TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Korban banjir bandang di pengungsian kembali tanyakan bantuan rumah

Korban Banjir Bandang Sentani, Papua
Pengungsi korban banjir bandang Sentani di Kampung Toladan, Kabupaten Jayapura, saat mendapatkan pelayananmedis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lanny Jaya. - Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Hingga dua tahun pasca banjir bandang Sentani yang terjadi di Kabupaten Jayapura, Papua, pada 16 Maret 2019, masih banyak korban banjir bandang yang tinggal di tenda atau rumah yang tidak layak karena rusak berat. Para korban itu masih menantikan bantuan dari pemerintah.

Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Yayasan Budha Tzu Chi telah membangun 300 unit rumah di Kampung Kemiri, Sentani. Akan tetapi, ada banyak korban lain yang juga kehilangan rumah, dan belum mendapatkan bantuan rumah. Mereka tinggal terpencar di sejumlah lokasi pengungsian.

Di lokasi pengungsian korban banjir bandang di Polomo, masih tinggal 319 orang pengungsi, termasuk 10 orang bayi, 83 orang perempaun, 88 anak-anak, dan 75 orang remaja. Koordinator pos pengungsi di Jalan Pasir Sentani, Eko Kogoya saat ditemui pekan lalu menyatakan masih ada 80 keluarga masih tinggal di pengungsian Jalan Pasir, termasuk tiga orang lanjut usia dan empat orang janda.

Ambas Kogoya, koordinator pos pengungsian korban banjir bandang di Kampung Toladan, Sentani yang ditemui pekan lalu menuturkan sejumlah 22 keluarga masih bertahan di lokasi pengungsian Kampung Toladan. Di antara mereka, termasuk empat orang bayi dan 16 orang anak-anak.

Baca juga: Korban banjir bandang: Banyak pihak ambil data, tapi bantuan tidak ada

Kony Kreuta, yang menangani para pengungsi di Pasar Rakyat Doyo Baru, menuturkan saat ini hanya sembilan orang yang masih tinggal di pengungsian. Akan tetapi, Kreuta menyatakan 37 pengungsi yang meninggalkan Pasar Rakyat Doyo Baru kini tinggal di rumah yang tidak layak yang mereka dirikan pasca banjir bandang 16 Maret 2019.

Kreuta menuturkan, warga yang meninggalkan pengungsian di Pasar Rakyat Doyo Baru masih hidup dalam kondisi yang tidak layak, namun tidak lagi mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Awal kami tinggal di pasar, bantuan datang, paling banyak dari kabupaten Keerom dan Kota Jayapura. Bantuan dari Pemerintah Kabupaten Jayapura dan posko di depan Toko Adi, itu ada beberapa kali kami dapat. Setelah berjalan enam bulan, sudah tidak ada lagi perhatian dari Pemerintah Kabupaten Jayapura, jadi kami cari hidup sendiri,” jelas Kreuta saat ditemui pada Jumat (9/4/2021).

Kreuta juga mengeluhkan banyaknya pendataan pengungsi yang dilakukan oleh sejumlah instansi pemerintah, namun tanpa kepastian soal pemberian bantuan. Padahal, menurutnya Pemerintah Kabupaten Jayapura sudah berjanji memberikan bantuan pembangunan rumah bagi para korban banjir bandang yang rumahnya rusak berat atau hilang.

“Pernah dari Pemerintah Kabupaten Jayapura ambil data dan foto rumah, sampai hari tidak ada realisasi [bantuan]. Bantuan rumah yang layak bagi kami juga tidak ada. Kami kecewa, [karena] Pemerintah Kabupaten Jayapura waktu itu datang untuk membantu membangun rumah layak huni, yang penting di lahan sendiri. Kami semua setuju dengan itu. Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda, ini sudah dua tahun,” kata Kreuta.

