Follow our news chanel

Previous
Next

Melawan lupa, AMDAL Freeport dan warga Kampung Omawita

papua-tambang-Grasberg
Masa tambang terbuka Grasberg dari 1988 sampai 2015 telah berakhir. Kini tambang bawah tanah mulai dikerjakan selama 15 tahun ke depan - Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Keluhan warga Kampung Omawita di Kabupaten Mimika, Papua telah terjadi puluhan tahun lalu, sekitar tahun 1990-an, terutama ketika adanya peningkatan produksi tambang. Akibatnya, buangan sisa pasir tambang alias tailing melalui sungai membuat sedimentasi yang meluas.

Tak heran, kala itu warga di Kampung Omawita mengeluh telah terjadi perubahan warna mollusca jenis tombelo, siput, dan kerang berubah warna bintik-bintik hitam dan rasanya pun ikut berubah.

Hal ini diakui pula oleh masyarakat Suku Kamoro dan Sempan. Masyarakat di Kampung Omawita termasuk dalam suku Sempan. Keluhan yang sama pula dialami sepertiga penduduk di Kali Kopi dan Kampung Fanamo yang mencari mollusca di kawasan sungai Aijkwa dan Minarjerwi.

Pasalnya, bagi masyarakat lokal suku Kamoro dan Sempan di dataran rendah Kabupaten Mimika, tombelo (Bactrophorus thoracites dan Bankia orcuti) adalah sumber protein bagi mereka. Kedua jenis tombelo ini biasanya digunakan sebagai makanan pembuka pada pesta-pesta adat Karapao yang diselenggarakan oleh suku Kamoro.

Tombelo juga diyakini sebagai obat penawar rasa sakit sebagai obat malaria, batuk, sakit pinggang, flu, dan untuk meningkatkan nafsu makan. Khusus bagi ibu yang menyusui tombelo dapat memperlancar produksi air susu ibu (ASI), sedangkan bagi kaum lelaki tombelo sering digunakan sebagai obat untuk meningkatan stamina kejantanannya alias obat kuat.

Banyaknya manfaat dari mollusca terutama tombelo yang dimakan mentah oleh masyakarat suku Kamoro dan Sempan di dataran rendah Mimika membuat masyarakat mengeluh saat terjadinya sedimentasi dari ribuan ton tailing.

Apalagi sebagian besar kawasan wilayah muara dan pantai Mimika merupakan kawasan mangrove termasuk dalam wilayah kerja PT Freeport Indonesia. Dalam kawasan ini diketahui bermukim sekitar ribuan tercatat sekitar 1990-an terdapat 3000 penduduk suku Kamoro dan suku Sempan.

Loading...
;

Kehidupan sehari-hari suku Kamoro dan suku Sempan sangat tergantung pada sumber daya alam di sekitarnya untuk berburu, meramu sagu, dan menangkap ikan. Filosofi hidup mereka sungai, sampan, dan sagu alias masyarakat 3S (sungai, sampan, dan sagu).

Pendangkalan sungai-sungai akibat sedimentasi karena buangan sisa pasir tambang tidak hanya menyebabkan penduduk kehilangan sumber pangannya, mereka juga kehilangan identitasnya sebagai manusia sampan (perahu).

Kehidupan mereka sehari-hari seakan hilang begitu saja tanpa kabar apalagi ganti untung. Padahal rantai makanan di kawasan estuary Mimika sudah terputus dan sulit untuk diperbaiki lagi atau menyambung kembali rantai makanan tersebut.

Memang PT Freeport pernah melakukan dialog dengan masyarakat lokal termasuk melibatkan tim peneliti dari Institut Pertanian Bogor, Unipa, dan LSM YALI Papua untuk meneliti kawasan estuary di Kabupaten Mimika.

Jurnalis Jubi pernah ikut meliput dalam diskusi dan dialog di sebuah hotel di Timika dengan masyarakat Omawita dan  Departemen Envronmental Freeport kala itu. Hasil dialog ketika itu telah memutuskan LSM di Jayapura YPMD Papua untuk mendampingi masyarakat di Kampung Omawita (Agustus 1999).

Produksi meningkat dan dampak

Sejak 1973 hingga 1987, PT Freeport sudah mengolah batuan yang terkandung mineral tambang sekitar 16.000 ton per hari, saat itu cadangan bijih, terutama dari cebakan Erstberg diperkirakan sekitar 100 juta ton.

