Follow our news chanel

Previous
Next

Komnas HAM catat 18 kasus kekerasan di Intan Jaya sepanjang 2020

papua-komnas-ham-di-intan-jaya
Tim Komnas HAM RI dan Komnas HAM Perwakilan Papua saat berada di Intan Jaya - Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia atau Komnas HAM RI mencatat sebanyak 18 kasus kekerasan terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua sepanjang tahun ini.

Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, mengatakan belasan kasus kekerasan itu tidak hanya terjadi pada satu lokasi, akan tetapi pada beberapa wilayah di Intan Jaya.

Pernyataan tersebut dikatakan Ramandey dalam keterangan pers bersama Komnas HAM RI, di kantor Komnas HAM Perwakilan Papua di Kota Jayapura, Sabtu (17/10/2020).

“Kalau melihat pengaduan kepada kami. Kalau kita lihat pola rentetan kasus, [semua kasus] sama, [kasus] kekerasan,” kata Frits Ramandey.

Menurutnya, dari berbagai kasus itu ada korban luka dan ada yang meninggal dunia. Korban tidak hanya dari kalangan warga sipil, juga anggota TNI-Polri.

Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM RI, Choirul Anam, mengatakan jika melihat jumlah kasus sepanjang tahun ini, menggambarkan ada masalah serius yang terjadi di Intan Jaya.

“Ini kan kasus terjadi di daerah yang sama sehingga harus dilihat bagaimana kasus itu terjadi dalam tahun ini. Rentang waktunya pendek, jumlah kasus cukup banyak. Bagaimana tata kelola keamanan,” kata Anam.

Loading...
;

Baca juga: Komnas HAM akan serahkan laporan hasil investigasi pembunuhan Pendeta Zanambani ke Jokowi

Menurutnya, ketika ke Intan Jaya menginvestigasi penembakan yang menewaskan Pendeta Yeremias Zanambani pada pekan lalu, pihaknya juga mendapat dua pengaduan penting dari warga di sana.

Pengaduan itu yakni siswa di Distrik Hitadipa sudah beberapa bulan tidak bersekolah, karena gedung sekolah mereka digunakan TNI sebagai pos sementara koramil persiapan di sana.

“Kami berjanji akan menyampaikan ini kepada Menkopolhukam dan Mendikbud,” ujarnya.

Selain itu, Komnas HAM RI juga mendapat pengaduan tertulis dari seorang pendeta, yang ingin pendekatan damai bukan pendekatan keamanan.

“Saya sendiri yang menerima [pengaduan tertulis itu] dari seorang pendeta. Pendekatan keamanan dinilai justru melahirkan kekerasan dan ketidaknyamanan bagi masyarakat di sana,” ucapnya.

Katanya, karena aduan itu dinilai penting sehingga akan menjadi salah satu fokus Komnas HAM RI menindaklanjutinya kepada para pihak terkait di jajaran pemerintah pusat.

“Ini mandat yang juga penting. Seruan damai dan manjauhi kekerasan,” ujarnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top