Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Belajar di masa pandemi korona, murid dan ortu lebih senang belajar tatap muka

papua-belajar-online
Seorang siswi kelas III-A SMP Al-Ihsan Yapis Kotaraja, Jayapura-Papua, saat menumpang belajar dengan sistem pembelajaran online di rumah tetangganya - Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Seorang gadis berperawakan tinggi langsing tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan bergegas keluar rumah. Sekitar satu jam sebelumnya, dia tampak serius menekuni handphone miliknya. Dengan wajah yang kelihatan tidak bahagia, gadis itu berjalan menuju rumah tetangga di sebelah rumahnya.

“Belajar di rumah bikin saya bosan. Saya tidak bisa keluar rumah gara-gara korona. Saya tidak bisa bercanda dengan teman-temanku di sekolah yang selalu membuatku bahagia. Apalagi seperti sekarang, (saat sedang belajar) tiba-tiba jaringan gangguan, ini bikin saya pusing. Apalagi tugas-tugas sekolah yang diberikan guru tak ada habisnya. Terpaksa saya harus numpang belajar di rumah tetangga yang punya jaringan internet WiFi“.

Itulah ungkapan hati Wa Ode Murnia, siswi kelas III-A SMP Al Ihsan Yapis Kotaraja, Kota Jayapura, Papua, ketika ditemui Jubi saat numpang belajar online di rumah tetangganya, Rabu, 29 Juli 2020.

Belajar di masa pandemi korona, murid dan ortu lebih senang belajar tatap muka 1 i Papua

Pembelajaran secara daring (dalam jaringan) atau online dari rumah bagi peserta didik tingkat Pendidikan Anak Usia Dini, Taman-Kanak-kanak, Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Pertama di Kota Jayapura, Papua mulai diberlakukan pada 17 Maret 2020, untuk mencegah penyebaran korona.

Sistem pembelajaran online artinya kegiatan belajar mengajar berlangsung tanpa tatap muka antara guru dan murid, melainkan dilakukan dengan sistem pembelajaran jarak jauh dengan bantuan teknologi. Peserta didik tidak diwajibkan atau diharuskan datang ke sekolah untuk melaksanakan aktivitas pembelajaran.

“Kesulitannya (belajar online) awalnya karena belum terbiasa belajar menggunakan aplikasi online. Sekarang saya sudah terbiasa. Penjelasan yang diberikan guru dapat saya terima dengan baik. Kami belajar hanya satu jam,” jelas gadis 14 tahun ini.

Gadis asal Buton, Sulawesi Tenggara, yang akrab disapa Nia ini, mengaku belajar tatap muka lebih mendukung proses belajar mengajar di sekolah daripada harus belajar daring karena tatap muka langsung dengan guru membuatnya lebih fokus.

Loading...
;

“Belajar daring lebih santai. Bagi saya tetap lebih efektif belajar tatap muka karena bisa berinteraksi dengan guru dan teman. Belajar seperti biasa dari Senin-Jumat. Kalau saya maunya belajar di sekolah. Harapan saya semoga aktivitas belajar di sekolah bisa normal lagi,” ujar Nia yang tahun ini meraih peringkat 1 di kelasnya.

Orangtua harus kontrol anak dan keluarkan uang lebih untuk membeli kuota

Wa Ode Nur I Jaya, orangtua siswi di SMP Al-Ihsan Yapis Kotaraja, Jayapura-Papua, awalnya menyambut baik dimulainya tahun ajaran baru 2020/2021. Artinya, aktivitas belajar di sekolah akan mulai diberlakukan lagi. Tapi setelah pertemuan antara orangtua (ortu) murid dengan dewan guru, akhirnya disepakati kegiatan belajar online tetap dilanjutkan karena pertimbangan pandemi Covid-19 di Papua, khususnya di Kota Jayapura yang belum ada tanda-tanda mereda.

Nur I Jaya mengaku sudah merasa jenuh setelah tiga bulan terakhir harus mendampingi anaknya belajar di rumah. Terlebih lagi pekerjaan rumah tangga tak bisa ditinggalkan begitu saja.

“Anak saya juga maunya belajar di sekolah. Tapi sekolah mengumumkan memperpanjang masa belajar dari rumah hingga 2 Agustus 2020. Kecewa juga tapi saya tetap mengikuti semua anjuran pemerintah karena untuk kesehatan anak saya juga,” ujar Nur.

Nur mengatakan kesulitan saat mendampingi anaknya belajar di rumah adalah mengontrol anaknya. Apalagi saat gurunya di sekolah sudah memberikan pemberitahun untuk belajar, ia harus mencari anaknya untuk belajar.

“Belajar di rumah saya akui membuat anak ada aktivitas belajar tapi susah dikontrol juga kalau sudah main sama teman-temannya. Kalau untuk belajar saya selalu dampingi supaya anak saya tidak santai-santai,” ujar Nur.

Selain mengontrol anak, dikatakan Nur, sejak awal diberlakukan belajar online, ia harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli kuota internet untuk kebutuhan belajar anaknya.

“Beruntung ada tetangga saya yang pasang WiFi, jadi kalau kuota habis saya suruh dia belajar di tetangga saja supaya belajarnya lancar,” ujar Nur.

Belajar daring dan kompetensi di bidang teknologi

Di sisi lain, belajar daring dapat meningkatkan efektifitas guru dan peserta didik, khususnya dalam kompetensi di bidang teknologi.

