Follow our news chanel

Kemenag akan upayakan penegerian sekolah swasta

papua-dirjen-bimas-katolik-kemenag
Rombongan Dirjen Bimas Katolik Menag RI dijemput dengan suka cita saat melakukan kunjungan kerja ke SMAK Aweidabi, Deiyai, Papua - Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Deiyai, Jubi – Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil)Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua, Pendeta (Pdt) Amsal Yowei, menyatakan tengah berupaya mengubah status sekolah swasta menjadi sekolah negeri.

“Ada empat SMAK dan empat SMTK di Papua yang kami sedang mengusulkan proses penegerian melalui program Kita Cinta Papua yang akan direalisasikan pada tahun 2021. Salah satu sekolah yang sudah melakukan pengajuan proses penegerian adalah SMAK Aweidabi Deiyai,” jelas Pdt Amsal Yowei, saat mendampingi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia (Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI), Yohanes Bayu Samodro, mengunjungi Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) Aweidabi Deiyai, Provinsi Papua, Jumat (23/10/2020) pekan lalu.

Sementara itu, Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI, Yohanes Bayu Samodro, menyampaikan semua keluhan maupun kebutuhan dari sekolah akan dijawab pihaknya sesuai keadaan dan kesanggupan kementerian maupun direktorat.

“Tugas Bapak dan Ibu sekalian (dari SMAK) adalah menyiapkan dokumen proposal secara tertulis dan selalu meminta pertolongan dan bantuan dari Tuhan,” kata Yohanes Bayu Samodro, dalam pertemuan itu.

Kedatangan Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI dan Kakanwil Kemenag Papua merupakan satu penghargaan besar bagi keluarga besar SMAK Aweidabi Deiyai. Pasalnya tak semua sekolah swasta tidak dikunjungi.

Baca juga: “Kita Cinta Papua”: Slogan memusnahkan orang asli Papua

Ditemui terpisah, Kepala SMAK Aweidabi Deiyai, Anton Badii, mengatakan beberapa hal menjadi kebutuhan utama di sekolah yakni asrama putra dan putri menjadi fokus utama pihaknya karena banyak siswa yang datang dari daerah jauh untuk bisa melanjutkan pendidikan di SMAK Aweidabi Deiyai.

Loading...
;

“Sebab sekolah tidak menyediakan tempat tinggal untuk siswa. Selain itu, kami masih membutuhkan ruang belajar. Jurusan IPS dan IPA sudah dibagikan namun kami masih kewalahan dengan ruang belajar. Selain itu, kami masih membutuhkan ruang kepala sekolah. Sebab selama ini kepala sekolah tidak ada gedung atau ruang tersendiri, sehingga ketika ada tamu ataupun tentang administrasi kami kewalahan karena masih bergabung dengan para guru,” ujar Anton Badii kepada Jubi, Selasa, (27/10/2020).

Ia mengatakan pihaknya sangat membutuhan laboratorium sebagai tempat berlatih para siswa. “Laboratoium yang kami butuhkan adalah laboratorium IPA serta laboratorium komputer yang dilengkapi dengan sarana atau peralatan,” katanya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top