Ini pesan mendiang Arnold Ap kepada perempuan Papua

papua-mambesak
Kelompok musik akuistik Manbewarek, Selasa (4/8/2020), melakuan gladi bersih untuk tampil dalam diskusi daring dan peluncuran buku dalam rangkaian peringatan HUT ke-42 Kelompok Musik Mambesak di Museum Universitas Cenderawasih, Rabu (5/8/2020) – Jubi/Hengky Yeimo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Legenda musik, budayawan, dan antropolog Papua, Arnold Clemen Ap, semasa hidupnya pernah berpesan kepada keluarga-keluarga Papua supaya melahirkan anak lebih dari dua. Karena, jumlah orang asli Papua (OAP) sangat sedikit, sementara Tanah Papua sangat luas. Prosentase OAP juga makin berkurang seiring makin bertambahnya jumlah orang-orang luar Papua yang bermigrasi ke Papua.

Pesan itu disampaikan isteri mendiang Arnold Ap, Corry Ap-Bukorpioper, dalam diskusi daring dan peluncuran buku “Grup Mambesak, Simbol Kebangkitan Kebudayaan Orang Papua Proto” yang diselenggarakan Keluarga Besar Alumni Antropologi Universitas Cenderawasih pada perayaan 42 tahun group Mambesak, di Kota Jayapura-Papua, pada 5 Augustus 2020.

“Arnold memperhatikan pekerjaan saya sebagai bidan. Ia pesan, Mama, perempuan Papua harus melahirkan anak banyak, tidak boleh hanya dua, karena kita sedikit,” ungkap Corry Ap-Bukorpioper, mama empat anak hasil dari jalinan cintanya dengan mendiang Arnold Ap.

Corry mengatakan mendengar pesan suami tercintanya itu, dirinya teruskan dalam diam di dunia kerjanya sebagai bidan. Dia membantu mama-mama Papua yang bersalin di klinik tempat kerjanya dengan kasih dan perhatian saat melayani proses bersalin tetapi juga demi masa depan generasi bangsa Papua.

“Saya periksa. Mereka sehat. Saya anjurkan kamu boleh melahirkan anak lebih dari dua. Ini juga saya pesan untuk perempuann Papua saat ini dan di waktu yang akan datang,” ungkapnya.

Kata dia, untuk melahirkan generasi penerus Papua lebih banyak, lebih sehat, dan cerdas harus dari rahim mama-mama yang sehat secara fisik dan mental. Karena itu, dia berpesan perempuan Papua harus bisa jaga diri dan kesehatan demi generasi penerus bangsa Papua.

“Jaga diri baik karena tubuhmu adalah penerus bangsa,” ungkap mama yang tinggal di Belanda bersama empat putranya, setelah mendapatkan suaka politik sejak meningalkan Tanah Papua pada awal 1980-an.

Loading...
;

Mereka ke Belanda setelah mengungsi ke Papua New Guinea. Mereka ke PNG ketika situasi politik dan operasi militer meningkat di Papua, salah satu korbannya, suami tercintanya, Arnoldd Ap yang diculik  dan dibunuh pasukan elite  TNI pada 26 April 1984 di Pantai Pasir 6, Kota Jayapura, Papua.

Orang Papua makin sedikit

Kekhawatiranya bahwa orang Papua yang makin sedikit terasa hingga hari ini. Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan Majelis Rakyat Papua (MRP), Ciska Abugau, orang Papua makin sedikit karena berbagai program. Salah satunya Keluarga Berencana. Dengan dalil menjaga jarak kelahiran tetapi dikhawatirkan berdampak lain.

“Perempuan Papua tidak bisa menjadi subur akibat program Keluarga Berencana. Dengan membatasi dua anak atau  upaya pemerintah mengatur jarak  kelahiran demi kesehatan anak dan ibu tetapi yang teejadi sebaliknya,” katanya.

