TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Cagar Alam Cycloop tetap rusak parah

Banjir bandang di Sentani Kabupaten Jayapura, Papua
Foto ilustrasi, banjir bandang di kota Sentani pada 16 Maret 2019 yang diakibatkan degradasi kawasan Cagar Alam Cycloop. - Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Pasca banjir bandang Sentani yang terjadi pada 16 Maret 2019, kondisi Cagar Alam Cycloop tetap rusak parah. Perambahan hutan Cagar Alam Cycloop tetap terjadi, tegakan hutan semakin sempit, dan ada longsoran tanah yang dapat membendung aliran air sehingga meningkatkan risiko bencana banjir bandang.

Hal itu dinyatakan Ketua Pemuda Peduli Lingkungan Hidup (PPLH) Kabupaten Jayapura, Manasse Bernard Taime dalam dialog interaktif pada Rabu (3/2/2021). “Kondisi Cycloop saat ini itu bisa dikatakan lagi sakit parah. Di [dataran rendah] Gunung Robonghollo sudah tidak ada pepohonan, cuma kebun liar yang sudah sampai di bahu kali,” kata Taime.

Taime menyatakan para relawan PPLH telah menemukan adanya lereng telah longsor, disertai patahan pohon. “Longsoran besar itu di kali yang berada di belakang Rumah Sakit Umum Daerah Yowari, dan [di] kali yang di pojok. Longsor itu sudah sejak banjir bandang dan masih ada,” ujar Taime.

Baca juga: Bupati Awoitauw minta BKSDA hukum pembalak Cycloops

Taime mengingatkan, Cycloop bagaikan seorang mama yang menyusui anak-anaknya, entah itu masyarakat penduduk setempat, ataupun juga para pendatang. “Cycloop itu merupakan sumber mata air, seperti seorang ibu yang menyusui kami yang di bawah ini. [Kami] semua bergantung kepada Cycloop ini,” tutur Taime.

Ia menyatakan para relawan PPLH terus memantau kondisi Cagar Alam Cycloop. PPLH juga mengajak warga menjaga dan merawat hutan Cycloop, khususnya di lereng Gunung Robonghollo.

“Kami sudah bekerja dari danau sampai ke atas gunung. Kami juga mengimbau dan juga mengajak masyarakat menjaga lingkungan mereka. Kami terkendala [tidak adanya dukungan] dinas terkait. Namun kami tetap optimis, tetap berjalan dengan semangat kami,” ucapnya.

Baca juga: Warga hijaukan kembali penyangga Cycloops

Menurut Taime, PPLH juga menemui para tokoh agama dan tokoh adat, meminta bantuan para tokoh itu mendukung kampanye pelestarian Cagar Alam Cycloop. Akan tetapi, hingga kini banyak warga yang tidak mengindahkan seruan PPLH untuk menjaga hutan Cagar Alama Cycloop.

“Kami sudah berulangkali dengan tokoh-tokoh adat, ondoafi, namun untuk sampai ke lapangan itu yang kurang. Sudah ada peraturan daerah tentang menjaga kawasan penyangga Cycloop, tetapi masyarakat tidak menanggapi hal itu. Mungkin butuh satu aturan yang kuat agar tidak ada aktivitas berkebun di kawasan penyangga Cycloop ini,” katanya.

Ia mengkritik lemahnya penegakan aturan kawasan penyangga Cagar Alam Cycloop. Taime menegaskan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Provinsi Papua harus tegas menegakkan peraturan daerah yang ada. Menurutnya, relawan PPLH tidak bisa berdialog dengan para perambah hutan yang membuka kebun di Cycloop, karena rawan menimbulkan kericuhan.

Baca juga: BKSDA sebut pemilik ulayat restui permukiman di penyangga Cycloops

“Peraturan daerah, peraturan bupati, peraturan gubernur, kalau tidak diterjemahkan baik, itu percuma saja. Tugas Satpol PP itukan untuk menerjemahkan peraturan, kalau Satpol tidak bergerak menerjemahkan, itu berarti pincang. Kami dari pemuda bergerak, tapi dinas terkait dan pemerintah daerah sendiri tidak kuat begitu. Kami naik ke gunung, kadang beradu mulut juga dengan masyarakat yang bikin kebun,” ucapnya.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray mengatakan penanganan kawasan konservasi dan kawasan penyangga Cagar Alam Cycloop merupakan wewenang pemerintah pusat. Penanganan itu dilakukan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Papua bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua.

“Kalau kami mengacu kepada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, konservasi Cagar Alam Cycloop seluas 31 ribu hektar itu kewenangan pusat. Kami, [Pemerintah] Provinsi Papua urus kawasan penyangga Cycloop saja, yang luasnya sekitar 9 ribu hektar, melintas antara Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura,” kata Ormuseray. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us