TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Korban banjir bandang, Mama Yosena bertahan hidup dengan merajut noken 

Korban banjir bandang di Kabupaten Jayapura, Papua
Mama Yosena Tabuni saat merajut noken di pondoknya di Kampung Toladan. Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Peristiwa banjir bandang 16 Maret 2019 masih menyisahkan duka yang mendalam bagi seluruh warga Kabupaten Jayapura, Papua. Setelah dua tahun berlalu sejak peristiwa yang mencekam itu, sebagian warga masih tinggal di pengungsian atau di rumah yang tidak layak.

Mama Yosena Tabuni (40), salah satu warga Kampung Toladan yang juga korban banjir bandang Sentani itu, tahun lalu tinggal di pengungsian bersama warga Toladan lainnya. Saat ini, Mama Yosena tinggal di sebuah pondok yang terbuat dari kayu dan seng bekas serta terpal.

Di pondok tersebut, Mama Yosena hidup sendirian sambil merajut noken dengan bahan baku tali pohon. Mama Yosena juga menyediakan tali pintalannya ini bagi warga lain yang ingin merajut noken. Hasil kerjanya dijual untuk menopang kehidupannya setiap-hari.

Baca juga: Bantuan rumah tidak merata, korban banjir bandang siapkan gugatan hukum

“Begini sudah, sekarang [saya hidup] sendiri. Jadi [saya] hanya menyiapkan tali dan merajut noken untuk dijual,” ujar Yosena Tabuni saat ditemui di pondoknya di Kampung Toladan, Senin (22/3/2021).

Saat ditanyai soal bantuan pemerintah daerah, Mama Yosena mengaku selama setahun terakhir tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah. Namun ia membenarkan pada masa awal pasca bencana banjir bandang, ia menerima bantuan dari pemerintah.

Menurutnya, kini hidupnya benar-benar bergantung kepada pendapatannya merajut dan berjualan noken. “Kalau bahan kulit kayu habis, saya ke hutan lagi, untuk mencari kulit kayu. Bawa ke pondok ini, lalu ditumbuk dan direndam selama empat hari. Setelah itu dijemur. Hasilnya yang dibuatkan jadi benang atau tali untuk merajut sebuah noken,” jelasnya.

Mama Yosena bercerita, hingga kini tak banyak orang yang memesan noken tradisional rajutannya. Untungnya, tali kulit pohon buatannya banyak dibeli kerabatnya, yang juga perajin noken. Namun, pendapatannya memang tak menentu.

“Tidak menentu, biasanya dikasih Rp200 ribu untuk bahan benang dan tali. Kalau noken, biasanya [dihargai] sesuai ukuran. Ada yang Rp300 ribu, yang paling murah Rp150 ribu,” ucapnya.

Baca juga: 2 tahun banjir bandang Sentani, bantuan pemerintah masih dibutuhkan

Mama Yosena tidak memiliki keluarga dekat lagi. Suaminya telah meninggal empat tahun lalu, dua anaknya juga mengalami hal yang sama. Peristiwa banjir bandang menambah kepedihannya, karena rumah tempat tinggalnya hanyut beserta seluruh isinya.

“ Tahun lalu ada bantuan yang datang. Sekarang tinggal tanpa bantuan, bahkan sering kelaparan sehari penuh,” ungkapnya.

Secara terpisah, salah satu pengungi di Kampung Toladan, Ambas Kogoya mengatakan para pengungsi di sana telah menyerahkan data para korban banjir bandang Sentani kepada pemerintah daerah. Menurutnya, ada 22 kepala keluarga di Kampung Toladan yang masih mengharapkan dukungan dan bantuan pemerintah daerah di Papua, baik dalam bentuk perumahan tempat tinggal ataupun sembako.

“Berkali-kali kami bawa data dan dokumen warga ke pemerintah daerah. Mereka [dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah] juga sudah datang survei dan melihat secara langsung kondisi warga di sini. Akan tetapi, belum ada bantuan yang kami dapatkan hingga saat ini,” kata Kogoya. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us