Follow our news chanel

Previous
Next

Jemaat Ndugama berkabung tiga hari atas kematian misionaris Kanada, Pdt. Adriaan Van Der Bijl

papua-nduga-berkabung
Bupati Nduga Yairus Gwijangge saat menyampaikan kesan dan pesan tentang Pdt. Adriaan Van Der Beijl di hadapan jemaat di Keneyam, ibu kota Kabupaten Nduga – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Jemaat dari berbagai denominasi di Kabupaten Nduga (Ndugama), Papua merasa kehilangan atas kematian misionaris perintis, Pendeta Adriaan Van Der Bjil, yang meninggal di Kanada pada Kamis (20/8/2020) waktu setempat, dalam usia 90 tahun karena sakit.

Kepergian sosok pembawa injil, pendidik, dan dokter bagi jemaat Kabupaten Nduga itu dihormati jemaat dari seluruh denominasi gereja di Ndugama dengan melakukan ibadah syukur selama tiga hari, Jumat (21/8/2020) sampai Minggu (23/8/2020) di Keneyam, ibu kota Kabupaten Nduga.

“Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk melepaskan dia dari pergumulannya dan membawanya ke rumah kekal di mana tidak ada lagi kesedihan atau tangisan. Dia sekarang bersukacita dengan Yesus dan semua orang Nduga yang ada di sana, menari dan melompat dan memuji Tuhan,” kata Dany Heluka, jemaat asal Ndugama, via pesan singkat kepada Jubi, di Kota Jayapura-Papua, Rabu (26/8/2020) malam, menirukan pesan keluarga Pdt. Adriaan dari Kanada, Adriaan Elfrieda Vander Bijl.

Dia melanjutkan, “Ndugamende mencintaimu, keluarga Nduga-nya sangat dan selalu berbicara tentang kembali bersamamu. Dia ingin Anda semua mengenal Yesus seperti yang dia lakukan, dan bertemu Anda semua di Surga untuk dipersatukan kembali ketika Tuhan memanggil Anda pulang. Ndugamende adalah berkah yang luar biasa dalam semua hidup kami. Dia adalah contoh dari kehidupan yang dijalani dengan baik dan menginspirasi kita untuk terus berjalan bersama Yesus.”

Baca juga: Warga Ndugama gelar ibadah syukur mengenang almarhum Adriaan Van De Biljl

Pendeta Bertha Kogoya Murib S.Pdk menjelaskan kisah Pendeta Vander Belj saat pertama kali melayani jemaat di Ndugama. Pendeta Van Der menginjakkan kaki pertama kalinya di Papua pada 1960 dan bermisi di Deiyai. Dia merintis sekolah Vervolgschol (VVS) di sana. Pada 31 Oktober 1963 beliau berjalan kaki ke Mapenduma.

Sesampainya di Nduga, jemaat menyampaikan kepada rombongan misionaris ini bahwa jemaat di Nduga seperti anak yatim piatu. Kemudian tahun 1963 di Pyramid digelar konferensi besar dan diputuskan bahwa Pdt. Adriaan dan istrinya Elfrieda Vander Bijl diutus untuk mengabarkan injil dan menjadi orangtua bagi orang Nduga.

Loading...
;

Setelah mendengar keputusan tersebut Pdt. Adriaan Vander Bijl melakukan survei di Nduga selama dua hari, mulai 13 September 1963 dengan pesawat MAF (Mission Aviation Fellowship) dan kembali ke Tigi, Meepago. Setelah itu dia menjadi perintis untuk wilayah Nduga hingga pensiun dan meninggal dunia dalam usia 90 tahun di Kanada.

“Mereka (jemaat Nduga) senang sekali menerima dia (Pdt Van Der Bijl). Dengan sukacita yang besar, tarian besar (meriah). Mereka menerima dan memutuskan untuk membuat lapangan (terbang),” kata Pendeta Bertha Kogoya.

Bupati Nduga-Papua, Yairus Gwijangge, memberi kesaksian bahwa Pdt. Van Der Bjil sebagai sosok yang mencerdaskan orang-orang Nduga. Dia adalah presiden untuk orang Nduga, guru, dosen, bahkan dokter.

Pasalnya, Pdt. Van Der Bijl telah menyiapkan banyak orang Nduga untuk menerima injil, dan oleh karenanya mereka memadati Keneyam untuk merelakan kepulangannya ke Tanah Air Surgawi dengan ibadah selama tiga hari. Dia mengatakan, jemaat tidak perlu bersedih karena toh kelak jemaat dapat bertemu Pdt. Van Der Bljl di dalam kerajaan surga.

“Van Der Bijl datang ke sini untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa, dari ikatan marabahaya,” kata Yairus Gwijangge. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top