Bupati Tambrauw akhirnya temui IMT Kota Studi Jayapura

Ikatan Mahasiswa Tambrauw Papua Barat
Para aktivis Ikatan Mahasiswa Tambrauw Kota Studi Jayapura berunjuk rasa di Kantor DPRD setempat di Fef, ibu kota Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, Rabu (6/1/2021).

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Bupati Tambrauw dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Kabupaten Tambrauw menemui para aktivis Ikatan Mahasiswa Tambrauw Kota Studi Jayapura yang berunjuk rasa di Kantor DPRD setempat di Fef, ibu kota Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat, Senin (11/1/2021). Mereka mendengarkan aspirasi mahasiswa yang menuntut Pemerintah Kabupaten Tambrauw membangun asrama mahasiswa di Jayapura.

Ketua Ikatan Mahasiswa Tambrauw (IMT) Kota Studi Jayapura, Niko Momo membenarkan pihaknya telah ditemui Bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Tambrauw. “Iya, mahasiswa ketemu Bupati, Ketua DPRD, Wakil Ketua [DPRD], dan Ketua Komisi D [DPRD],” kata Niko Momo, Senin.

Momo menyatakan Pemerintah Kabupaten Tambrauw dan mahasiswa menyepakati pembentukan tim untuk mempersiapkan pembangunan asrama mahasiswa asal Tambrauw di Kota Jayapura. Tim itu akan terdiri dari perwakilan mahasiswa lima orang, perwakilan pemerintah daerah, perwakilan DPRD Kabupaten Tambrauw, kejaksaan, dan pihak pertanahan.

“Tim ini akan bertemu besok Selasa, untuk menentukan jadwal kunjungan ke Jayapura. [Kunjungan itu] untuk memastikan status tanah asrama,” kata Momo.

Ia menyatakan IMT berharap pertemuan itu menjadi awal yang baik untuk merealisasikan pembangunan asrama bagi mahasiswa asal Tambrauw yang tengah menuntut ilmu di Kota Jayapura. “Kami harap tahun ini bisa proses pembebasan tanah dan pembangunan ke depan,” katanya.

Baca juga: Kecewa karena tidak ditemui, mahasiswa Tambrauw pecahkan kaca DPRD

Para aktivis IMT telah berunjuk rasa di Kantor DPRD Kabupaten Tambrauw sejak 6 Januari 2021, menuntut Pemerintah Kabupaten Tambrauw untuk membangun asrama mahasiswa di Kota Jayapura. Unjuk rasa IMT pada Kamis (7/1/2021) berujung aksi perusakan Kantor DPRD Tambrauw, karena para mahasiswa merasa aspirasinya diabaikan. Unjuk rasa berlanjut, hingga akhirnya terjadi pertemuan pada Senin.

Loading...
;

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh tanggapan dari Bupati Tambrauw Gabriel Asem. Jubi telah berupaya menghubungi Asem, namun belum memperoleh jawaban.

Salah satu mahasiswa yang mengikuti unjuk rasa itu, Yanto Wabia menyatakan para mahasiswa meminta Pemerintah Kabupaten Tambrauw membangun asrama karena para mahasiswa asal Tambrauw tidak memiliki tempat tinggal yang layak di Kota Jayapura, ibu kota Provinsi Papua. Wabia menuturkan saat ini 216  mahasiswa asal Tambrauw menempati rumah kontrakan dengan 18 kamar yang ditanggung Pemerintah Kabupaten Tambrauw.

“Bagaimana, satu kamar ditempati 7-10 orang. Bagaimana kami mau konsentrasi belajar?” Wabia bertanya.

Kondisi itu memaksa sebagian mahasiswa memilih mencari rumah kontrakan sendiri, namun harus membayar sewa rumah yang mahal. Situasi itu membuat biaya hidup yang harus ditanggung para mahasiswa asal Tambrauw terlalu mahal. “Bayar kos, makan-minum, belum lagi biaya kuliah, semua menjadi beban,” kata Wabia.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top