“Saya bersyukur belajar online di sekolah saya berjalan 100 persen. Kami menggunakan aplikasi google class room. Bahkan ulangan harian juga berbasis daring,” ujar Kepala SMP Negeri 1 Jayapura-Papua, Purnama Sinaga.

Dikatakan Sinaga, peserta didik yang tidak mempunyai handphone android, bekerja sama dengan kakak atau orangtua yang memiliki fasilitas tersebut dengan cara dipinjamkan khususnya saat jam belajar atau ujian.

Bila ada anak yang kesulitan fasilitas handphone, mereka diizinkan bisa bergabung dengan temannya yang memiliki pulsa data, misalnya dalam grup paguyuban. Mereka yang memiliki fasilitas WiFi bisa membantu teman-teman di sekitar mereka untuk kerja di rumah yang memiliki fasilitas internet.

“Kami komunikasi dengan orangtua agar mendukung. Kami buat surat edaran supaya orangtua memberikan fasilitas pada jam belajar yang sudah kami buat. Jadi, dampaknya adalah gotong royong,” ujar Sinaga.

Menurut Sinaga, belajar daring akan dijadikan salah satu metode pembelajaran ke depannya. Bahkan untuk penilaian ulangan semester tetap menggunakan sistem online karena sudah dipraktekkan.

“Ini sudah zamannya teknologi. Kami tidak akan kembali, kalau perlu kami tetap pertahankan atau meningkatkan pembelajaran dengan metode daring sehingga peserta didik dan guru di SMP 1 Jayapura paham teknologi,” ujar Sinaga.

Kepala SMP Al-Ihsan Yapis Kotaraja, Jayapura-Papua, Amin Riyati, mengatakan edukasi atau pendidikan harus tetap diperjuangkan dalam urutan pertama demi terwujudnya anak-anak Papua, khususnya di Kota Jayapura, yang cerdas, maju, dan memiliki budi pekerti yang baik.

“Kendala yang kami hadapi, pertama kali belajar di rumah yaitu belum tersedianya sarana dan guru karena belum menyusun jadwal yang tepat menggunakan pembelajaran aplikasi online. Tapi setelah dilakukan sosialisasi, guru menjadi paham dan melaksanakan belajar online dengan baik. Awalnya orangtua pesimis tapi kami yakinkan bahwa pembelajaran online bisa kami lakukan,” ujar Riyati.

Selain itu, dikatakan Riyati, pembiayaan terutama guru honor dalam mendukung pembelajaran online. Selama masa pandemi ini, honor guru yang sebelumnya per jam Rp20 ribu dinaikkan sedikit menjadi Rp25 ribu per jam.

“Dalam sehari satu kelas ada yang satu mata pelajaran (satu jam belajar) dan ada juga dua mata pelajaran (dua jam belajar). Kami tidak membebani siswa terutama jam belajar. Model pembelajaran macam-macam, seperti video, literasi, dijelaskan, dan pemberian tugas. Alhamdulillah, keaktifan siswa 100 persen,” ujar Riyati.

Riyati berharap agar dalam proses belajar secara daring tidak terjadi kendala terutama saat listrik padam. Bagi yang menggunakan internet WiFi sangat terganggu, namun bagi yang menggunakan kuota pulsa pastinya juga terganggu.

“Kalau pembelajaran online masih berlanjut harus dicarikan solusi khususnya kepada pemerintah daerah agar orangtua tidak keluar uang banyak, anak juga tidak stres karena terlalu lama belajar di rumah,” ujar Riyati.

Orangtua damping belajar anak

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura-Papua, Fachruddin Pasolo, mengatakan selama anak-anak belajar di rumah maka orangtua harus mendampingi anak-anaknya sehingga waktu libur menjadi bermanfaat.

“Ada belajar.kemdikbud.go.id/ adalah rumah belajar secara daring. Sudah ada tugas dan materi sehingga tidak mengurangi frekuensi anak belajar karena bisa diakses secara online,” ujar Pasolo.

Menurut Pasolo, keputusan untuk memberlakukan peserta didik belajar di rumah untuk mencegah penyebaran korona. Apalagi imunitas atau katahanan tubuh anak-anak usia sekolah sangat rentan terkena virus yang menyerang saluran pernapasan ini.

“Artinya, keadaan ini masih membutuhkan kesadaran dari semua warga untuk tetap waspada dan meminimalisir kegiatan di luar rumah dan membiasakan diri melakukan kegiatan-kegiatan di rumah seperti aktivitas belajar. Dengan demikian anak memiliki semangat belajar yang tinggi,” ujar Pasolo.

Diakui Pasolo, dampak negatif yang dirasakan oleh peserta didik di tengah pendemi korona adalah tidak semua pelajar memiliki smartphone untuk melakukan belajar online, wilayah yang jauh, jaringan yang tidak stabil terutama saat listrik padam.

Pasolo berharap selama masa belajar di rumah, orangtua selalu menjaga kebersihan lingkungan dan menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, membiasakan mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, dan menghindari keramaian.

“Orangtua, wali murid, dan kepala sekolah perlu menjalin komunikasi secara intensif dengan guru terkait proses pembelajaran jarak jauh untuk memastikan pelayanan pembelajaran di rumah berjalan efektif. Kami tetap mengikuti perkembangan (pandemi) Covid-19 ini terkait aktifnya kembali belajar di sekolah,” ujar Pasolo. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top