara ini.”

Kadang-kadang ada kasus penting, membuat isu kekerasan negara menjadi perhatian publik. Sejumlah lima anggota kepolisian Fiji diadili setelah melakukan sebuah serangan pada bulan April lalu, dimana seorang pria terluka parah setelah dilemparkan dari jembatan. Dalam kasus berbeda, dua sipir penjara didakwa dengan pembunuhan pada bulan April, dan dua lainnya didakwa dengan melakukan penyerangan yang membuat seorang pria terbunuh di sebuah penjara di Lautoka.

Namun mantan staf FHRADC, dan kelompok HAM internasional, berpendapat bahwa kasus-kasus di atas baru diketahui FHRADC setelah ada pemberitaan media dan tekanan publik. Proses hukum dalam kasus diatas disebut sebagai pengecualian, dan bukan yang umumnya terjadi.

Dipimpin oleh ipar perdana menteri 

Pelapor itu juga menuduh bahwa Panglima yang saat ini memimpin Layanan Pemasyarakatan Fiji (Fiji Corrections Service; FSC), Francis Kean, tidak mengizinkan staf FHRADC untuk menyelidiki kasus-kasus yang dilaporkan oleh kerabat para narapidana. Pelapor menyebutkan bahwa pada 2019, mereka menerima pengaduan dari ibu seorang napi muda yang luka-luka setelah diduga dipukul oleh sipir penjara.

Tuduhan itu diberhentikan setelah ada penyelidikan internal. FHRADC tidak diperbolehkan untuk menyelidiki kasus itu.

Kean, ipar Perdana Menteri Frank Bainimarama, merupakan sosok utama dalam investigasi Guardian pada Mei lalu. Investigas itu dilakukan setelah empat mantan sipir penjara-dua di antaranya adalah staf Kean-menuduh Kean sering memerintahkan staf untuk menyerang narapidana. Kedua pria itu, yang saat ini sedang mencari suaka di Australia, menggambarkan kepemimpinannya sebagai kediktatoran.

Baca juga: Fiji nominasikan calon Sekjen PIF

Kean pernah ditetapkan bersalah atas kasus pembunuhan pada 2007, setelah ia berkelahi dalam sebuah acara pernikahan, hingga seorang pria meninggal. Dia hanya divonis hukuman 18 bulan di penjara, dan hanya ditahan selama beberapa bulan. Juru bicara Kean membantah tuduhan kedua orang tersebut.

Raj membantah semua tuduhan bahwa FHRADC memiliki bias politik dalam menindaklanjuti pengaduan dugaan pelanggaran HAM. Ia juga membantah FHRADC menyembunyikan sesuatu.

Kepada The Guardian, Raj menegaskan “pemimpin layanan pemasyarakatan dan polisi telah menunjukkan kesediaan mereka untuk bekerja dengan komnas HAM dalam menghilangkan hambatan-hambatan sistematis dalam perlindungan HAM di lembaga-lembaga mereka.”

Raj mengatakan peran FHRADC “bukan hanya untuk mendesak pertanggungjawaban negara, tetapi juga terlibat secara konstruktif dengan negara untuk memperkuat perlindungan HAM. “Ini tidak boleh disalah artikan sebagai kolusi. Ini berarti sebuah lembaga HAM nasional lebih memilih untuk melakukan dialog dengan negara, bukan konfrontasi, dan hasil yang dimediasikan bukan saling menuduh, sambil tetap meminta pertanggungjawaban mereka atas dugaan pelanggaran HAM.”

Badan-badan HAM internasional, termasuk Amnesty dan Human Rights Watch Australia, sudah berulang kali menyuarakan keprihatinan tentang pelanggaran HAM oleh lembaga-lembaga negara di Fiji.

* Kelvin Anthony adalah seorang wartawan lepas dari Fiji yang tinggal di Australia.

** Ben Doherty adalah reporter Guardian Australia. Ia adalah pemenang tiga penghargaan Walkley.

(The Guardian) 

Editor: Aryo Wisanggeni G

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top