Follow our news chanel

Previous
Next

Jubi.co.id ke depan, merebut kaum milenial dan memperbanyak jurnalis OAP

Jubi Papua
Logo jubi.co.id. - Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Tak terasa, Jubi sudah memasuki usia 19 tahun, meskipun kalau ditelisik lebih mendalam berdasarkan SIUP di Kanwil Penerangan Provinsi Irian Jaya tercatat dalam No:1536/SK/Menpen/SIUP/1999 Tanggal 26 Juli 1999. Mengacu SIUP dari Menteri Penerangan itu, seharusnya Jubi sudah berusia 21 tahun. Akan tetapi, berbagai tantangan dan hambatan sehingga mengalami jatuh dan bangun lagi.

Awalnya, para pemrakarsa media alternatif ini, mereka yang tergabung dalam Foker LSM, Yayasan Pembangunan Masyarakat Desa (YPMD), PPMA, dan Elpera ingin memberi nama media ini Suara Papua. Namun, nama Papua di era 1999 masih menimbulkan alergi bagi banyak pihak, sehingga  pilihan alternatif menjadi “Jujur Bicara”, yang disingkat Jubi.

Hadirnya Tabloid Jubi tentunya mengalami pasang surut, bangkit dan jatuh bangun, sehingga ada istilah Jubi jilid Satu, Dua, dan Tiga. Mestinya, harus ada Jubi jilid Empat, kalau menghitungnya sejak 1999.

Hal ini bisa dilihat sejak jurnalius senior, koresponden Kompas, dan Pemimpin Redaksi Tifa Irian, Bill Rettob yang didaulat memimpin Tabloid Jubi pada 1999. Selanjutnya M Kholifan pemimpin redaksi, lalu diganti Dominggus Mampioper. Selama periode ini Jubi sudah kelihatan mati suri, alias hidup pun enggan.

Padahal Tabloid Jubi lahir dengan semua peralatan lengkap, kantor milik sendiri, para jurnalis selama meliput dibekali kendaraan roda dua, ada pula mobil pick up. Bahkan semua jurnalis Tabloid Jubi kala itu memakai handphone yang agak besar. Kata Cunding Levi,  mantan jurnalis Jubi, saking besarnya handphone itu sehingga kalau melempar anjing pasti mati.

Barulah Sekretaris Forum LSM Papua di era Septer Manufandu memberikan tantangan kepada Victor Mambor untuk membangun kembali Tabloid Jubi dari mati suri. Apalagi Septer memberikan dukungan agar Jubi harus berdiri sendiri, dan lepas dari Foker LSM Papua, dengan berbadan hukum sendiri.

Baca juga: 19 tahun Jubi, ini pandangan dari peneliti dan Polda Papua

Loading...
;

Jubi telah berbadan hukum sendiri, mulai berdiri 31 Agustus 2001, beberapa saat menjelang diundangkannya Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua (UU Otsus Papua). Saat itu hampir semua isu-isu pembahasan UU Otsus Papua terekam dengan baik dalam Tabloid Jubi, sebagai salah satu media untuk menjawab solusi damai antara Otsus Pupua dan Papua Merdeka.

Jubi di era baru di bawah pimpinan Angela Flassy dan Redaktur Pelaksana Jein Bisay serta Yuliana Lantipo jelas akan terus menjaga keseimbangan informasi, dan juga menuju era industri media di Tanah Papua. Begitupula jubi.co.id didukung pula dengan para redaktur senior dari luar Papua, mulai dari Gorontalo, Kalimantan Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat. Keragaman jurnalis di jubi.co id membuat tampilan media nomor satu di tanah Papua mengalami perubahan yang baik ke depan.

Meski dipenuhi dengan redaktur yang beragam dari Sabang sampai Merauke ternyata tantangan juga tak sedikit. Victor Mambor sejak awal memberikan tugas wajib bagi para redaktur untuk terus melahirkan jurnalis-jurnalis asli Papua. Bahkan dalam program internal Jubi selalu ada pelatihan dan rekrutmen jurnalis asli Papua saat masih duduk di bangku kuliah.

Bukan hanya itu saja, ada beberapa jurnalis orang asli Papua (OAP) yang ikut liputan investigasi bersama Majalah Tempo setelah proposalmya lolos seleksi dan pelatihan di Jakarta selama hampir sebulan. Tercatat ada tiga jurnalis jubi lolos dalam penilaian proposal peliputan, mulai dari isu kesehatan di rumah sakit, dugaan obral izin Fakultas Kedokteran, dan kasus sedimentasi akibat limbah tailing di sungai-sungai dataran rendah Mimika.

Seperti kata Victor Mambor, Jubi berupaya melahirkan jurnalis-jurnalis baru khususnya OAP untuk mengawal media advokasi ini ke depan. Tantangan bagi jurnalis di Tanah Papua, khususnya para jurnalis OAP jelas komunikasi dan menulis dalam bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Sebagaimana peran yang dimainkan Victor Mambor membangun kerja sama dengan media-media di dalam negeri maupun di luar negeri.

Kemampunan berbahasa Inggris jelas sebagai modal untuk membangun kolaborasi dengan media lain baik di Pasifik Selatan maupun di Asia. Salah satu media online Face2FaceAfrika juga ikut memainkan isu-isu kulit hitam di seluruh dunia.

Belum lagi ada permintaan dari anggota DPR Papua kursi Otsus John Gobay mengusulkan agar ke depan harus ada Jubi TV. Lepas dari pro dan kontra soal Jubi ke depan, adalah bagaimana membuat jurnalis orang asli Papua bisa tekun dan setia menjalani kerja kerja jurnalis. Apalagi media era digital penuh tantangan baik melalui media social maupun media alternatif lainnya. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top