HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Papua dalam balutan kekerasan tak berujung

Makam korban keekrasan aparat keamanan di Paniai, Papua
Makam empat siswa korban penembakan Paniai Berdarah 8 Desember 2014 di lapangan Karel Gobay, Enarotali, Kabupaten Paniai. – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Fransiskus Batlayeri

Kekerasan yang terjadi di Papua memang selalu tak berujung. Banyak korban yang berjatuhan baik dari pihak masyarakat sipil dan TNI/Polri, maupun OPM/TPNPB. Hampir setiap tahun ada saja kasus kekerasan yang memakan korban jiwa.

Papua dalam balutan kekerasan tak berujung 1 i Papua

Tanah ini telah berubah menjadi ‘darah’. Setiap isak tangis yang terjadi memilukan setiap insan.

Kekerasan menjadi bencana bagi manusia yang mendiami tanah ini. Jalan kedamaian yang diagung-agungkan seolah-olah menjadi utopia semata.

Dalam keadaan miris seperti begini masih saja banyak orang yang semakin angkuh, dan mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Mereka memanfaatkan momen demikian untuk memuluskan ‘proyek’ segelintir elite negara. Mereka menjadikan masyarakat kecil sebagai tumbal atas keuntungan pribadi.

Sistem kapitalis yang dibangun kemudian menjadi visi bersama yang paten, sehingga ketika itu diganggu seketika itu juga ‘war is began’. Perang dimulai, entah siapa yang memulainya hanya kepentinganlah yang tahu.

Akar masalah persoalan Papua sudah diketahui banyak pihak, elite negara, pemerintah daerah bahkan hingga pemerintah pusat.

Selain itu akar masalah ini telah diketahui bersama juga oleh lembaga-lembaga sosial, agama dan budaya, baik di tingkat lokal dan nasional, maupun internasional.

Bahkan hampir sebagian besar manusia yang mendiami tanah ini sudah mengetahui bersama apa yang menjadi persoalan akar masalah Papua.

Lantas proses penyelesaiannya juga sudah ditawarkan oleh berbagai pihak. JDP yang didukung LIPI menawarkannya dengan jalan dialog damai antara rakyat Papua dan Pemerintah Indonesia. ULMWP menawarkannya dengan ‘lobi-lobi’ internasional melibatkan pihak ketiga untuk melakukan referendum.

Negara menyelesaikannya dengan pola pendekatan ‘bakar batu’ dan pendekatan keamanan yang masif. Lantas bagaimana perkembangannya? Tidak ada perkembangannya karena masing-masing  ‘tim’ dengan egonya masing-masing masih mempertahankan paradigma penyelesaian masalah yang digunakan. Tidak ada yang mau mengalah.

Ada yang semakin ‘ngotot’, ada yang bergerak dalam diam, ada yang memberontak dan ada yang jalan di tempat.

Situasi covid-19 memperparah kekerasan yang tak berujung ini. Selain banyak korban yang positif karena covid-19 (Suara Papua, 23/05/2020), baru-baru kemarin tindakan aparat dalam mempertegas PSBB memakan korban karena semprotan water canon (Jubi, 26/5/2020).

Selain itu balutan konflik Papua menyebabkan tidak sedikit pula yang menderita dan meninggal akibat dari kekerasan yang terus terjadi.

Sebut saja penembakan di areal Freeport yang terus memakan korban (Kompas.com,14/4/2020),  penembakan di Pegunungan Bintang (Kompas.com 23/3/2020), konflik Nduga yang tak berujung dari tahun 2017 (dalam buku seri memoria Passionis No. 37 menjelaskan konflik Nduga yang tak berujung; hlm. 33-62), penembakan dua ASN tim medis di daerah Intan Jaya (Suara Papua, 23/5/2020), kasus penganiayaan masyarakat asli oleh oknum polisi di PT Tunas Sawa Wrma, Boven Digul (Jubi, 18/5/ 2020), penyerangan pos polisi di Paniai (Kompas.com 16/5/2020), dan masih banyak lagi kasus lagi.

Persoalan yang tak kunjung henti ini, hanya membutuhkan sikap siapa yang akan ‘menyerah’ terlebih dahulu?

Tentunya dalam sikap ‘menyerah’ hal yang paling diprioritaskan adalah kebenaran. Nilai kebenaran menjadi hal yang harus diperjuangkan bersama. Menyerah bukan berarti kalah tetapi menyadari bahwa kebenaranlah yang dijunjung tinggi.

Persoalan menyerah juga seakan terdengar seperti utopia semata. Memang terbukti karena balutan kepentingan membungkus setiap peristiwa yang terjadi di atas tanah ini.

‘Menyerah’ pada kebenaran selalu bersifat objektif. Dalam hal ini sesuatu itu mengarahkan persepsi manusia pada dirinya sebagaimana adanya. Kebenaran merupakan persesuaian antara pengetahuan manusia dan objek yang ada.

Kebenaran selalu didasarkan pada fakta dan data. Kebenaran selalu merujuk pada kesesuaian antara persepsi dan realitas.

Dengan demikian kebenaran selalu saja terungkap. Kebenaran adalah kebaikan tertinggi. Sesuatu yang baik belum tentu benar, begitu pun sebaliknya sesuatu yang benar belum tentu baik.

Tetapi perlu diingat bersama bahwa kebenaran adalah mutlak. Kebenaran bukanlah persoalan basa-basi.

