23 pengungsi dari Tembagapura meninggal di lokasi pengungsian

Papua-kampung-banti
Ilustrasi Kampung Banti, salah satu kampung di Distrik Tembagapura yang ditinggal warganya mengungsi ke Timika – http://agawaa.blogspot.co.id

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM Perwakilan Papua menyatakan 23 pengungsi dari beberapa kampung di Distrik Tembagapura telah meninggal dunia di lokasi pengungsian mereka di Timika, ibu kota Kabupaten Mimika, Papua. Para pengungsi itu meninggal dunia dalam kurun waktu Maret hingga Desember 2020.

Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey mengatakan pengungsi yang telah meninggal dunia itu adalah pengungsi yang berasal dari Kampung Banti 1, Kampung Banti 2, dan Kampung Opitawak. Mereka, bersama ribuan warga sipil lainnya, mengungsi dari kampung asalnya sejak Maret 2020 untuk menghindari konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata di Tembagapura.

Baca juga: Pemkab dan DPRD Mimika segera tinjau kondisi tiga kampung di Tembagapura

“Kami mendapat pengaduan dari koordinator pengungsi. Ada 23 orang meninggal dunia selama mereka mengungsi di Timika. Akan tetapi, kami belum memverifikasi mereka meninggal karena apa, siapa saja, dan di mana mereka dimakamkan,” kata Frits Ramandey saat dihubungi Jubi melalui panggilan teleponnya, Senin (21/12/2020).

Menurutnya, Komnas HAM RI telah berkoordinasi dengan Komnas HAM Perwakilan Papua untuk menindaklanjuti pengaduan itu. Ramandey mengatakan, pihaknya telah mendapat informasi jika Pemerintah Kabupaten Mimika dan aparat keamanan telah rapat bersama perwakilan pengungsi pada awal pekan lalu.

Pertemuan itu menyepakati pemulangan sekitar 1.000 warga Kampung Banti 1, Banti 2 dan Opitawak yang tengah mengungsi di Kota Timika. “Pemerintah daerah masih berkoordinasi, dan Kapolres menunggu kapan mereka mau kembali. Polres Mimika siap mengantar pengungsi [pulang] ke kampungnya,” ujar Ramandey.

Komnas HAM Perwakilan Papua meminta Pemerintah Kabupaten Mimika dan Polres Mimika menjamin keamanan pengungsi setelah dipulangkan ke kampungnya. Ramandey menyatakan Pemerintah Kabupaten Mimika juga harus memastikan para pengungsi akan mendapatkan pelayanan kesehatan dan lainnya.

Loading...
;

Menurut Ramandey, polisi telah menyatakan akan menjamin kemanan pengungsi saat kembali ke kampungnya. Nantinya, para pengungsi itu dapat beraktivitas seperti biasa.

Ramandey mengakui wilayah Tembagapura masih rentan terhadap tergangguan keamanan. Di sana sering terjadi aksi dari kelompok bersenjata. Akan tetapi, ketika aparat keamanan melakukan perlawanan, tak jarang terjadi korban dari pihak warga sipil.

“Wilayah itu tidak bisa sepenuhnya berada di bawah aparat keamanan. Wilayah ini harus disentuh oleh otoritas sipil. Yaitu Pemda dan lain sebagainya,” katanya.

Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob mengatakan pihaknya akan segera mengecek kondisi Distrik Tembagapura sebagai bahan evaluasi persiapan pemulangan para pengungsi. “Nanti Freeport yang fasiltasi. Nanti bersama DPR, TNI/Polri, kami naik bersama masyarakat. Dari sana, kami evaluasi lagi untuk menentukan kapan [pemulangan pengungsi] dilaksanakan,” kata Rettob pada awal pekan lalu.

Rettob menyatakan pemulangan para pengungsi itu akan dilakukan karena situasi di Distrik Tembagapura mulai aman. Selain itu, para pengungsi di Kota Timika sulit memenuhi kebutuhan hidupnya.

Baca juga: DAP minta aparat keamanan dan pemerintah mengembalikan pengungsi Tembagapura ke kampungnya

Sementara itu, Kapolres Mimika, AKBP I Gusti Gde Era Adhinata mengatakan beberapa kelompok bersenjata yang sempat beraksi di Tembagapura pada Februari 2020 lalu telah kembali ke daerah asalnya. Ia menyatakan wilayah Tembagapura kini telah aman.

Akan tetapi, Adhinata menyatakan para pengungsi yang telah dipulangkan harus bekerja sama dengan aparat keamanan untuk menjaga situasi di Tembagapura. ”Butuh tanggung jawab kita bersama [untuk] menolak pergerakan yang dapat mengganggu keamanan. Harapan kami juga, masyarakat yang ingin naik ke Tembagapura dapat bekerjasama dengan aparat untuk menjaga situasi keamanan di sana,” kata Adhinata.

Ia menambahkan, aparat keamanan akan menjaga wilayah Tembagapura, demi memberikan rasa aman kepada warga yang akan kembali ke kampungnya. Meski beberapa kelompok bersenjata telah meninggalkan Distrik Tembagapura, namun kelompok bersenjata wilayah Mimika masih eksis hingga kini.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top