Follow our news chanel

Papua dalam lembaran sejarah Perang Dunia Kedua (2/2)

Para tentara Afro-Amerika dalam Perang Pasifik di New Guinea -Jubi/IST
Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Papua ada dalam lembaran sejarah Perang Pasifik, bagian dari Perang Dunia kedua yang dikobarkan Jepang di kawasan Pasifik Selatan pada 1941 – 1945. Kejamnya Perang Pasifik itu masih melekat dalam ingatan sejumlah saksi mata yang ditemui Jubi.co.id. Tulisan ini merupakan bagian kedua dari dua tulisan serial ” Papua dalam lembaran sejarah Perang Dunia Kedua”.

Para tentara AS dan Herman Womsiwor yang diselundupkan ke Los Angeles

Tidak mudah bagi tentara Sekutu untuk mengalahkan 12.000 tentara Jepang di Biak, apalagi para tentara Jepang piawai bersembunyi di gua-gua yang menjadi kubu pertahanan mereka. Pada 16 Juni 1944, Jenderal Robert Eichelberger berangkat dari Teluk Humboldt (sekarang Teluk Yos Sudarso) menuju Biak dengan membawa tambahan pasukan yang terdiri dari Resimen Tempur-34 dari Divisi Infanteri-24.

Perjalanan pasukan Jenderal Eichelberger itu melewati Wakde dan Sarmi, dan mereka akhirnya didaratkan di Mokmer, Borokoe, dan Sorido, dan menuntaskan perang mereka di Biak. Dalam memoar Perang Dunia Kedua yang diterbitkan dengan judul Our Jungle Road to Tokyo, Eichelberger menuliskan nasib ribuan tentara Jepang yang bersembunyi dalam gua-gua yang ada di Biak.

“Ketika kami memasuki goa-goa itu aroma bau mayat yang menyengat menyambut kami. Rupanya peluru, granat, gasoline dan TNT telah melakukan tugasnya dengan baik,” tulis Eichelberger.  Sisa-sisa kekejaman Perang Dunia Kedua terekam jelas dalam Goa Jepang di Biak. Peluru dan senjata tertata rapi dalam museum, pintu masuk gua, dan di sekitar Goa Jepang itu.

Setelah menguasai Biak Numfor, tentara Amerika Serikat (AS), khususnya tentara Afro-Amerika, mulai membangun pangkalan udara di Mokmer. Sebelumnya mereka sudah membangun landasan pacu di Pulau Owi di Kepulauan Padaido Biak. Keberadaan para tentara Afro-Amerika di Biak itu akhirnya mengubah perjalan hidup Herman Womsiwor, seorang laki-laki yang lahir di Kampung Opuri, Biak Barat, pada 3 Maret 1929.

Baca juga: Papua dalam lembaran sejarah Perang Dunia Kedua (1/2)

Loading...
;

Herman Womsiwor saat itu baru berusia 15 tahun memiliki postur tubuh yang sangat besar, mirip dengan perawakan para tentara Afro-Amerika. Saat itu banyak anak-anak Biak yang mengagumi para tentara Afro-Amerika itu, dan ingin  ikut bergabung tetapi para serdadu Afro-Amerika itu. Para tentara AS melarang, karena perang masih berkecamuk.

Namun mereka sepakat menyelundupkan Herman Womsiwor ikut serta saat pasukan Sekutu bergeser ke Pulau Morotai, dan bergerak menuju Kota Manila yang kini menjadi ibu kota Filipina. Akan tetapi, Polisi Militer tentara Sekutu mendapat laporan bahwa ada seorang anak Biak dari Nederlands Nieuw Guinea yang ikut bergabung tentara Afro-Amerika di Filipina.

Bukannya takut, Herman Womsiwor justru meminta seragam militer dan mengendarai jip militer untuk pergi melapor ke pos militer.  Konon dia memarahi tentara di pos militer itu, dan mengatakan tidak ada orang Nieuw di antara para tentara AS itu.

Papua dalam lembaran sejarah Perang Dunia Kedua (2/2) 1 i Papua
Herman Womsiwor. – IST

Womsiwor bahkan berhasil ikut para tentara Sekutu hingga tiba di Los Angeles, AS. Belakangan harian pagi terbitan Australia, Sydney Morning Herald dalam edisi 13 Agustus 1960 melaporkan bahwa Herman Womsiwor pada usia 15 tahun diselundupkan dan bersembunyi dalam ransel tentara dari Biak hingga Los Angeles. ”The GI’ call him Head Hunter,” tulis Sydney Morning Herald.

Dari Los Angeles, Herman Womsiwor berangkat ke Tokyo, Jepang. Ia tinggal di Jepang selama tujuh tahun, bekerja sebagai penerjemah di Angkatan Udara AS. Pada 1953, Herman Womsiwor kembali ke Biak dan membangun koperasi bersama Nicolaas Jouwe, salah seorang tokoh pejuang kemerdekaan Papua yang nantinya mendukung Papua menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Pengalaman Herman Womsiwor melanglang buana membuatnya ditunjuk menjadi penasehat bagi delegasi Nederlands Nieuw Guinea dalam pertemuan Komisi Pasifik Selatan ke-2 di Noumea, Kaledonia Baru. Pada April 1961, ia menjadi anggota Nieuw Guinearaad tanpa dipilih, dan dilantik bersamaan dengan peresmian Kantor Nieuw Guinearaad yang sekarang menjadi Kantor DPRD.

Ketika penguasaan wilayah Papua diserahkan kepada UNTEA pada 1962, Herman Womsiwor bersama Markus Kaisiepo, Nicholaas Jouwe,  dan Ben Tanggahma memilih pergi ke Belanda.  Bersamaan dengan itu pula,  antara 2 Oktober dan 21 Nopember 1962,  sebanyak 3.000 warga Belanda dievakuasi maskapai penerbangan KLM untuk kembali ke negeri Belanda.

Bersama Benn Tanggahma, Herman Womsiwor mendirikan perwakilan Organisasi Papua Merdeka di Senegal, Afrika. Namun, pada 1980-an pemerintah Senegal menutup perwakilan itu, sehingga Tanggahma dan Womsiwor kembali ke Den Haag, Belanda, hingga meninggal di sana.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top