Follow our news chanel

Previous
Next

Panen jagung di Flores Timur turun akibat ulat grayak

Ilustrasi. Para petani jagung di Desa Tuwagetobi, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur saat mengurus kondisi tanaman jagung mereka yang terserang hama ulat grayak – Jubi/ANTARA/Kamilus Tupen
Panen jagung di Flores Timur turun akibat ulat grayak 1 i Papua
Para petani jagung di Desa Tuwagetobi, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur saat mengurus kondisi tanaman jagung mereka yang terserang hama ulat grayak – Jubi/ANTARA/Kamilus Tupen

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Kupang, Jubi – Sejumlah petani di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyebut hasil panen jagung mereka untuk musim panen kali ini menurun akibat ulat grayak yang menyerang tanaman jagung di daerah setempat.

“Hasil jagung kami kali ini pasti menurun dari target karena memang kondisi sekarang banyak tanaman rusak akibat terserang ulat grayak,” kata Kamilus Tupen, seorang petani di Desa Tuwagetobi, Kecamatan Witihama, Flores Timur, Senin (10/2/2020).

Dia mengatakan masa panen tanaman jagung di daerah itu akan dimulai sekitar 15 April, namun bisa dipastikan tidak mencapai target seperti biasanya.

Untuk satu hektare tanaman jagung, lanjut dia, ditargetkan menghasilkan delapan ton jagung, namun dengan kondisi serangan ulat grayak saat ini maka target tersebut tidak bisa tercapai.

“Memang hasilnya akan menurun tapi kami berharap tidak terlalu jauh sehingga tidak banyak kerugian bagi petani,” katanya.

Kamilus menjelaskan serangan ulat grayak saat ini sangat meresahkan para petani setempat dan selalu dikeluhkan dalam berbagai kesempatan pertemuan di desa.

Loading...
;

Dia menambahkan tantangan petani seperti di Desa Tuwagetobi dalam tahun ini cukup besar karena tidak hanya ulat grayak tapi kondisi angin kencang dan populasi tikus yang sangat banyak di kebun-kebun juga menjadi ancaman.

Sementara itu, Lambertus, seorang petani lain di Kecamatan Adonara, mengatakan para petani jagung di wilayah setempat tidak bisa melakukan banyak upaya untuk mengatasi dampak serangan ulat grayak.

“Hasil jagung sudah pasti akan menurun tapi seberapa banyak nanti akan terlihat saat panen,” katanya.

Dia mengatakan para petani setempat saat ini hanya bisa melakukan upaya pengendalian dengan penyemprotan pestisida melalui bantuan dari pemerintah daerah setempat.

Dia menambahkan serangan ulat grayak kali ini merupakan tidak biasa karena hingga tanaman jagung hampir berbunga pun masih diserang.

“Sebelumnya memang serangan hama ulat juga sering terjadi yang biasa dikenal dengan Kua, tapi berbeda dengan ulat grayak kali ini yang dampaknya lebih parah,” katanya.

Pengamat pertanian dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr. Leta Rafael Levis, memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Flores yang telah menetapkan serangan hama ulat grayak di daerah itu sebagai kejadian luar biasa (KLB).

“Menurut saya, penetapan KLB merupakan langkah tepat dan patut diikuti daerah lain di NTT karena serangan hama ulat grayak pada tanaman jagung saat ini tidak bisa dianggap sepele,” kata Leta Rafael Levis, di Kupang, Senin (10/2/2020).

Artinya, dalam penanganan hama ini, Dinas Pertanian harus melibatkan BPBD karena serangan ulat yang bersifat masif ini dan harus dipandang sebagai bencana bagi para petani.

Dia berharap dengan menetapkan Flores Timur sebagai KLB hama ulat grayak, semua komponen masyarakat ikut berperan aktif membantu masyarakat memberantas hama tersebut.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur menetapkan hama ulat grayak terhadap tanaman jagung petani di wilayah itu sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Keputusan pemerintah penetapan status KLB ini menyusul serangan hama ulat grayak yang berlangsung sejak Desember 2019 itu telah merusak hampir 5.000 hektare tanaman jagung petani di daerah itu.

Menurut dia, setelah ditetapkan sebagai KLB, semua komponen dilibatkan dalam menangani serangan hama ulat grayak ini.

“Sampai dengan Sabtu (8/2/2020), dari 4.585 hektare tanaman jagung yang diserang ulat, hampir 3.000 hektare sudah bisa ditangani dengan melakukan penyemprotan,” katanya.

Data yang diperoleh dari Pemerintah Kabupaten Flores Timur, sejak Desember 2019 hingga 5 Februari 2020  tercatat sekitar 4.585 hektare dari total 12.072 hektare tanaman jagung milik petani setempat dilaporkan terserang ulat grayak. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

This error message is only visible to WordPress admins

Error: API requests are being delayed for this account. New posts will not be retrieved.

Log in as an administrator and view the Instagram Feed settings page for more details.

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top