Selanjutnya pada 1988 ditemukan lagi cadangan terbesar di Grasberg, deposit emas dan tembaga diperkirakan 200 juta ton. Bahkan jumlahnya membengkak sampai 2,5 sampai 3 miliar ton.

Produksi ini berasal dari penambangan terbuka (open pit mining) di Grasberg dan kemudian dikembangkan pula penambangan bawah tanah (under ground mining) di wilayah timur tambang terbuka Ertberg yaitu Intermediate Ore Zone (IOZ) dan Deep Ore Zone (DOZ).

Limbah di sekitar lubang tambang terbuka di lembah Cartenzt, Grabserg Barat, dan Lembah Wanagon. Seluruh proses penambangan hingga pemisahan logam-logam bernilai ekonomi (konsentrat), menghasilkan timbunan batuan limbah (overburden).

Hal ini jelas membuat produksi bijih tambang terus meningkat dari tahun ke tahun. Konsekwensinya pun jumlah limbah ikut bertambah. Tercatat jumlah tailing atau sisa buangan pasir tambang per tahun sekitar 45 juta ton (PT Freeport 1998). Lima persen berupa pasir halus yang tidak mengendap di tanggul, terus terbawa aliran sungai Aijkwa sampai ke Pantai Mimika.

Bahkan sebelum tanggul dibangun, tailing ini juga mengalir ke Sungai Minajerwi (Laporan Studi Mollusca di kawasan Muara dan Pantai Mimika, Agustus 1999).

Dari total bijih yang diperoleh, hanya 3-4 persen menjadi konsentrat yang mengandung emas, perak, dan tembaga. Belakangan diduga ada belerang. Sedangkan sisa lainnya berupa limbah.

Tailing dalam bentuk lumpur (slurry) dibuang dari dataran tinggi melalui sungai Agwahgong, Otonoma, dan Aijkwa dan diendapkan di dataran rendah Aijkwa. Akibatnya, jelas terjadi perubahan habitat flora sub alpine, geoteknik, geokimia, dan geomorfologi termasuk juga perubahan flora terrestrial, biota akuatik, dan kualitas air.

Under Ground Mining

Memasuki era 2000 ini perusahaan tambang asal negeri Paman Sam ini mulai memindahkan peralatan open pit mining ke luar negeri, terutama di Peru, lokasi penambangan lain milik Freeport. Pengiriman alat tambang tersebut dilakukan dengan berakhirnya masa penambangan Grasberg terbuka (open pit dari 1988 sampai era 2000) di wilayah Kabupaten Mimika.

Juru bicara Freeport Indonesia, Riza Pratama, mengatakan dengan berakhirnya operasi penambangan Grasberg open pit, maka sejumlah peralatan tambang terbuka seperti truk tambang berkapasitas besar (haul truck) sudah tak efektif. Pasalnya, Freeport Indonesia kini tengah berkonsentrasi pada pengembangan operasi tambang bawah tanah (underground mining).

“Saya dengar memang ada pengiriman haul truck itu. Grasberg ini memang sebentar lagi akan selesai masanya. Sekarang memang masih berproduksi tapi sudah tahap final atau hampir selesai,” kata Riza, seperti dikutip dari Antara, belum lama ini.

PT Freeport sudah mendapat izin penambangan khusus atau izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sampai 2041 dan akan meneruskan penambangan di lokasi bawah tanah atau under ground mining. Tambang underground mine Freeport berada di sekitar 1.700 meter di bawah permukaan dataran tinggi Grasberg yang setinggi 4.200 meter di ata permukaan laut (mdpl).

Tambang terbuka Grasberg sudah memasuki masa transisi ke tambang underground mine yang sudah dibangun sejak tahun 2015. Cadangan Freeport masih bisa ditambang sampai 15 tahun ke depan karena cadangannya masih ada sekitar 2 miliar ton bijih.

Sekadar catatan jubi.co.id, masa 15 tahun adalah waktu yang sangat singkat, perlu adanya pihak perusahaan menyiapkan rencana pasca tambang. Apalagi masyarakat Omawita sudah merasakan dampak langsung dari sisa pasir tambang. Belum lagi dampak dari “ tambang bawah tanah” di wilayah puncak gunung Nemangkawi Bumi Amungsa. Perlu ada kajian AMDAL yang melibatkan semua pihak agar pasca tambang  jangan sampai Freeport pergi dan yang tersisa Ghost Town alias kota hantu di tanah orang Kamoro dan Bumi Amungsa. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top