Follow our news chanel

Previous
Next

Ditulis 9 tahun, buku sejarah Mambesak bisa menjadi cikal bakal Mambesakologi

Mambesak Papua
Diskusi daring peluncuran buku “Grup Mambesak, Simbol Kebangkitan Kebudayaan Orang Papua Proto” pada Rabu (5/8/2020). - Screenshot Youtube/#PapuanVideoMaker

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Editor buku “Grup Mambesak, Simbol Kebangkitan Kebudayaan Orang Papua Proto”, Andreas Goo menuturkan buku yang mengulas sejarah dan arti penting kelompok musik Mambesak itu ditulis selama sembilan tahun. Buku yang ditulis 11 penulis itu dilampiri empat volume lagu kelompok Mambesak, dan mengulas profil Arnold Clemens Ap selaku pendiri Mambesak.

Hal itu disampaikan Andreas Goo dalam peluncuran buku “Grup Mambesak, Simbol Kebangkitan Kebudayaan Orang Papua Proto” di Museum Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, pada Rabu (5/8/2020). Menurut Goo, buku itu ditulis dalam waktu sembilan tahun, karena prosesnya dipengaruhi berbagai impuls.

Menurut Goo, kekuatan buku “Grup Mambesak, Simbol Kebangkitan Kebudayaan Orang Papua Proto” adalah mampu mentransformasikan pengaruh kelompok musik Mambesak, tarian, nyanyian, dan musik khas Papua sebagai alat pembelajaran bagi generasi muda Papua. Buku itu dapat menjadi dasar penyusunan ‘mambesakologi’.

Baca juga: Diskusi daring dan pelucuran buku Mambesak ingin hidupkan spirit Mambesak

“Kelemahan dari buku tersebut adalah  belum seratus persen hasil wawancara dengan para tokoh Mambesak. Buku itu juga kekurangan foto-foto [dari masa] keemasan Mambesak,” kata Goo.

Menurutnya, buku itu mengurai bagaimana proses dekulturalisasi kebudayaan orang Papua terjadi pada 1970-an, antara lain dipicu agen agama dan agen pemerintah pada masa lalu yang mengedepankan nilai pembaratan, orientalisme, dan globalisasi. Cara pandang itu menganulir, mengalienasi, memarjinalisasi, dan menstigma nilai kebenaran orang Papua Proto dengan steriotipe ‘kafir, berhala, kuno’.

“Maka, Mambesak lahir sebagai tanggapan kreatif tehadap kondisi masa lalu itu. [Mambesak] menghidupkan, membangkitkan, dan menggerakkan orang Papua Proto oleh orang Papua Proto sendiri. [Mambesak membangkitkan kesadaran bahwa] kebudayaan Papua Proto sebagai berkat karunia Tuhan  Allah Bangsa Papua. [Kebudayaan itu harus] dipertahankan dan dilestarikan sepanjang sejarah dan selama generasi Papua Proto ada di negeri Papua, dan atau dimanapun di bumi kita yang satu dan sama ini,” katanya.

Loading...
;

Dosen Jurusan Antropologi Universitas Cendrawasih itu mengatakan spirit Mambesak yang menyebut ‘kami menyanyi untuk hidup, dulu, kini, dan nanti’ menggambarkan roh utama dari dunia kesenian Orang Papau Proto. Spirit itu menunjukkan bahwa orang Papua Proto itu tidak hidup tanpa nyanyian musik, dan tarian.

“Grup Mambesak sudah menjadi corensi, mikroseni, nukleusseni, dan atau Rohseni untuk menggetar, menggelombangkan, dan mengirimkan setiap nilai seni dari tiap suku orang Papua Proto. Roh yang satu dan sama itu pernah hidup pada masa lampau, sedang hidup kini, dan wajib dilestarikan oleh generasi orang Papua Proto kedepan nanti” kata Goo.

Goo menjelaskan bahwa, ciri dasar identitas diri orang Papua Proto yang sangat bertaut dengan keberadaan tanah ulayatnya secara sakral dan hakiki. Ada orangnya ada keluarganya, ada klannya, ada sukunya, ada bangsanya. Itu adalah dasar struktural orang Papua Proto.

“Ada kebudayaannya yang beranekaragam, yang di pelajari, terjabar dalam komponen tertentu, berstruktur, beraspek, berdinamika dan bernilai relatif. Ada rohnya, ada nilainya, ada harga standarnya, ada simbolnya, ada makna dan dimensinya. Konfigurasi sari substansi dari keempat komponen itulah yang menjadi spirit dan spritualitas dasar guru Mambesak”

“Dengan membacanya buku itu, kita akan menemukan ketokohan Arnold Clemets Ap yang memenuhi harapan orang Papua Proto dalam konteks mesianisme dan cargoisme Papua, serta merupakan tindakan pemenuhan pesan profetik Pendeta IS Kanje pada batu Aitumeri di Wasior, Kabupaten Teluk Wondama,” kata Goo.

Pembantu Rektor I Universitas Cenderawasih, Onesimus Sahuleka menyambut baik diskusi daring dan peluncuran buku “Grup Mambesak, Simbol Kebangkitan Kebudayaan Orang Papua Proto” itu. “Puji Tuhan setelah grup mambesak 30 tahun tidak aktif, generasi muda kembali bangkitkan grup Mambesak. Kami bersuka cita dengan adanya buku itu,” kata Sahuleka.

Baca juga: Nyanyian Mambesak yang dilupakan (sebuah refleksi)

Sahuleka mengatakan Keluarga Besar Universitas Cendrawasih menyambut baik buku yang diluncurkan dalam peringatan 42 tahun hari jadi Mambesak itu. Ia berharap generasi muda Papua akan membacanya, dan menumbuhkan perkembangan kebudayaan dan kesenian di Papua.

“Momentum HUT Mambesak ke-42 ini momentum kebangkitan kedua Mambesak. Dari generasi ke generasi, memberikan  estafet [warisan] grup [Mambesak] kepada generasi kita. Dengan regenerasi itu, Mambesak menjadi besar dan memperkenalkan seni budaya orang Papua di indonesia dan dunia. Melalui seni budaya, Mambesak mengenalkan kebudayaan orang Papua kepada dunia,” katanya.

Sahuleka menyampaikan terima kasihnya kepada 11 penulis buku itu, Dr Enos H Rumansara, Dr Don AL Flassy, A Andreas Goo, Yakobus Dumupa SIp, Natan Tebay SSos, Sara Rumansara, Marthina Aiyamau Aagapa, Enrico Y Kondologith SSos MSi, Andy Rumbiak SSos MSi, Dr Hanro Y Lekito, dan Dr I Ngurah Surayawan. Ia juga menyampaikan terima kasihnya kepada para pembicara dalam diskusi peluncuran buku itu, termasuk Demianus Wariap Kurni (personil Mambesak) Constantinopel Ruhukail (personil Mambesak) Corry Ap-Bukorpioper (Istri alm. Arnold C Ap) Oridek Ap (putra sulung Arnold C Ap). “Ini akan memotifasi generasi muda memperkenalkan seni budaya orang Papua,” katanya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top