Follow our news chanel

Previous
Next

Otsus buka peluang transmigrasi di tanah Papua

papua, transmigrasi
Pastor Santon Tekege, Pr (kanan) berdiskusi dengan Ketua DPRD Deiyai Petrus Badokapa - Jubi/Abeth You

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Deiyai, Jubi – Peningkatan para migran di tanah Papua semakin melebihi standar internasional yakni 7,5 persen setiap tahun.
Hal itu dikatakan Pastor Santon Tekege, Pr selaku petugas Pastoral Keuskupan Timika. Data itu diperolehnya dari mantan Gubernur Papua Barnabas Suebu. Katanya, laju pertumbuhan penduduk migran dapat mempengaruhi corak hidup dan kekhasan orang asli Papua (OAP).

“Data BPS Propinsi Papua,Transmigran didatangkan ke Papua sejak 1971/1992 berjumlah 12.500 jiwa. Tahun 1992/1993 sebanyak 16.391 jiwa, Sejak tahun 1994/1995: 22.234 jiwa. Penduduk semakin bertambah di tahun 1995/1996: 35.716 jiwa. Pada tahun 1996/1997 menjadi 36.778 jiwa. Penduduk non Papua semakin bertambah ruah sejak 2000/2001 menjadi 40.788 jiwa di tanah Papua, ini aneh,” ungkap Pastor Santon Tekege kepada Jubi di Deiyai, Kamis, (20/8/2020).

Ia juga mengungkapkan bahwa tak dipungkiri grafiknya terus bertambah sejak 2008/2009 berjumlah 43.456 jiwa. Pada akhirnya sejak 2010/2011 grafik transmigran tidak menurun tetapi menambah menjadi 61.998 jiwa.

Dikatakan, penambahan penduduk di Papua melanggar etika transmigran Internasional yang diakui bersama sebagai kesepakatan bersama. Jika warga dikalkurasikan maka Penduduk Papua dikuasai 80 persen oleh orang non Papua.

“Jadi BPS Provinsi Papua sejak 2012 menyatakan bahwa 30 persen penduduk orang asli Papua. Sedangkan 70 persen orang non Papua. Sementara jumlah penduduk di Provinsi Papua Barat 35 persen orang asli Papua, sedangkan 65 persen orang non Papua. Disimpulkan bahwa tanah Papua dikuasai oleh orang non Papua hingga kini,” ungkapnya tegas.

Koordinator Solidaritas Keadilan dan Perdamaian Katolik (SKPK) Dekenat Paniai dan Tigi ini meyakini lajunya pertumbuhan penduduk akan berkurang karena ada kewenangan dan hak-hak Otsus di Tanah Papua.

“Tetapi Otsus malah membuka peluang bagi para migran kuasai seluruh aspek yang ada dalam tujuan pemberian Otsus itu. Faktanya data BPS Propinsi Papua 2019 berbicara perbandingan antara penduduk asli Papua 30 persen dan 70 persen non Papua. Itu artinya non Papua sudah mendominasi orang asli papua. Non Papua secara otomatis menguasai segala aspek pembangunan di era Otonomi Khusus di Tanah Papua,” tuturnya.

Loading...
;

Marius Goo, rekannya juga mengatakan, OAP tidak percaya dengan berbagai tawaran dan gula-gula politik dari Jakarta. Mereka juga tidak percaya kepada Pemerintah Indonesia dengan pemberian Otsus dengan tujuan peningkatan kesejahteraan OAP.

“Faktanya menipu kami orang asli papua. Kami juga tidak percaya dengan pemberian dana Otsus yang besar itu karena dengan adanya dana besar, maka pembunuhan , penembakan, kekerasan dan konflik juga akan menambah besar dan lebih parah lagi nantinya. Bisa-bisa kami orang asli papua akan punah dengan pemberian dana besar itu . Jadi kami Orang asli Papua sudah tingkat mual dengan adanya Indonesia di Tanah Papua,” kata Goo.

Makanya itu, Goo mengatakan Presiden Jokowi, para petinggi dan jenderal di Jakarta jangan berpikir ketika tidak adanya Otsus, OAP bisa mati. “Ingat saja bahwa kami orang asli Papua bisa hidup tanpa Otonomi Khusus dari Jakarta itu,” ucapnya.

“Tetapi malah Otsus Jilid II dipaksakan dari Jakarta dengan ‘berbagai ancaman penambahan pengiriman aparat keamanan inilah atau itulah dari berbagai pemangku kepentingan. Padahal kami bisa hidup tanpa Otsus jilid II. Untuk apa adanya pemaksaan Otsus jilid II dari Jakarta?

Para petinggi Jakarta kamu ingat dan camkan ini bahwa kami orang asli Papua bisa makan tanpa Otonomi Khusus. Kami bisa minum tanpa Otsus,” ungkapnya.

Menurutnya, OAP bisa hidup dari hasil olah tanah dan berkebun. Bisa cari ikan di laut, di danau dan sungai untuk bisa hidupi keluarga.

“Jadi kami orang asli Papua menolak dengan tegas diberlakukan dan diperpanjang Otonomi Khusus Jilid II dari Jakarta untuk masyarakat orang asli di Tanah Papua,” ujarnya. (*)

Editor: Syam Terrajana

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top