Menurutnya, ada sejumlah kisah berkembang di masyarakat, perempuan Papua yang pernah meminum pil KB sesuai anjuran pemerintah melalui BKKBN menghadapi berbagai masalah. Sejumlah  Perempuan Papua tak lagi bisa hamil dan melahirkan, yang berdampak pada semakin berkurangnya jumlah orang asli Papua di tanahnya sendiri.

“Ini yang sering dialami dan terjadi sama perempuan Papua. Ketika dikasih pil KB itu langsung tidak bisa mengandung lagi. Seperti KB itu yang menutup kandungan perempuan Papua,” ujarnya kepada kepada Jubi pada Januari 2020.

Kajian akademis memperkuat pernyataan Ap dan Abugau. Seperti lansir https://tirto.id mengutip analisis Dr. Jim Elmslie, akademisi University of Sydney. Dalam tulisanya di The Asia-Pasific Journal yang menyebut jumlah penduduk asli Papua makin menurun di beberapa wilayah perkotaan.

Elmslie membuat itu dari analisis jumlah penduduk asli Papua yang memang terus menurun dengan mengkombinasikan kedatangan migran orang non-Papua dan isu lain termasuk layanan kesehatan tak layak di Papua sejak 1970-an dan juga kekerasan negara terhadap orang Papua yang terus terjadi.

Kata dia, pada 1963, jumlah penduduk asli Papua masih 100 persen. Namun, dalam sensus 1971, jumlah penduduk asli Papua menjadi 96 persen (923 ribu), sementara jumlah orang non-Papua sebesar 4 persen (36 ribu).

Perubahan terus berlangsung. Pada Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk asli Papua sekitar 73,57 persen (2.121.436 jiwa), sementara jumlah pendatang 22,84 persen (658.708 jiwa).

Ada lima kabupaten dengan mayoritas non-Papua, yakni Merauke (62,73%), Nabire (52,46%), Mimika (57,49%), Keerom (58,68%), dan Kota Jayapura (65,09%).

Sebanyak 23 kabupaten lain di Papua dan Papua Barat masih didominasi oleh orang asli Papua. Meski begitu, enam kota lain berpotensi berubah di masa mendatang dengan orang non-Papua, yakni  Kabupaten Jayapura (38,52%), Yapen Waropen (21,91%), Biak Numfor (26,18%), Boven Digoel (33,04%), Sarmi (29,75%), dan Waropen (20,41%). Dari data ini, orang non-Papua terkonsentrasi di perkotaan.

Di wilayah pegunungan, mayoritas penduduk adalah orang asli Papua, seperti di Lanny Jaya (99,89%), Tolikara (99,04%), Yahukimo (98,57%), Paniai (97,58%), dan Jayawijaya (90,9%).

Konfigurasi yang berubah itu lantaran program transmigrasi negara masa pemerintahan Soeharto yang mengirim orang-orang di wilayah padat penduduk ke wilayah yang masih jarang penduduk. Belakangan, ia tak cuma diubah oleh transmigrasi, melainkan para migran ekonomi yang mencari peruntungan ke Papua. Mereka termasuk orang Makassar, Bugis, Maluku, selain Jawa, dan sebagainya.

Kondisi ini ditambah dan diperparah lewat kekerasan negara dan gelombang korporasi di wilayah yang paling terutup dari akses peliputan media maupun pemantauan kejahatan kemanusiaan. Itu secara gradual menurunkan jumlah orang asli Papua.

Persentasenya terus merosot. Ada ungkapan, datang ke Papua dengan M-16, pulang dari Papua membawa 16 M. Dari studi demografinya, Elmslie memperingatkan pemerintah Indonesia kalau orang asli Papua terancam punah.

Elmslie bahkan menyebutnya sebagai slow-motion genocide.

“Kalau pemerintah terus-terusan mengabaikan laporan-laporan semacam ini, dan tidak segera mengambil kebijakan, ya bisa dibilang ini upaya mereka memutihkan etnis Papua,” ujar Veronica Koman. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Peluncuran buku Mambesak pada HUT ke-42 Mambesak yang digelar di Istana Mambesak, UPTD Museum Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura-Papua, Rabu (5/8/2020) –  Jubi/Mawel

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top