Pahlawan pengawas sektor perikanan Pasifik yang tidak pernah pulang

Tekarara dengan keempat anaknya Robert, Aatii, Elizabeth dan Tutu di makam Eritara Aati Kaierua di Tarawa, Kiribati. - Rimon Rimon/Wali

Papua No.1 News Portal | Jubi

Dalam posel terakhir kepada keluarganya, Eritara Aati Kaierua berkata kepada mereka bahwa dia mencintai mereka dan meminta maaf karena tidak menghubungi mereka lebih awal. “Pasokan ikan agak langka atau mungkin lokasi ini tidak ramai, kami sekarang menangkap ikan di Papua Nugini dan kami masih disini,” tulisnya kepada istrinya, Tekarara, pada 21 Februari 2020.

“Tolong jaga kesehatan sehat… dan saya akan mencoba yang terbaik untuk tetap sehat di sini juga,” simpulnya.

Hampir dua minggu kemudian, ayah dari empat anak yang berusia 40 tahun itu ditemukan tewas di sebuah kabin di Win Far No 636, kapal penangkap ikan berbendera Taiwan yang saat itu berada di perairan Nauru.

Laporan ahli patologi awalnya menetapkan pengamat ikan independen itu meninggal dunia karena cedera otak yang parah, dan kepolisian di negara asalnya di Kiribati, tempat dimana jenazahnya dibawa, lalu memulai investigasi pembunuhan.

Namun lebih dari setahun kemudian, Tekarara masih menunggu jawaban yang dijanjikan dari penyidikan tersebut.

Kematian Kaierua, yang dipekerjakan oleh Kementerian Perikanan Kiribati, adalah kasus terbaru dari serangkaian kematian pengamat kapal penangkap ikan dan dugaan pelanggaran di seluruh dunia yang hanya menarik sedikit perhatian, dan sedikit hukuman.

Bekerja sebagai seorang pengamat diatas kapal penangkap ikan, yang bertugas memantau aktivitas penangkapan ikan dan hasil tangkapan untuk memastikan kapal itu mengikuti peraturan, adalah pekerjaan berbahaya yang dapat menyebabkan pengamat mengalami konflik dengan awak di atas kapal tempat mereka bekerja, seringkali ratusan, atau bahkan ribuan kilometer, dari pelabuhan terdekat.

Loading...
;

Menurut asosiasi pengamat penangkap ikan Association of Professional Observers, ada belasan kasus dimana pengamat meninggal selang bekerja sejak 2009, termasuk tiga yang melibatkan warga negara Kiribati.

Ada Antin Tamwabeti, yang menurut perusahaan yang mempekerjakannya, sempat diteror dan diancam oleh awak salah satu kapal berbendera Taiwan sesaat sebelum kematiannya. Dia meninggal di kapal lain pada Mei 2019, dalam keadaan yang belum dilaporkan, tapi kasusnya dinyatakan sebagai bunuh diri.

Moanniki Nawii meninggal pada tahun 2017 di atas kapal pukat cincin berbendera Taiwan; hingga kini keluarganya masih berusaha untuk mendapatkan autopsi dari pihak berwenang.

Lalu ada kematian Tabuia Tekaie tahun 2009. Menurut laporan media Selandia Baru beberapa bulan setelah dia meninggal, peti yang berisi mayatnya jatuh ke laut ketika kapten kapal Korea berusaha memindahkan itu ke perahu polisi. Kabin tempat dia meninggal juga telah dibersihkan setelah kematiannya sehingga bukti apa pun sudah hilang, menurut seorang detektif Selandia Baru yang dikirim ke Kiribati untuk melakukan investigasi itu. Laporan media lalu mengungkapkan bahwa hasil autopsi berikutnya menetapkan kematian Tekaie sebagai normal, tubuhnya lalu dikembalikan ke keluarganya agar dapat dimakamkan.

Daftar ini masih berlanjut.

Menolan sogok dan merasa terancam

Adik Kaierua, Nicky, berada di Kepulauan Solomon ketika dia mendengar tentang kematiannya.

“Berita yang kami dengar awalnya adalah bahwa dia tidak datang untuk makan malam,” tutur Nicky, “dan ketika mereka [para awak] mencari dia, ia terkunci di dalam kamar, tetapi jasadnya ditemukan di lantai, dan dia meninggal seperti itu.”

Tidak ada ahli patologi forensik di Kiribati, dan dua minggu setelah jenazah saudara laki-lakinya tiba di Tarawa pada 7 Maret 2020, seorang ahli patologi forensik dari Fiji tiba untuk melakukan autopsi.

Kemudian, dalam sebuah laporan untuk LSM Human Rights At Sea yang berbasis di Inggris, Tekarara mengingat apa yang dikatakan ahli patologi itu kepadanya tidak lama setelah itu. Dia menyatakan bahwa luka-luka itu tidak diakibatkan oleh jatuh, dan menyiratkan bahwa penyebab kematiannya adalah pembunuhan.

“Suami Anda meninggal karena benturan otak, ada pendarahan internal di otaknya, dan ini bisa terjadi karena sesuatu objek yang begitu kuat mengenai kepalanya, disertai dengan kekerasan. Tidak peduli seberapa tinggi anak tangganya saat ia jatuh, pendarahan internal ini tidak mungkin terjadi,” katanya, menurut Tekarara.

“Saya terisak memikirkan dan membayangkan rasa sakit yang dia alami, bagaimana dia berjuang untuk hidupnya, dan hal apa yang ada di benaknya untuk terakhir kali sebelum dia kehilangan nyawanya. Saya merasa sangat kasihan padanya karena saya tahu dia sendirian dan tidak punya cara apa-apa untuk meminta bantuan.”

