Follow our news chanel

Previous
Next

Kabulog Merauke: Belum ada petunjuk pembelian beras

papua-protes-petani-merauke
Sejumlah spanduk yang dibentangkan petani saat demonstrasi di depan Kantor Bulog Merauke, beberapa hari lalu – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Merauke, Jubi – Kepala Badan Urusan Logistik (Kabulog) Sub Divre Merauke, Provinsi Papua, Djabiruddin, mengungkapkan pihaknya telah melaporkan kepada pimpinan Perum Bulog, setelah aksi demonstrasi ribuan petani dari sejumlah distrik beberapa hari lalu yang meminta penyerapan beras petani kembali dibuka. Hanya saja sampai sekarang belum ada keputusan.

“Saya hanya menjalankan tugas di sini dan tuntutan petani agar Bulog menyerap beras dan bukan gabah, tak bisa saya putuskan. Karena itu adalah kewenangan Direksi Perum Bulog,” ungkap Kabulog Djabiruddin, saat dihubungi Jubi melalui telpon selulernya, di Merauke-Papua, Rabu (30/9/2020).

Jika sudah ada keputusan dari pimpinan di tingkat atas, lanjut dia, segera disampaikan kepada petani.

“Belum ada petunjuk pembelian beras. Apapun keputusan, tetap saya sampaikan agar para petani mengetahui,” katanya.

Baca juga: Petani desak Kabulog Merauke turun dari jabatan

Dikatakan Djabiruddin, pada April 2020 lalu, sesuai perintah pusat, pihaknya membeli gabah kering giling (GKG) petani dan berhasil didapatkan 177 ton. Selanjutnya bulan Mei, selain pembelian GKG, juga beras.

“Jadi ada dua skema pembelian sekaligus yakni gabah serta beras,” ujarnya.

Loading...
;

Saat itu, menurutnya, para petani melalui mitra, tak lagi menjual gabah, tetapi hanya beras. Memasuki bulan Juli, direksi mengeluarkan perintah lagi agar hanya gabah diserap. Dari situlah, petani sudah tak menjual gabah sampai sekarang.

Untuk harga gabah, di tingkat petani dibeli Rp 4.300/kg. Sedangkan saat masuk di gudang Bulog Merauke Rp 5.300.

Sugeng, seorang petani dari Kampung Muram Sari, mengungkapkan kekecewaannya karena Bulog tak melihat secara jeli akan jerih payah petani yang telah mengola lahan hingga memanen dengan mengeluarkan biaya besar, namun akhirnya tak bisa menjual hasil.

“Terus terang sampai hari ini, gabah menumpuk di rumah-rumah, karena Bulog belum membuka kesempatan melakukan pembelian beras,” katanya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top