Follow our news chanel

Previous
Next

Mimpi bangun gereja terwujud setelah 22 tahun

papua-jemaat-timeri-nafri
Peletakan batu pertama pembangunan gereja Pos Penginjilan (PI) Timeri-Nafri Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) dari Jemaat Bethesda Abepura, Sabtu (17/10/2020) – Jubi/Yuliana Lantipo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Kerinduan Paulus Ubruangge selama 22 tahun lalu kini terwujud. Ketiadaan uang taxi “angkutan umum” tak lagi menjadi masalah bagi Ubruangge dan masyarakat Nduga untuk ke gereja dan beribadah.

MINGGU pagi ini menjadi hari ibadah spesial bagi masyarakat Nduga, khususnya di pemukiman Kampung Timeri-Nafri, setelah sehari sebelumnya, Sabtu (17/10/2020), Pos Penginjilan (PI) Timeri-Nafri Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) dari Jemaat Bethesda Abepura, resmi dibuka di atas lahan seluas 70×90 meter persegi. Jarak dan ongkos angkutan umum yang kerap menghambat kehadiran mereka dalam ibadah Minggu bersama jemaat gereja yang tersebar di Abepura, Waena, hingga Sentani itu tidak lagi menjadi masalah setelah Kepala Suku Taniau melepaskan lokasi tersebut.

Ucapan syukur dan kelegaan terpancar dari wajah Paulus Ubruangge saat mengisahkan impiannya yang baru saja terwujud.

“Kami sangat bersyukur kepada Tuhan karena pergumulan kami sejak tahun 1998 bisa terjadi hari ini,” ujar pria asal Kabupaten Nduga, yang telah menghabiskan lebih dari 20 tahun masa hidupnya di Kota Jayapura, Provinsi Papua.

papua-jemaat-timeri-nafri
Peletakan batu pertama pembangunan gereja Pos Penginjilan (PI) Timeri-Nafri Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) dari Jemaat Bethesda Abepura, Sabtu (17/10/2020) – Jubi/Yuliana Lantipo

Kepada Jubi, Ubruangge yang juga Koordinator Pembangungunan Pos PI tersebut, bercerita. “Dulu itu, kami harus pergi ke Abepura, atau Permunas 3, atau sampai di Sentani, untuk sembayang [di gereja]. Gereja kami ada di sana padahal kami tinggal di sini. Jauh. Kalau ada ongkos taksi [angkutan umum] ya pergi. Tapi biasa juga tidak pergi karena tidak ada ongkos (taksi),” katanya, yang mengaku lebih susah lagi karena akses jalan di Nafri harus ditutup sementara untuk perbaikan, yang mengharuskan mereka menempuh jarak lebih jauh: Jalan Holtekam-Jembatan Merah, untuk ke Kota Jayapura dan sekitarnya.

Sehari-hari mereka berkebun berjualan hasil kebun di Pasar Youtefa, Abepura, Kota Jayapura.

Ubruangge, yang sejak masa mudanya bekerja sebagai pemikul kayu untuk pengusaha asal Sulawesi di Nafri, menjelaskan, seluruh masyarakat yang bermukim di Kampung Timeri-Nafri bekerja sebagai petani di atas lahan milik Suku Taniau.

Loading...
;

“Kepala Suku Taniau kasih izin untuk kami berkebun sampai hari ini. Dan, saya mewakili masyarakat di sini mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang menggerakkan hati Bapak kepala suku buat kami bangun pos PI di sini. Sekarang, kami bisa sembayang di sini. Tidak ada alasan lagi untuk tidak sembayang di gereja karena ongkos. Gereja sudah dekat,” jelasnya kepada Jubi.

Wilayah Nafri dikenalnya dengan baik, begitu pula Kepala Suku Taniau yang mengizinkan Ubruangge dan kerabatnya sebanyak 27 kepala keluarga menggarap lahan untuk berkebun.

Merawat Hutan

Kepala Suku Taniau, Soleman Taniau, yang mewakili Ondoafi Nafri dalam dalam peresmian Pos PI, berkisah lahan yang telah diberikannya kepada bakal jemaat Timeri-Nafri merupakan lokasi perkebunan cokelat yang telah ditanamnya sejak masih muda hingga ia berkeluarga.

Ia pun mengaku sudah sejak lama itu pula, dirinya mengizinkan sesamanya orang asli Papua yang berimigrasi ke Numbay untuk tinggal di sekitar lokasinya dan menggarap lahan untuk berkebun. Hingga datang permintaan pembangunan Pos PI di atas kebun cokelatnya, Taniau mengaku tidak berpikir panjang dan merestuinya.

“Pak Paulus bilang, ‘Bapa, kami mau bangun gereja di sini ini bagaimana?’. Refleks saja saya bilang ‘bangun sudah’,” kata Soleman Taniau, yang juga telah membahas perihal ini kepada keluarganya.

Baca juga: Pembangunan di Kota Jayapura harus perhatikan risiko bencana

Satu saja permintaan sang-kepala suku kepada Ubruangge dan kerabatnya serta masyarakat lainnya yang bermukim di lokasinya.

“Pesan saya bagi saudara dong dari Mapenduma, Yali, Yahukimo. Mari bantu saya jaga hutan yang masih ada ini. Dari sini sampai ke bawah, jaga e… jangan merusak. Ini saja yang kita olah. Silakan kamu berkebun di dataran ini saja, tapi jangan rusak di gunung di atas. Saya tidak minta banyak, hanya ini,” pesannya.

Kerelaan dan permintaan Kepala Suku Soleman Taniau juga disambut hangat Namantus Gwijangge, salah satu putra asli Kabupaten Nduga, yang saat ini menjabat anggota DPR Provinsi Papua.

Gwijangge pun meminta masyarakatnya yang sedang menempati wilayah Nafri tersebut untuk mematuhi permintaan kepala suku dan ikut menjaga harmonisasi hidup bermasyarakat.

“Dan, sebagai wakil rakyat, saya juga meminta kepada para orangtua, tokoh adat, tokoh agama, dan semua masyarakat, khususnyadari Nduga, mari kita jaga dan rawat lingkungan di sini baik-baik. Kepala suku sudah relakan tanahnya untuk bangun gereja, jadi mari kita jaga baik. Juga, jadi tanggung jawab kita sama-sama untuk hidup baik, jaga keamanan pribadi, kelompok, dan lebih luas masyarakat di Kota Jayapura, masyarakat Papua,” imbau Gwijangge. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top