Kebenaran tidak bisa digugat oleh apapun dan siapapun. Kebenaran tidak bisa terpenjara dalam pikiran manusia. Kebenaran adalah idealisme tertinggi yang mewujud dalam realitas yang manusiawi.

‘Menyerah’ pada kebenaran adalah cara menyelesaikan konflik yang tepat. Idealisme, pikiran dan tujuan serta egoisme harus disingkirkan demi menegakkan kebenaran. Demi mengangkat kebenaran pada posisinya.

Kebenaran bukan utopia melainkan sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan, dan dipahami oleh manusia. Kebenaran tidak perlu dicari hanya perlu diungkapkan, diperjuangkan dan dijunjung tinggi bersama.

Konflik Papua yang semakin masif terjadi tentunya diakibatkan karena kebenaran yang tidak dijunjung bersama oleh manusia.

Balutan kepentingan dan egoisme elite menjadi akar masalahnya. Kesengajaan dan malas tahu menjadi ajang manipulatif yang mencabik-cabik kebenaran pada pikiran dan perbuatan manusia.

Sebenarnya manusia sudah memahami bahwa kebenaran biarpun tidak diungkapkan akan memerdekakan dirinya sendiri. Kebenaran adalah wujud benar pada dirinya.

Oleh sebab itu, kebenaran tidak diakibatkan dan tidak disebabkan. Kebenaran muncul karena memang benar adanya.

Lantas mengapa manusia memperjuangkan kebenaran di tanah ini?

Jawabannya adalah karena kebenaran terbungkus dalam balutan kekerasan yang tak berujung. Kebenaran dimanipulasi dengan bungkusan egoisme dalam ranah kerakusan dunia kapitalisme. Kebenaran dibungkam dengan melegalkan pendapat banyak orang.

Sikap dan pemikiran seperti inilah yang menyebabkan kebenaran tidak pernah mewujud dalam tindakan manusia di atas tanah ini.

Konflik Papua dalam balutan kekerasan yang tak pernah berujung selalu mengisahkan pilu bagi setiap orang di tanah ini. Kekuasaan dan intimidasi represif menjadi tameng untuk menghadapi kebenaran yang diperjuangkan.

Oleh sebab itu, konflik ini tidak akan pernah sampai pada tanda titik jika manusia tidak pernah menyerah pada kebenaran.

Menyerah pada kebenaran artinya adalah menyadari, memahami dan bertindak sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi. Menyerah pada kebenaran juga berarti melihat persoalan berdasarkan fakta dan realitas. Menyerah pada kebenaran juga berarti menghilangkan ego dan kepentingan demi keselamatan manusia Papua. Menyerah pada kebenaran juga berarti tidak membungkam.

Akhirnya menyerah pada kebenaran adalah mewujudkan keadilan. Dalam hal ini kata adil sendiri bukanlah persoalan keseimbangan tetapi memberi sesuai dengan kebutuhan.

Selama ini keadilan tidak pernah menyetuh masyarakat asli karena itu keadilan seolah menjadi utopia kaum minoritas. Keadilan terbungkus dalam kerakusan elite kapitalis.

Dengan demikian elite negara, kaum kapitalis dan semua yang punya kepentingan di tanah ini sudah seharusnya menyerah pada kebenaran.

Harus disadari bahwa kebenaran tidak bisa diperjuangkan dengan cara-cara kekerasan, intimidasi, pemaksaan dan ketidakadilan. Kebenaran harus diperjuangkan dengan cara yang damai, cara yang menghargai harkat dan martabat.

Oleh sebab itu, diperlukan sebuah komunikasi yang menyatukan harmoni kemanusiaan. Komunikasi bukanlah persoalan memaksakan kehendak, tetapi proses menghargai harkat dan martabat manusia.

Dengan demikian haruslah disadari bersama bahwa komunikasi itu haruslah dilaksanakan secara konstruktif. Karena komunikasi memungkinkan segala persoalan terselesaikan sesuai dengan kebenaran yang diperjuangkan.

Intinya adalah ketika berkomunikasi semua elemen yang memiliki kepentingan harus tunduk pada kebenaran.

Dengan demikian menyerah pada kebenaran bukan persoalan kalah menang atau persoalan untung rugi melainkan menyerah pada kebenaran adalah konsekuensi memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabatnya manusia serta mengembalikan posisi manusia pada tempatnya.

Perjuangan yang mengatasnamakan kebenaran selalu berujung pada pembebasan. Artinya kebenaran entah itu diperjuangkan atau tidak tetap akan memerdekakan dirinya sendiri.

Kebenaran harus menjadi tujuan bersama setiap orang yang mendiami tanah ini. Tanpa memperjuangkan kebenaran, konflik yang tak berujung akan semakin masif terjadi. Kekerasan bukanlah satu-satunya jalan menuju pada kebenaran dan sampai kapan pun kekerasan tidak akan pernah diterima sebagai tindakan yang benar dalam mencapai kebenaran.

Sekuat apapun manusia yang hidup dengan sistem dan kekuasaan yang bersifat represif pada akhirnya ia harus sadar dan tunduk pada kebenaran.

Akhirnya menyerah pada kebenaran bukanlah persoalan cita-cita yang harus dikejar bersama, tetapi menyerah pada kebenaran adalah sikap patriot yang manusiawi untuk menegakkan perdamaian dan keadilan di atas tanah ini. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur.dan anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top