Follow our news chanel

Previous
Next

Papua dalam lembaran sejarah Perang Dunia Kedua (1/2)

Perang_Dunia_Papua
Para tentara Melanesia Fiji yang tergabung dalam Pasific Regimen tentara Sekutu dalam Perang Dunia Kedua. - Dok. DC Norton, New Georgia Pattern for Victory
Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Papua ada dalam lembaran sejarah Perang Pasifik, bagian dari Perang Dunia kedua yang dikobarkan Jepang di kawasan Pasifik Selatan pada 1941 – 1945. Kejamnya Perang Pasifik itu masih melekat dalam ingatan sejumlah saksi mata yang ditemui Jubi.co.id. Tulisan ini merupakan bagian pertama dari dua tulisan serial ” Papua dalam lembaran sejarah Perang Dunia Kedua”.

Para tentara Fiji dan perebutan pangkalan militer di Papua

Berbeda dengan negara di Pasifik Selatan lainya, warga Melanesia asal Fiji pernah direkrut bergabung tentara Australia dalam Perang Dunia Kedua. Mereka turut bertempur melawan tentara Jepang di Samudera Pasifik, khususnya di Kepulauan Solomon dan Papua Nugini.

Pengeboman Pearl Harbour, pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) di Hawaii yang dilakukan tentara Jepang pada Minggu pagi 7 Desember 1941 akhirnya memicu keterlibatan AS dalam Perang Dunia Kedua. Usai menghancurkan pangkalan Angkatan Laut AS itu, Jepang mengobarkan perang di Pasifik Selatan.

Saat itu, sebagian besar kawasan Pasifik Selatan merupakan daerah jajahan Australia, Inggris, Perancis, juga Belanda. Saat itu, Belanda menguasai Nederlands Nieuw Guinea, wilayah yang kini dikenal sebagai West Papua atau Tanah Papua. Jepang ingin menyerbu Australia, sekutu utama AS di Samudera Pasifik.

Situasi itu membuat tentara Australia dan Inggris segera menyiapkan sebanyak 6.660 orang Melanesia Fiji untuk dilatih dan dipersenjatai. Pemerintah Inggris dan Australia lalu menggabungkan para tentara Melanesia Fiji itu ke dalam Pasific Regimen, dan menjadi bagian dari tentara Sekutu yang dipimpin AS.

DC Horton dalam bukunya berjudul  New Georgia Pattern for Victory merinci bagaimana tentara Sekutu menggelar operasi Cartwheel untuk melawan tentara Kekaisaran Jepang. Tentara sekutu Amerika Serikat memilih strategi untuk mengisolasi pangkalan Jepang di sekitar Rabaul, New Britain Island, Papua Nugini.

Loading...
;

Kampanye utama di Pulau Georgia di negara Kepulauan Solomon sekarang adalah menggelar pertempuran untuk menghancurkan pertahanan Jepang di Gualdacanal. Divisi Infanteri ke-25 berperang di sana pada 30 Juni sampai 7 Oktober 1943. Tercatat sebanyak 210 pasukan dari Fiji dari Pasific Regimen tewas dalam pertempuran Gualdacanal,” tulis Horton.

Selain itu, tercatat ratusan tentara Afrika-Amerika dalam tentara Sekutu Amerika.  Mereka lebih banyak tergabung dalam pasukan Zeni Tempur yang membangun jembatan dan pangkalan Angkatan Udara AS.

Pada 19 April 1942, tentara Jepang sudah membangun pangkalan laut di Teluk Humbold, Youtefa, dan Sarmi yang ada di Papua. Jepang juga membangun pangkalan udara di Sentani, Tami, serta Vanimo dan Wewak.

AS baru berhasil menghancurkan pangkalan utama Jepang di Hollandia dan Sentani pada Maret 1944, ketika mereka berhasil menghancurkan 340 buah pesawat terbang milik Jepang. Hans Ohee (84 tahun) warga Kampung Asei mengatakan saat itu pesawat-pesawat tempur AS terbang di atas Danau Sentani menghancurkan pangkalan militer Jepang.

Baca juga: Papua dalam lembaran sejarah Perang Dunia Kedua (2/2)

“Kami lari bersembunyi di rawa-rawa hutan sagu. Banyak bom yang tidak meledak, sehingga kami bisa selamat,” kata Ohee kepada Jubi.co.id

Lain pula dengan kesaksian mendiang Pendeta Silas Chaay, yang saat itu harus ikut orangtuanya mengungsi ke Kampung Ormu di Kabupaten Jayapura. Kala itu, banyak warga Papua yang bersembunyi dan menyelamatkan diri dari pertempuran tentara Jepang melawan Sekutu.

Kobaran Perang Pasifik juga dirasakan warga Papua di Biak. Pada 1942, serdadu Jepang sudah menduduki Pulau Biak dan sekitarnya, termasuk Pulau Numfor. Tentara Jepang lalu membangun tiga landasan pacu di Pantai Selatan Mokmer, Sorido, dan Borokoe.

Almarhum guru Th Wospakrik menuturkan dirinya harus menerima pekerjaan menjadi mandor untuk mengawasi para warga Biak dipekerjakan membangun landasan lapangan terbang Mokmer, yang sekarang Bandara Udara Internasional Frans Kaisiepo. Iparnya, guru Jakobus Boekorsjom, juga merasai menjadi mandor pembangunan landasan pacu bagi para tentara Jepang itu.

Saat itu, istrinya dan anak sulung Wospakrik mengungsi, bersembunyi di dalam gua-gua karang yang terletak di antara Kampung Urfu dan Samber di Biak. “Ya kami memilih jadi mandor, karena mendapat janji dari tentara Jepang [bahwa kami] akan disekolahkan jadi dokter,” kata Wospakrik kepada Jubi.co.id.

Wospakrik bertutur, banyak orang Biak yang mau dibunuh tentara, karena tentara Jepang sangat keras dan disiplin dalam mengawasi kerja paksa. Wospakrik pun terus berusaha melindungi orang Biak yang dipekerjakan para tentara Jepang itu.

Pada 28 April – 9 Juli 1944,  tentara Sekutu Amerika Serikat menggencarkan serangan mereka di berbagai kubu pertahanan Jepang, dan menyerbu Biak pada 27 Mei 1944. Divisi Infanteri ke-41 mendaratkan tank amfibi di Bosnik, mengawali pertarungan dengan tank Jepang yang berlangsung ketat.

Waktu itu Biak dipertahankan oleh 12.000 tentara Jepang yang tergabung dalm Divisi ke-37 Jepang yang dipimpin Kolonel Kuzume. Wospakrik mengingat bagaimana para tentara Jepang bersembunyi di gua-gua yang kemudian disebut gua Jepang.

Wospakrik, Boekorsjom dan para pekerja yang membangun lapangan Mokmer harus menyelamatkan diri dari pertempuran sengit yang menghancurkan kekuatan Jepang di Biak. Beruntung Wospakrik dan Boekorsjom selamat dari kekerasan perang itu, dan bisa bekerja sebagai guru dari zending di Nederlands Nieuw Guinea.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top