TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Bupati Jayapura: Masalah hak ulayat diselesaikan pada tempatnya

Papua-Bupati Jayapura-Mathius Awoitauw
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, saat berdiskusi dengan sejumlah ondofolo - Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, menegaskan persoalan hak ulayat harus diselesaikan pada tempatnya. Menjelang pelaksanaan PON XX di Papua secara khusus di Kabupaten Jayapura, banyak pihak dan oknum masyarakat yang mengatasnamakan ondofolo, suku, dan kelompok-kelompok tertentu yang menuntut ganti rugi atas lahan dimana fasilitas PON dibangun.

Bupati Mathius Awoitauw menjelaskan persoalan tersebut harus diselesaikan di dalam rumah adat (obhe) secara mufakat dengan setiap keret, marga, sebagai pemilik hak ulayat bersama ondofolo. Cara seperti ini yang harus dilakukan agar jati diri kita sebagai masyarakat adat tetap terjaga dengan baik.

“Dalam pertemuan bersama sejumlah Ondofolo Sentani Timur di Obhe Heram Asei, mereka (ondofolo) marah dengan kelakuan anak-anak muda yang tidak menyelesaikan persoalan hak ulayat pada tempatnya,” jelas Bupati Awoitauw, usai memimpin pertemuan bersama sejumlah ondofolo di Heram Ohei Obhe, Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (16/8/2021).

Dikatakan Awoitauw, sebenarnya para ondofolo dari Kampung Asei, Nendali, Ayapo, dan Kheleblouw, serta Kampung Puai sangat siap dan mendukung penuh pelaksanaan PON XX di Papua, khususnya di Kabupaten Jayapura.

“Sebelumnya persoalan seperti ini sudah kami sepakati bersama di obhe, bahwa koordinasi dan komunikasi kita tetap berjalan terkait hak ulayat mereka. Kesepakatan awal secara bersama yang digunakan, sehingga saat ini ketika ada aksi-aksi pemalangan fasilitas PON Papua, tidak direspons,” kata Awoitauw.

“Komitmen dan dukungan pada awal pertemuan sebelum pelaksanaan Pesta Olahraga Nasional ini yang kami (pemerintah) pegang. Karena itu dasarnya, yang menyampaikan secara lisan dan tertulis adalah ondofolo, masyarakat dibawahnya harus patuh dan tidak boleh bikin gerakan tambahan lagi,” tegasnya.

Pertemuan hari ini, kata Awoitauw, semua Ondofolo di Distrik Sentani Timur memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan PON XX, Peparnas XIV, dan Kongres Masyarakat Adat Nusantara yang berlangsung di Kabupaten Jayapura.

“Prosesi arak-arakan api PON akan melewati Danau Sentani, dari barat ke tengah dan finish di Distrik Sentani Timur, diarak dengan adat istiadat masyarakat Sentani. Oleh sebab itu setiap kegiatan apapun yang dilakukan oleh pemerintah daerah harus melibatkan masyarakat adat,” kata Awoitauw.

“Adat istiadat sebagai jatidiri kita, tetap terawat dan dijaga serta diangkat ke permukaan. Iven sekelas PON, penyambutannya dilakukan berdasarkan adat istiadat dan budaya lokal. hal ini merupakan kebanggaan kita bersama sebagai masyarakat Indonesia dari Papua dan lebih khusus lagi Bumi Khena Mbai Umbai Kabupaten jayapura,” imbuhnya.

Baca juga: Tokoh adat Sentani Timur siap sukseskan PON Papua

Sementara itu, Ondofolo Kampung Ayapo, Enos Deda, menjelaskan setiap ada persoalan terkait hak ulayat harus diselesaikan di dalam obhe. Orang yang menyelesaikan persoalan hak ulayat di luar obhe, berarti oknum masyarakat tersebut sama sekali tidak berbudaya dan tidak memiliki adat istiadat. Karena adat dengan segala pengetahuannya menjadikan manusia di bumi ini menjadi beradab, memiliki sopan santun, dan saling menghargai satu sama lain.

Lanjut Enos, PON XX ini bisa terjadi dan dilaksanakan di Kabupaten Jayapura adalah hal yang luar biasa. Sebagai masyarakat pemilik negeri ini harus berterima kasih kepada pemerintah daerah, bahwa ada berkat yang datang melalui penyelenggaraan PON XX Papua.

“Harusnya kita mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan, bahwa Pekan Olahraga Nasional dilaksanakan di Kabupaten Jayapura, secara khusus di Sentani Timur. Semua masyarakat harus menyambut baik dan memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan iven nasional ini. Kita juga tidak tahu, apakah ada iven seperti ini untuk kedua kalinya dilaksanakan di Papua. Oleh sebab itu, kesempatan ini jangan disia-siakan,” pungkasnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending


Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us