Follow our news chanel

Pandra Wenda menyatakan dipukul dan dipaksa polisi menandatangani BAP

papua
Ilustrasi foto penjara bagi Tapol Papua. - pixabay.com
Pandra Wenda menyatakan dipukul dan dipaksa polisi menandatangani BAP 1 i Papua
Foto ilustrasi. – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pengadilan Negeri Kelas 1A Jayapura pada Rabu  (11/12/2019) melanjutkan persidangan perkara dugaan perusakan dalam amuk massa yang terjadi di Kota Jayapura, Papua, pada 29 Agustus 2019 lalu. Dalam perkara terdakwa Pandra Wenda, terdakwa menyatakan dirinya dianiaya oleh polisi dan dipaksa menandatangani Berita Acara Pemeriksaan.

Dalam sidang perkara itu pada Rabu, Jaksa Penuntut Umum Andreas Tomana menghadirkan dua orang saksi, yaitu Syamsyul Alan dan Muhammad. Syamsul mengatakan ia sempat menyaksikan adanya demonstrasi yang diikuti ribuan orang. Syamsul menyatakan massa pengunjukrasa melempari rumah warga, toko, kios, ruko, dan hotel dengan batu.

Akan tetapi, Syamsul mengakui bahwa ia mengetahui hal itu berdasarkan cerita kenalannya, seorang pemilik kios di Jalan Baru Tobati. “Menurut keterangannya, kios miliknya berada di posisi tengah, sehingga tidak terkena lemparan batu. Saya tidak berani keluar. Saya berada dalam rumah, mengamankan diri. Saya tidak melihat orang yang membakar ruko kios  yang ada di sepanjang Jalan Baru Tobati,” kata Syamsul.

Majelis hakim sempat menanyai kembali Syamsul, karena keterangan Syamsul di persidangan berbeda dengan isi Berita Acara Pemeriksaan perkara itu. Menjawab pertanyaan hakim, Syamsul menyatakan ia tidak melihat langsung amuk massa yang terjadi pada 29 Agustus 2019 lalu.

Syamsul juga sempat ditanyai oleh penasehat hukum terdakwa, apakah ia melihat ada polisi berjaga saat amuk massa itu terjadi. Syamsul menyebut ia tidak melihat polisi ada berjaga di lokasi amuk massa.

Saksi kedua jaksa, Muhammad menerangkan amuk massa yang terjadi di sepanjang Jalan Koti. Muhammad menyatakan bengkel mobil miliknya dijarah dan dibakar massa. Menurutnya, penjarahan dan pembakaran itu terjadi sekitar pukul 15.00 WP. “Persis pukul 17.00, saya keluar dari rumah, dan  melihat kondisi tidak aman. Saya masuk kembali ke tempat kerja bengkel. Saya melihat polisi menebak gas air mata, kemudian massa membubarkan diri,” katanya.

Loading...
;

Usai mendengar kesaksian Syamsyul Alan dan Muhammad, Pandra Wenda membantah dirinya melakukan pelemparan dalam amuk massa 29 Agustus 2019 lalu. Wenda menyatakan pada 29 Agustus 2019 ia menunggu massa aksi di Entrop, dan tidak berada di Abepura. Setelah ia bertemu dengan gelombang pertama massa aksi 29 Agustus 2019, ia bergabung dan terus berjalan mengikuti massa yang sedang bergerak menuju Kantor Gubernur Papua.

“Sewaktu massa aksi gelombang pertama [berada] di Abepura, saya dan teman-teman masih berada di Gereja Baptis Entrop, Distrik Jayapura Selatan. Saya dan beberapa teman menunggu massa aksi itu di depan pertigaan Kantor Wali Kota Jayapura. [Setelah massa aksi gelombang pertama tiba di Entrop], kami bergabung dengan massa. Jadi kami tidak melihat pelemparan toko atau ruko, ataupun pembakaran di Entrop, Abepura, dan sekitarnya,” katanya.

Kepada majelis hakim yang dipimpin Maria Magdalena Sitanggang, Pandra Wenda mengaku dipukuli polisi, dan dipaksa menandatangani BAP yang sudah dibuat polisi. “Kami dipaksa polisi untuk menandatangani BAP. Ada polisi yang datang pukul kami, dan menyuruh [saya] mengakui perbuatan sebagaimana yang tertera dalam BAP. Padahal kami tidak lakukan [perbuatan yang dinyatakan dalam BAP itu],” kata Wenda saat menjawab pertanyaan majelis hakim.

Wenda juga membantah dirinya melempari Restoran B-One di Kota Jayapura. “Saya tidak pernah melempar B-One. Saya meminta untuk mencabut [keterangan saya di dalam BAP]. Saya tidak pernah ambil batu, apalagi melempar ke arah B-One,” katanya.

Wenda menyatakan dirinya diperiksa penyidik bersama lima orang tersangka lainnya. Wenda menyebut empat tersangka lain juga dianiaya oleh polisi yang memeriksa mereka.

Majelis hakim akhirnya meminta JPU untuk menghadirkan Chairul Siregar dan Isai Ohoitimur dalam persidangan berikutnya pada 16 Desember 2019 mendatang. Chairul Siregar dan Isai Ohoitimur adalah penasehat hukum yang menangani Pandra Wenda saat ia menandatangani BAP yang ia dibantahnya pada Rabu. “Nanti hadirkan juga penyidik terdakwa Pandra Wenda, untuk memastikan keterangan terdakwa,” kata ketua majelis hakim Maria Magdalena Sitanggang.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top