Baca juga: Korban banjir bandang, Mama Yosena bertahan hidup dengan merajut noken 

Kreuta menyatakan sejumlah pihak dari luar Papua, termasuk dari kalangan gereja di Jawa Barat, pernah menemui pengungsi, dan menanyakan kebutuhan bantuan rumah. Menurut Kreuta, saat itu para pengungsi menjelaskan bahwa pemerintah telah mendata warga yang rumahnya hilang atau rusak berat, dan para korban banjir bandang menyatakan pemerintah akan memberikan bantuan rumah untuk korban.

“Baru kenapa tidak bangun sampai hari ini? Kalau waktu itu [tawaran bantuan rumah] diiyakan [korban banjir bandang], pasti kami sudah tinggal di rumah yang layak, tidak tinggal di pasar. Dana-dana itu ke mana? [Kami mendengar] Kejaksaan Tinggi Papua memeriksa Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Jayapura, itu sampai mana prosesnya? Harus dijelaskan dengan baik,” kata Kreuta.

Sekretaris kelompok pengungsi di Polomo, Yoel Wakur mengatakan pada awal penanganan bencana, ada banyak bantuan dari Pemerintah Kabupaten Jayapura maupun Pemerintah Provinsi Papua. Akan tetapi, hingga kini masih banyak warga yang tinggal di pengungsian, dan bantuan tidak ada lagi.

Wakur menyatakan kondisi para pengungsi di Polomo juga tidak pernah dicek lagi orang pemerintah. “Untuk makan-minum, memang susah saat ini. Sampai sekarang, tidak ada dari dinas yang datang untuk mengecek data. Kami cuma berharap dan menanti respon pemerintah sepeti apa. Kalau memang tidak ada [bantuan lagi], kami juga binggung mau kemana,” jelas Wakur.

Baca juga: Bantuan rumah tidak merata, korban banjir bandang siapkan gugatan hukum

Menurut Wakur, banyak pengungsi di Polomo sudah tidak memiliki rumah lagi, karena rumah mereka hancur saat banjir bandang. “Rumah yang hanyut itu ada 20-an lebih. Yang rusak berat, tembok hancur, itu banyak. Kalau korban jiwa yang meninggal tertimpa pohon dan material malam itu ada 13 orang, baik anak-anak dan orang dewasa,” kata Wakur.

Ambas Kogoya, koordinator pos pengungsi di Kampung Toladan berharap Pemerintah Kabupaten Jayapura menjelaskan mengapa hingga kini bantuan tempat tinggal atau rumah tak kunjung terealiasi.

“Banyak sekali yang datang ambil data, suruh kami berdiri di rumah yang hilang dan hancur. Baru, kapan akan dibangun? Ini sudah dua tahun, tapi tidak ada respon apa-apa. Bantuan juga sudah tidak ada. Jangan permainkan kami, dan jangan ada [diskriminasi bias] suku dalam melihat korban,” tegas Ambas.

Ambas meminta agar aparat hukum seperti Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua turun tangan memeriksa penggunaan anggaran penanganan bencana banjir bandang Sentani. “Kejati harus bongkar persoalan seperti itu. Kami ini sakit sekali, [kami merasa] dimanafaakan seperti itu,” jelasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jayapura, Jhonson Nainggolan mengatakan baru separuh dari 300 rumah yang dibangun Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Yayasan Budha Tzu Chi yang telah ditempati korban banjir bandang. Ia menyatakan pihaknya sedang memvalidasi 2.217 pengungsi banjir bandang itu, untuk menentukan siapa yang akan menempati rumah bantuan di Kampung Kemiri itu.

“Ada 2.217 pegungsi banjir bandang Sentani yang belum divalidasi, untuk nanti kami tempatkan di rumah bantuan itu. [Validasi itu dilakukan] agar mereka yang menempati rumah bantuan itu benar-benar korban banjir bandang. Sebagian rumah bantuan Yayasan Budha Tzu Chi itu sudah ditempati,” kata Nainggolan saat ditemui Jubi di Sentani, pada Senin (12/4/2021). (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us