Follow our news chanel

Previous
Next

Pandemi Covid-19, kurangi anggaran penanganan Karhutla

papua
Ilustrasi, foto udara hutan di Waena yang terbakar yang diduga sengaja dibakar oleh orang tak dikenal – Jubi/Piter Lokon.

Papua No.1 News Portal | Jubi

Palembang, Jubi – Anggaran penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan berkurang Rp400 juta, dari Rp1,7 miliar menjadi Rp1,3 miliar, karena realokasi dan refokus untuk anggaran penanganan pandemi Covid-19. Pengurangan anggaran itu diharapkan cukup, mengingat musim kemarau kali ini tak sepanjang tahun lalu.

“Tahun lalu musim kemarau mulai terjadi pada Juli dan baru berakhir November. Kalau untuk tahun ini musim kemarau diperkirakan tidak lebih dari dua bulan. Oktober sudah masuk hujan lagi,” ujar Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori, Selasa (18/8/2020) kemarin.

Baca juga : Waspada kebakaran hutan, titik panas api terdeteksi di Kalimantan Selatan

Polisi tangkap tiga warga terkait kebakaran hutan dan lahan di Aceh Jaya

Sebuah heli Bell disiagakan selama darurat kebakaran hutan Riau

Selain itu, Pemprov Sumsel juga menggelontorkan dana bantuan sebesar Rp37 miliar bagi 10 daerah rawan Karhutla untuk pembelian alat tidak habis pakai. Ansori pun yakin anggaran itu akan cukup untuk penanganan tahun ini.

Loading...
;

Ansori menyebut setiap daerah yang rawan Karhutla akan mendapatkan dana bantuan Rp2 miliar hingga Rp 5 miliar untuk kebutuhan pembelian alat penanganan dan pemadam kebakaran.

Koordinator Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel, Nuga Putrantijo mengatakan musim kemarau di provinsi itu pada tahun ini diperkirakan mulai terjadi pada Agustus.

Meski begitu, hujan dengan intensitas sedang diperkirakan masih akan turun dan diprakirakan terjadi pada Oktober.

“Hari tanpa hujan (HTH) di Sumsel didominasi dengan kriteria pendek yang berkisar 6 hingga 10 hari. HTH terpanjang terjadi di Kabupaten Ogan ilir yang mencapai 16 hari,” kata Nuga.

Ia menyebut resiko kebakaran lahan akan lebih rendah dibanding tahun lalu karena kondisi lahan masih basah, terutama lahan gambut.

Berdasarkan data BPBD Sumsel, sejak awal 2020 hingga pertengahan Juli, terdapat 226,75 hektare lahan yang terbakar. Jumlah tersebut hanya 0,05 persen dibandingkan dengan total luasan lahan yang terbakar pada 2019 lalu yakni seluas 428.356 hektare. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top