Nicky mengatakan sang kakak pernah bilang bahwa pekerjaannya tidak mudah dan ada saat-saat di kapal lain dimana dia khawatir akan nyawanya. Nicky mengatakan ia pernah ditawari uang sogokan di atas kapal yang lain, dan ada insiden lain di mana dia mengatakan log tangkapan kapal berbeda dari log kapten.

“Dia khawatir akan keselamatannya dalam setelah insiden itu. Kapal itu kena sanksi, disuruh bongkar berton-ton ikan di Tuvalu,” kata Nicky.

Dia tidak pernah bertanya kapal apa itu, tetapi dia mengatakan setelah itu saudara laki-lakinya menjadi semakin takut akan diracuni di kapal dan oleh karena itu, membawa makanan yang disajikan untuknya kepada awak kapal lainnya.

“Sering kali dia makan mie sendiri dari kabinnya. Dia lega bisa pulang setelah itu,” tambahnya.

Investigasi atas kematiannya tidak transparan

Setelah jenazahnya dikembalikan ke Kiribati dan dilakukan autopsi, kapal tersebut disita dan dua awaknya ditahan dan diinterogasi.

Tetapi kemudian penyelidikan itu terhenti. Meskipun pengadilan tinggi menolak permohonan pemilik kapal agar kapal itu dibebaskan pada bulan Juni, Win Far diizinkan untuk tolak pada bulan Oktober. Masih belum jelas siapa yang mengizinkan hal itu padahal penyelidikan atas kematian Kaierua masih belum selesai.

Keluarganya memiliki banyak kekhawatiran lain tentang penyelidikan. Paling tidak ada dua laporan ahli patologi dibuat tanpa memeriksa jasad Kaierua, dimana disimpulkan bahwa dia meninggal karena hipertensi, atau tekanan darah tinggi.

Sejauh ini keluarganya belum diizinkan untuk melihat laporan ahli patologi sama sekali.

Tekarara juga khawatir karena, bukannya diperlakukan sebagai barang bukti, semua barang-barang Kaierua dikembalikan kepadanya segera setelah Win Far merapat. Setelah bekerja selama 10 tahun sebagai panitera pengadilan, dia tahu barang-barang ini harusnya ditahan. “Dokter forensik bahkan belum memulai pekerjaannya, jadi saya merasa sangat aneh bahwa barang-barangnya dikembalikan begitu cepat,” tegasnya.

Dalam laporannya, HRAS juga melaporkan bahwa mereka tidak ada kabar tentang sampel DNA yang diambil dari kru, perangkat termasuk telepon, kamera dan laptop yang disita dari mereka, atau rekaman CCTV yang diambil dari Win Far untuk dianalisis.

Tekarara memiliki gangguan kesehatan yang serius, dan tanpa penghasilan suaminya, dia harus berjuang keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan keempat anaknya, yang kini berusia antara 11 dan tiga tahun.

Nyawa pengamat tidak dilindungi

Liz Mitchell, presiden Association of Professional Observers (APO), mengatakan bahwa kematian Kaierua ini umum di kalangan pengamat penangkapan ikan, di mana seringkali ada informasi tentang apa yang terjadi sangat minim, dan kalaupun ada penyelidikan, itu pasti tidak lengkap.

“Pengamat selalu menjadi pihak yang terakhir diperhatikan. Lebih seperti alat daripada manusia,” ucap Mitchell.

“Mereka dimanfaatkan untuk memberi kesan bahwa sektor penangkapan ikan itu dipantau dengan benar. Hal ini terlihat pada perusahaan yang menggunakan observer agar dapat memenuhi standar MSC (Marine Stewardship Council) agar kapal itu bisa mendapatkan sertifikasi MSC. Jika pengamat tidak mengikuti kemauan kapal, mereka membahayakan nyawa mereka sendiri.”

Mitchell mengatakan “bukan hanya penangkap ikan yang mengancam para pengamat, tetapi juga atasan mereka sendiri, yang mengabaikan dan secara sadar menempatkan mereka dalam bahaya tanpa perlindungan apa pun, tanpa penegakan apa pun, dan tanpa pelaporan apa pun tentang perlakuan yang mereka terima.”

Menurut Badan Perikanan Forum Kepulauan Pasifik (Forum Fisheries Agency/ FFA), Kiribati adalah salah satu anggotanya, “keselamatan pengamat kapal penangkap ikan adalah hal yang paling penting bagi negara-negara anggota FFA”.

Tetapi Tekarara percaya bahwa kematian suaminya bisa dicegah jika ada dana yang digunakan untuk menyediakan perangkat komunikasi dua arah untuk melindunginya.

Faktanya, menurut Mitchell, Selandia Baru memberi perangkat komunikasi dua arah kepada Kiribati tetapi mereka tidak pernah sampai ke pengamat yang dituju.

Kementerian Perikanan Kiribati tidak menanggapi permintaan komentar.

David Hammond, CEO dari HRAS, mengatakan keluarga Kaierua layak mendapatkan keadilan, tetapi akibat kurangnya bukti, ”kita mungkin tidak akan tahu kebenaran kasus ini.”

“Ada impunitas dan kurangnya penegakan, dan kurangnya akuntabilitas, yang menciptakan lingkungan di mana pelanggaran hak-hak buruh bisa terus berlanjut,” kata Hammond.

Keluarga Kaierua juga tidak menyerah.

Nicky mengatakan keluarganya masih tidak percaya bahwa Kaierua meninggal karena tekanan darah tinggi.

“Kami masih menunggu, dan kami masih membutuhkan keadilan, sudah setahun sekarang, dan kami masih belum tahu jawabannya.” (The Guardian)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top