Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Bayi 2 bulan di Biak meninggal divonis Covid-19, tapi hasil swab PCR negatif

Papua
Pemakaman bayi Veronika Wakman pada tanggal 27 Mey 2020 di pekuburan khusus Covid-19 di Biak, Papua – dokumentasi keluarga
| Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Rasa duka masih menyelimuti pasangan suami istri (pasutri), Hendrik Wakman (20 tahun) dan Anace Mayor (19 tahun).

Dua pasutri yang berdomisili di BTN Ridge, jalan Petrus Kafiar, Biak, Papua ini harus mengelus dada menerima kepergian untuk selamanya, putri pertama mereka, Veronika D. Wakman yang divonis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Biak Numfor, Papua, pasien Covid-19.

Alfred Wakman mewakili keluarga besar Wakman-Mayor sekaligus tete (kakek) dari anak Veronika Wakman bercerita kepada reporter jubi perihal kematian cucunya.

Alfred bilang anak Veronika Wakman meninggal di ruang isolasi pasien korona RSUD Biak Numfor, pada, 26 Mei 2020.

“Cucu kami meninggal di ruang isolasi pasien Covid RSUD Biak. Meninggal sore sekitar jam 3-4. Kemudian pemakaman 27 Mei 2020 dengan protokol Covid-19 sekitar jam 1-2 siang di lokasi pemakaman khusus korona di Ambroben Sub, Biak kota,” kata Alfred kepada Jubi lewat telepon dari Biak.

Ihwal anak Veronika Wakman yang lahir pada 22 Maret 2020 hingga harus dirawat di ruang isolasi pasien korona, Alfred berkisah bahwa cucunya mengalami deman tinggi dan langsung di bawa ke RSUD Biak, pada Senin (25/5/2020) sekira pukul 12 sampai jam 1 siang.

Sampai di ruang instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit mereka melapor untuk mendapat penanganan dan diarahkan menunggu, oleh perawat yang sedang berkonsultasi dengan dokter jaga di IGD saat itu.

Loading...
;

Menunggu beberapa saat mereka lalu diberikan secarik kertas yang dilipat dan kata petugas jangan dibuka dan di bawa untuk pemeriksaan ke laboratorium.

Sambil menunggu hasil keluar dan diarahkan petugas untuk ibu dan bayi menunggu di luar IGD. Setelah hasil pemeriksaan darah keluar, petugas masih berkonsultasi dengan dokter.

Setelah beberapa waktu menunggu, petugas datang tanpa ada penjelasan dan mengarahkan ibu dan bayi masuk lewat pintu belakang IGD rumah sakit langsung menuju ruang isolasi.

Mama dan bayi ada menunggu kurang lebih 3 jam di dalam ruang isolasi. Bersamaan ada perawat antar pasien dewasa ke ruang isolasi tapi masuk lewat pintu depan UGD.

Setelah itu oleh perawat disuruh mama dan bayi pindah keluar, karena ada salah satu pasien dewasa di antar petugas medis ke ruang isolasi.

Kemudian mama bersama bayi disuruh masuk lagi kembali di ruang isolasi anak yang letaknya bersebelahan ruang isolasi dewasa.

Setelahnya salah satu perawat melakukan tindakan medis disusul perawat yang lain setelah menangani pasien dewasa tadi datang membantu untuk pasang cairan infus. Kedua perawat berpakaian APD lengkap.

Wakman bilang yang menjadi pertanyaan keluarga. Penjelasan dokter bahwa bayi positif Covid-19 ini kena dari mana. Sedangkan hasil tes darah kedua orang tua dari cucu kami ini negatif.

Mamanya tes darah tanggal 25 Mei 2020 malam sedangkan bapaknya tes darah tanggal 26 Mei 2020. Hasilnya non reaktif. Ini yang buat kami keluarga bingung.

Wakman melanjutkan malam setelah dirawat di ruang isolasi, bayi rewel dan menangis. Cairan infus terlepas membuat darah bercucuran.

“Anak mantu telepon bahwa cucu menangis terus. Jadi saya pergi untuk ke rumah sakit untuk melapor ke petugas, tapi saya lihat sibuk main HP.

“Waktu saya lapor ade kecil ada menangis di dalam [ruang isolasi] dan infus ada terlepas. Petugas jawab ke saya, bapa dari dalam kah [ruang isolasi]. Saya bilang, anak mantu [mamanya] yang telepon ke saya, jadi saya kemari untuk lapor,” katanya.

Alfred menilai pelayanan di IGD RSUD Biak kalau boleh jangan seperti ini. Penanganan pasien oleh petugas kurang memadai.

Setelah pemakaman anak Veronika dengan protokol Covid-19, keluarga merasa tidak nyaman. Sebab warga sekitar tempat tinggal mereka mulai berpikiran negatif.

“Cucu meninggal tidak bawa pulang ke rumah. Jadi dorang [warga] sekitar rumah sudah pikiran macam-macam. Saya mau pergi beli gula ke kios, orang-orang langsung lari menjauh. Orang di kios juga macam takut terima uang yang kita kasih buat bayar,” kata Alfred.

Ia bilang, sebelumnya mereka baik-baik saja. Orang mulai curiga saat cucunya meninggal dan dimakamkan. Saat ibadah pengucapan syukur tidak ada keluarga dekat yang datang. Apalagi tetangga sekitar.

“Untung ada majelis jemaat di lingkungan kami yang bisa mengerti setelah keluarga beri penjelasan secara terbuka sehingga mau melayani dan memimpin ibadah syukur,” katanya.

Papua
Surat keterangan dari RSUD Biak terkait hasil pemeriksaan swab PCR – dokumentasi keluarga

Berdasarkan surat keterangan yang dikeluarkan RSUD Biak tanggal 4 Juni 2020 menerangkan bahwa bayi Veronika Wakman umur dua bulan berdasarkan hasil pemeriksaan rapid dignostic test (RDT),  pada tanggal 25 Mei 2020 didapatkan hasil reaktif Covid-19.

“Yang bersangkutan meninggal dunia pada tanggal 26 Mei 2020. Telah dilakukan pengambilan spesimen swab post-mortem sebanyak satu kali pada tanggal 26 Mei 2020 dan telah diperiksa dengan metode RT-PCR di Balitbangkes Kementerian Kesehatan di Jayapura tanggal 30 Mei 2020 didapatkan hasil negatif Covid-19”.

“Demikian surat keterangan ini diberikan untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya,” tulis Surat keterangan bernomor 853/1904 diteken mengetahui Direktur RSUD Biak dr. R. Ricardo Mayor, M.Kes dan dokter spesialis anak yang merawat adalah dr.Liza Froulina,SpA.

Wakman berharap, nama baik keluarga bisa dipulihkan pihak rumah sakit  sehingga tidak ada stigma yang macam-macam dari masyarakat. (*)

Editor: Edho Sinaga

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top