Masyarakat adat Awyu Boven Digoel tolak perusahaan kelapa sawit

papua-hutan-boven-digoel
Hutan di Boven Digoel, Papua pada 2018. Foto oleh Ulet Ifansasti untuk Greenpeace - Jubi/geckoproject.id

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Nabire, Jubi – Masyarakat adat Suku Awyu di Boven Digoel, Provinsi Papua menolak kehadiran beberapa perusahaan kelapa sawit di daerah itu.

Kepala Suku Awyu, Egidius P Suam, mengatakan sukunya menolak  dengan tegas kehadiran beberapa perusahaan sawit di wilayah hak ulayatnya. Hal itu lantaran ia tidak menginginkan hutannya rusak, sebab hutan adalah tempat mencari makan bagi sukunya.

“Kami dengan tegas menolak, sebab hutan itu tempat kami cari makan dan berkebun. Ada pohon sagu di sana, kalau dihancurkan pasti anak cucu kami akan kelaparan, dan 20 tahun ke depan manusia dan hutan akan punah,” kata Suam via selulernya kepada Jubi di Nabire, Kamis (29/10/2020).

Suam mengatakan sebagai kepala suku ia juga tidak terima cara masuknya perusahaan sawit, sebab mereka (perusahaan) tidak melalui lembaga adat, kepala suku, atau pemilik hal ulayat. Akan tetapi, perusahaan masuk melalui oknum yang mengatasnamakan pemilik hal ulayat dengan cara-cara tidak terpuji.

Belum lagi, kata Suam, yang menjadi korban saat ini adalah Suku Awyu. Cara perusahaan masuk di lahan ulayat tidak beretika, yakni masuk kerja dulu kemudian urusannya belakangan.

“Kami tolak, sebab saya prediksi 20 tahun ke depan manusia dan hutan semua punah. Tidak ada sopan santun, tidak permisi, tapi kerja dulu baru bicara,” kata Suam dengan nada kesal.

Lanjutnya, kata Suam, contoh lain yang tidak beretika adalah seperti PT. Indo Asiana Lestari, yang pernah menyampaikan visi misi kepada masyarakat namun tidak diizinkan untuk menanggapi, masyarakat dilarang bertanya, protes, atau menolak.

Loading...
;

Seharusnya, menurut Suam, orang Indonesia memiliki etika. Bahwa ini adalah tanah dan hak ulayat Suku Awyu, sehingga bila masuk perusahaan harus ada koordinasi, minta permisi, boleh atau tidak lahan digunakan. Namun perusahaan tersebut sama sekali tidak menghargai pemilik hal ulayat.

“Dalam sosialisasi menggunakan sistem kekerasan. Kami tidak boleh melawan, kalau melawan eksekusi mati. Ini yang bilang adalah perwakilan perusahaan dalam mediasi. Dia juga mantan anggota Polri yang suka pakai kekerasan. Yang bicara ini orang manajer perusahaan, dia mantan polisi, sedangkan bos besarnya itu orang Malaysia. Jadi saya mau bilang bahwa kami tolak, titik,” tandasnya.

Pemerhati lingkungan Boven Digoel, Vincent Karowa, mengatakan lahan-lahan di wilayah selatan Papua itu sudah dipatok sejak tahun 2012, 2013, hingga 2017.  Ada pula yang tidak. Keseluruhan luas lahan adalah PT Korindo menguasai 81.246 hektar perkebunan kelapa sawit dan konsesi HPH seluas 462.600 hektar. PT Menara Group menguasai 280.000 hektare perkebunan kelapa sawit serta PT Merauke Rayon Jaya menguasai 206.800 hektar untuk HTI.

Selain itu ada juga PT Indo Asiana Lestari, PT Graha Kencana Mulia, PT Kartika Cipta Pratama, dan PT Megakarya Jaya Raya seluas areal 39.190 ha.

“Selain tumpang tindih area, terdapat beberapa izin yang sampai saat ini belum jelas. Misalnya AMDAL, Izin Usaha Perkebunan, Izin Pelepasan Kawasan Hutan, Hak Guna Usaha, serta laporan berkala perkembangan kemajuan kegiatan setiap tiga bulan sekali,” kata Vincent Karowa.

“Kami sudah memiliki beberapa data. Bahkan ada beberapa perusahaan yang izinnya sudah dicabut oleh pemda,” imbuhnya.

Menurutnya ayah satu anak ini, sejak masuknya perusahaan, masyarakat  tidak tahu menahu terutama pemilik hak ulayat. Sedangkan perusahaan masuk melalui beberapa oknum yang mengatasnamakan suku dan warga dan difasilitasi perusahaan untuk mengklaim sebagai pemilik hal ulayat.

“Makanya pemilik hal ulayat dengan tegas menolak masuknya perusahaan, mengingat hutan sebagai sumber penghidupan. Kedua adalah pemilik hal ulayat ingin bertemu perusahaan dan bukan oknum yang mengatasnamakan pemilik ulayat. Soal apakah diterima atau tidak itu urusan nanti,” pungkas Karowa. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top