Follow our news chanel

Previous
Next

PAHAM Papua: Pembubaran paksa aksi mahasiswa Uncen adalah kejahatan

Demo mahasiswa Papua
Aksi mahasiswa Papua di kampus Universitas Cenderawasih dihadang oleh aparat keamanan. - Jubi/Benedict Agapa

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Perkumpulan Advokat HAM atau PAHAM Papua menyatakan pembubaran unjuk rasa mahasiswa menolak Otonomi Khusus atau Otsus Papua di Kampus Universitas Cenderawasih Jayapura pada Senin (28/9/2020) merupakan kejahatan. Pembubaran aksi yang dilakukan aparat gabungan TNI/Polri dinilai sebagai kejahatan, karena melanggar hak para pengunjuk rasa untuk menyampaikan pendapat di muka umum. 

PAHAM Papua menyatakan hak para mahasiswa untuk berunjuk rasa telah dijamin dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum (UU Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat). “Pasal 18 ayat (1) dan (2) UU Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat menyatakan barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan menghalang-halangi hak warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum yang telah memenuhi ketentuan undang-undang dipidana penjara paling lama 1 tahun, dan tindakan itu merupakan kejahatan,” demikian keterangan pers tertulis PAHAM Papua, Senin. 

Unjuk rasa menolak Otsus Papua itu digelar para mahasiswa di Kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) Abepura, Kota Jayapura. Unjuk rasa itu digelar Front Mahasiswa dan Rakyat Papua. Dalam unjuk rasa itu, sejumlah orator berorasi menolak rencana pemerintah memberlakukan Otsus Papua Jilid II, dan menuntut referendum bagi seluruh rakyat Papua.

PAHAM Papua menyatakan aparat keamanan yang menjaga aksi di dalam kampus itu melarang melarang mahasiswa melanjutkan aksi, dan memaksa mahasiswa untuk membubarkan diri. Pada pukul 10.50 aparat membubarkan paksa unjuk rasa para mahasiswa itu, dan memukuli para mahasiswa. Para pengunjuk rasa membalas tindakan itu dengan lemparan batu, dan dibalas polisi dengan melepaskan tembakan. 

Baca juga: Aksi mahasiswa tolak Otsus dibubarkan aparat keamanan dengan tembakan 

Polisi mengejar mahasiswa, sehingga masa demosntran mahasiswa mundur dan lari menyelamatkan diri. Sejumlah pengunjuk rasa lalu berkumpul lagi, dan menduduki ruas jalan di samping kampus Fakultas Hukum Uncen Abepura. 

“Dalam pembubaran paksa itu, polisi tiga mahasiswa yang menjadi penanggung jawab aksi itu. [Mereka adalah] Ayus Heluka, Salmon Tipogau, Kristian Tegei. Polisi juga memukul dua mahasiswa hingga terluka. [Mereka adalah] Yabet Lukas Degei dan Selius Wanimbo. Yebet Lukas Degei dipukul dibagian kepala belakang hingga kepalanya terluka dan berdarah. Sedangkan Selius Wanimbo dipukul dengan popor senjata di bagian badannya hingga terluka dan berdarah,” demikian keterangan pers PAHAM Papua. 

Loading...
;

PAHAM Papua mencatat tiga mahasiswa yang ditangkap sempat dibawa ke Markas Kepolisian Sektor (Polsek) Abepura, dan ditahan sekitar satu jam. Mereka akhirnya dibebaskan setelah setelah perwakilan mahasiswa, pihak kampus, dan pendamping hukum bernegosiasi dengan Kepala Polsek Abepura dan menyepakati aksi para mahasiswa tidak dilanjutkan. Massa aksi dan aparat kemudian bubar pada pukul 12.10 WP. 

PAHAM Papua menegaskan sebelum melakukan aksi itu para mahasiswa telah mengirimkan surat pemberitahuan aksi kepada polisi pada 22 September 2020 lalu. Koordinator Lapangan aksi Senin itu juga telah bertemu dengan Kepala Satuan (Kasat) Intelkam, menjelaskan secara lengkap rencana aksi, rute aksi, dan perlengkapan yang akan digunakan. 

“Namun empat hari kemudian, pada 24 September 2020, polisi memberikan surat pemberitahuan tidak diterbitkannya Surat Tanda Terima Pemberitahuan atau STTP kepada Koordinator Lapangan Aksi. Pada tanggal 26 September 2020, Kasat Intelkam bertemu Presiden Mahasiswa Uncen, meminta aksi tidak dilaksanakan. Dari negosiasi [pada 26 September 2020] itu, pihak Kepolisian Resor Kota Jayapura yang diwakili Kasat Reskrim bersepakat aksi dapat dilakukan di lingkungan Kampus Uncen,” demikian keterangan pers PAHAM Papua. 

Baca juga: PAHAM Papua: Komnas HAM RI harus usut kasus penembakan Pendeta Zanambani

Berdasarkan kronologi itu, PAHAM Papua menilai tidak ada alasan bagi polisi untuk membubarkan unjuk rasa para mahasiswa pada Senin. Tindakan paksa disertai penembakan [untuk] membubarkan aksi mahasiswa di Kampus Uncen Abepura merupakan upaya menghalang-halangi dan merupakan pembatasan hak menyampaikan pendapat di muka umum mahasiswa Uncen. Tindakan itu merupakan tindakan kejahatan,” demikian PAHAM Papua. 

PAHAM Papua menyatakan pembubaran unjuk rasa itu juga melanggar Peraturan Kapolri No 16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa. “Tindakan kepolisian itu merupakan tindakan yang dilarang dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b dan g Peraturan Kapolri tentang Pedoman Pengendalian Massa. Tindakan itu juga melanggar Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 6 huruf b Peraturan Kapolri Nomor 08 Tahun 2012  tentang Implementasi Prinsip dan Strandar HAM Dalam Penyelenggaran Tugas Polri. melanggar Pasal 25 UU HAM, melanggar Pasal 19 UU Pengesahan Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik, dan melanggar Pasal 28E ayat (3) UUD 1945,” demikian keterangan pers PAHAM Papua. 

PAHAM Papua menutut polisi menghentikan segala bentuk pembatasan hak menyampaikan pendapat warga, dan menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap warga. PAHAM Papua juga meminta Kapolri dan Panglima TNI untuk mengubah pendekatan kekerasan dalam penegakan hukum dan keamanan di Papua. 

“PAHAM Papua menyatakan Kapolri [harus] segera mengevaluasi kinerja Kepala Kepolisian Daerah Papua, Kepala Polresta Jayapura, dan Kepala Polsek Abepura, dan mengganti [mereka] dengan polisi Papua yang lebih profesional. [Kami] menyerukan kepada seluruh komunitas pembela HAM di Papua, Indonesia maupun Internasional agar turut melakukan pemantauan situasi HAM di Papua, dan mengambil langkah kongkrit [untuk]  mendesak pemerintah Indonesia menghentikan segala kekerasan dan pembatasan HAM orang Papua,” demikian siaran pers PAHAM Papua.(*)

Editor: Admin Jubi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top