TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Komoditas pertanian terdampak banjir dan longsor di Kota Jayapura

Papua-Pasar Hamadi
Pedagang komoditas pertanian di Pasar Sentral Hamadi, Kota Jayapura saat melayani pembeli - Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sejumlah komoditas pertanian seperti bawang merah, bawang putih, dan sayur ikut terdampak banjir dan longsor di wilayah Kota Jayapura, Provinsi Papua, yang terjadi pada Kamis (7/1/2022).

“Contohnya bawang merah yang tadinya kami beli Rp28.000 per kilogram [kotor] tiba-tiba naik menjadi Rp30.000 per kilogram,” ujar seorang pedagang komoditas pertanian di Pasar Sentral Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Roy Peday, Senin (10/1/2022).

Menurut Peday, bawang merah naik bukan karena stoknya yang langka (secara nasional), namun bawang merah yang dijual pedagang di Pasar Youtefa ikut terendam banjir sehingga ketersediaannya berkurang.

“Saya beli bawang di Pasar Youtefa, rata-rata bawang milik pedagang dan distributor terendam banjir. Bawang dari Surabaya. Sudah tiga hari naik. Satu kilonya kalau sudah bersih saya jual Rp50 ribu sebelumnya Rp45 ribu,” ujar Peday.

Selain bawang merah, komoditas yang ikut terdampak banjir dan longsor di ibukota Provinsi Papua itu, yaitu bawang putih dan sayur-mayur. Rata-rata kenaikannya Rp5 ribu per kilogram dan Rp3 ribu satu ikat sayur.

“Bawang putih sekarang saya jual Rp45 ribu satu kilo, kalau sayur kangkung misalnya, dari pengambilan Rp4 ribu satu ikat, saya jual Rp7 ribu. Tomat sekarang Rp17 ribu satu kilo dari sebelumnya Rp14 ribu. Mudah-mudahan banjir dan longsor ini cepat teratasi karena mempengaruhi penjualan juga,” ujar Peday.

Baca juga: BMKG rilis peringatan dini terjadi hujan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Bonggo Papua

Ungkapan senada juga disampaikan seorang pedagang sayuran, Siska Pekey, yang mengaku harga sayur seperti kangkung naik drastis akibat banjir dan longsor.

“Sayur beli di langganan saya di Youtefa, satu ikat saya beli Rp5 ribu dan saya jual Rp10 ribu. Tapi sejak banjir beberapa waktu lalu saya sempat jual diharga Rp15 ribu satu ikat karena lahan petani sayur terendam banjir sehingga susah panennya dan menjadi berkurang, makanya harganya mahal,” ujar Pekey.

Pekey berharap harga sayu kembali normal karena mempengaruhi penjualannya. Selain harganya yang mahal ditambah lagi warga kurang datang berbelanja, apalagi jalanan licin dan banyak yang sedang membersihkan rumah mereka bagi yang terkena banjir.

“Normalnya bisa jual sampai 150 sampai 200 ikat setiap hari tapi sudah tiga hari ini kurang penjualannya. Sudah sampai siang saya baru jual 20 ikat. Saya berharap kondisi kembali pulih, dan jalan-jalan juga segera ditangani agar memudahkan warga terutama bagi yang datang datang belanja di pasar,” ujar Pekey. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us